dilematik memang kekerasan demi amar ma'ruf, nahi munkar. saya kira yg membuat  ummat Islam serba salah itu gara2 syaithan taghut yg bernama toleransi! manusia2 penyembah HAM, sama kafirnya dgn penyembah demokrasi.

setuju belajar agama gak boleh saklek, tapi mesti ada pemikiran. setuju nahi munkar tidak boleh diselesaikan dgn kekerasan demi menghormati hukum buatan manusia. bgmn jika dgn peringatan 2-3 kali dgn softly/friendly reminder pd pelaku/berwajib tapi tidak perubahan? sampai mana batasan kekerasan itu 'haram' di mata hukum?

kekerasan atas nama agama? tidak juga sebab hampir semua agama memiliki norma kebaikan & keburukan. hanya kebetulan ummat Islam saja yg berani tampil agresif utk urusan itu. standard ma'ruf & munkar itu tetap harus agama (Islam) yg jadi rujukan sebab disitu jelas apa konsekuensi/hukuman bagi pembuat munkar e.g.: maling-dipotong tangan, zina-dirajam, nyawa-balas nyawa (qishash).

namun bangsa2 kafir sangat mengagungkan taghut/syaithan toleransi, ham dan sejenisnya thd ma'ruf & munkar, mereka lbh suka mengagulkan opini dulu sebelum menilai suatu perbuatan itu diakui baik/buruk. inilah yg disebut pendemokrasian norma kehidupan. tiga serangkai ini juga manifestasi konsep trinitas (ham; yg termasuk di dalamnya emansipasi; toleransi & demokrasi).

Islam menjawab apa akibatnya jika standard kebenaran berdasarkan opini manusia.


a'udzubillahiminasyaithaani rajiim,

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (al-Mu'minuun:71)

saya kira (agama/ummat) Islam ini lebih jadi korban fitnah shg terkesan sbg agama provokator kekerasan. sementara kaum kafir menikmati tuduhan itu thd ummat Islam  shg mereka nampak suci berish dari kekersan, tapi mereka menikmati juga kehidupan yg tertib & bersih dr kemungkaran. cara kerasnya dibesar-besarkan media seolah itulah Islam, sementara hasil manisnya ham, toleransi yg dipertuhankan.

oleh karenanya ummat Islam tidak boleh mengikuti rujukan ttg haq/bathil kecuali pd Qur'an. berulang kali ingatkan ummatnya agar jgn turuti opini kaum kafir ttg 3 (tiga) hal itu kalau tidak ingin dianggap sesat.

silahkan cari sendiri keyword "mengikuti hawa nafsu" dlm Qur'an. hanya ada 2 pilihan bagi kaum muslim yg sdh terjebak kultus 'trinitas' itu: diterima taubatnya dgn kembali pd Islam atw akan terkunci mati hatinya.

Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (an-Nisaa':27)

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi):"Apakah yang dikatakannya tadi" Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. (Muhammad:16)


salam,
Fahru

--- On Thu, 9/11/08, Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [is-lam] MUI: Beragama Terlalu Saklek Tidak Dibenarkan
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Thursday, September 11, 2008, 7:21 PM

Kamis, 11/09/2008 16:19 WIB
MUI: Beragama Terlalu Saklek Tidak Dibenarkan
Ken Yunita – detikNews

Jakarta - Kekerasan dengan mengatasnamakan agama kerap terjadi. Biasanya hal ini terjadi karena pemeluk agama terlalu saklek menginterpretasikan perintah agamanya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar agama tidak dipraktekkan secara saklek.  "Terlalu saklek juga tidak bisa dibenarkan. Kalau mau saklek, juga tetap harus menggunakan akal pikiran," kata Ketua MUI Umar Shihab saat berbincang dengan detikcom baru-baru ini. Berikut petikannya :
Kerap muncul tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam. Yang terakhir misalnya insiden Monas yang kini masuk persidangan. Bagaimana ini, Pak?
Islam tidak pernah mentolelir kekerasan. Apalagi kita tinggal di negara hukum. Kalau ada yang melanggar harus selalu ditindak. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan kezaliman merajalela. Kita juga tidak bisa membiarkan kemaksiatan dibiarkan berlarut-larut.
Dalam bulan puasa ada ormas yang melakukan penyerbuan tempat hiburan. Mengapa bisa seperti itu?
Mungkin bila puasa ada orang-orang menyerbu tempat hiburan malam, itu  karena sudah melapor tapi tetap dibiarkan oleh pemerintah. Jadi kita imbau pemerintah daerah juga lebih memperhatikan.
Tapi apakah dibenarkan tindakan kekerasan dengan dalih untuk membela agama?
Tentu tidak. Tapi kita imbau pemerintah jangan terlalu lama membiarkan kemaksiatan. Orang juga bosan kalau hanya melapor tanpa ditindak. Tapi yang pasti, apapun alasannya, kekerasan tidak bisa dibenarkan.
Karena kekerasan atas nama agama sering terjadi, ada pendapat agar kita beragama secara kritis. Bagaimana menurut MUI?
Terlalu saklek, juga tidak bisa dibenarkan. Sebenarnya sikap toleransi, itu boleh-boleh saja. Kalau mau saklek, juga tetap harus menggunakan akal pikiran. Misalnya kita diwajibkan puasa, tapi kesehatan kita tidak memungkinkan, tapi tetap nekat puasa itu tidak boleh. Kan kita boleh tidak berpuasa jika memang tidak bisa. Yang kedua, membuat intepretasi baru, itu boleh-boleh saja. Itu tidak dilarang asal dengan ketentuan dan memiliki syarat yang ditentukan. Dan itu bisa berbeda-beda dari masa ke masa. Bisa berganti. Tapi untuk hal-hal tertentu, Islam memang bisa saklek. Misalnya, perempuan tidak boleh puasa saat haid. Terus kalau, laki-laki juga minta nggak puasa di waktu tertentu, itu tidak boleh.

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke