mungkin ide mas Nizami itu revolusi jangka panjaaaang ... sekali. dgn persiapkan kader2 muda sekaffah mungkin thd Islam dr skrg utk 'menyusup' ke jajaran birokrasi atw sistem pemerintahan. mungkin juga, tapi realistis gak? sebrp probabilitas berhasilnya?
atuh kenapa gak kaum muslim yg sdh jadi saja yg direkondisikan? 'kan mereka sdh punya modal & tak harus memulai dr awal. kalo itu gak yakin berhasil sesuai cita2, ya apalagi yg statusnya masih kader? ketahui juga, sifat manusia itu punya potensi khianat kecuali derajat wali ke atas. sebagus mental muslim yg tinggal dlm suatu sistem kepemerintahan kafir adlh pembesar di masa Fir'aun di jaman nabi Musa as, termasuk istri Fir'aun sendiri. itupun sprtnya kurang efektif utk merubah sistem. mungkin itu juga ayat bgmn hasilnya jika muslim berusaha merubah keadaan dgn cara menyusup ke dlm sistem (bukan pendobrak). nabi Muhammad SAW adlh kelas revolisioner setlh pengkhiatan ummat selama ratusan sepeninggal Isa as (bukan penyusup). salam, Fahru --- On Sat, 9/13/08, Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [is-lam] MUI: Beragama Terlalu Saklek Tidak Dibenarkan --c| To: [email protected] Date: Saturday, September 13, 2008, 1:16 PM Mas Nizami mungkinkah kita mengikutkan kader Islam yang baik masuk jenjang pendidikan kepolisian atau ABRI, kemudian mereka masih baik akhirnya? Bila jawabannya mungkin, mungkinkah dengan kebaikannya yang masih bertahan ini, ia bisa meraih kekuasan yang membuatnya bisa mewarnai jalannya kebijakan di kepolisian atau ABRI. IMHO, rasanya musykil sekali. Melihat kembali ke tahapan perjuangan Nabi, itu harus dilakukan. Tetapi harus selalu digarisbawahi satu hal, Nabi memulai dari satu dan hanya satu jamaah/organisasi, dan karenanya menghadapi satu dan hanya satu medan perjuangan. Sementara kita, kita mulai dari beragam jamaah/organisasi, beragam state of mind, beragam pilihan spesialisasi, bahkan beragam medan perjuangan. Oleh karena itu, IMHO, menjadi kurang tepat jika kita melihat fenomena nahi munkar yang ada saat ini dalam frame tahapan perjuangan Nabi secara saklek. Kadang kemaksiatan itu menjadi biasa karena tidak ada lagi yang menyinggung-nyinggungnya secara saklek. Contohnya: puluhan orang baik di sebuah bis kota tak mampu menangani 2-3 copet. Semua pura-pura tak tahu kalau ada copet yang sedang beraksi. Yang penting, bukan kita yang sedang dicopet. Contoh yang lain, tentu saja banyak sekali. Salam hangat B. Samparan > -----Original Message----- > From: A Nizami [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Friday, September 12, 2008 9:20 AM > To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected] > Subject: Re: [is-lam] MUI: Beragama Terlalu Saklek Tidak > Dibenarkan --c| > > Pak Fahru, > Untuk itu ummat Islam harus bertindak lebih cerdas > agar amar ma'ruf nahi munkarnya "cantik" dan > sesuai > sunnah Nabi. > > Kita lihat pada zaman Nabi ketika masih lemah, meski > disiksa seperti Bilal yang dijemur di padang pasir > dengan ditindihi batu, namun ummat Islam belum melawan > karena masih lemah. > > Tapi begitu sudah kuat dan jadi penguasa, baru amar > ma'ruf ditegakkan. > > Saat ini saya lihat ummat Islam yang lurus nyaris > tidak ada di kepolisian dan pemerintahan. Sehingga > aliran sesat dan kemaksiatan merajalela. Contohnya > polisi yang mengancam anggota FPI dengan pistol justru > orang Ahmadiyah. > > Untuk itu Muslim yang lurus harus berusaha menguasai > pemerintahan dan kepolisian sehingga segala > kemaksiatan bisa diberantas oleh polisi2 yang berasal > dari muslim yang lurus. > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
