Pak Fahru,
Untuk itu ummat Islam harus bertindak lebih cerdas
agar amar ma'ruf nahi munkarnya "cantik" dan sesuai
sunnah Nabi.

Kita lihat pada zaman Nabi ketika masih lemah, meski
disiksa seperti Bilal yang dijemur di padang pasir
dengan ditindihi batu, namun ummat Islam belum melawan
karena masih lemah.

Tapi begitu sudah kuat dan jadi penguasa, baru amar
ma'ruf ditegakkan.

Saat ini saya lihat ummat Islam yang lurus nyaris
tidak ada di kepolisian dan pemerintahan. Sehingga
aliran sesat dan kemaksiatan merajalela. Contohnya
polisi yang mengancam anggota FPI dengan pistol justru
orang Ahmadiyah.

Untuk itu Muslim yang lurus harus berusaha menguasai
pemerintahan dan kepolisian sehingga segala
kemaksiatan bisa diberantas oleh polisi2 yang berasal
dari muslim yang lurus.

--- AFR <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

> dilematik memang kekerasan demi amar ma'ruf, nahi
> munkar. saya kira yg membuat  ummat Islam serba
> salah itu gara2 syaithan taghut yg bernama
> toleransi! manusia2 penyembah HAM, sama kafirnya dgn
> penyembah demokrasi.
> 
> setuju belajar agama gak boleh saklek, tapi mesti
> ada pemikiran. setuju nahi munkar tidak boleh
> diselesaikan dgn kekerasan demi menghormati hukum
> buatan manusia. bgmn jika dgn peringatan 2-3 kali
> dgn softly/friendly reminder pd pelaku/berwajib tapi
> tidak perubahan? sampai mana batasan kekerasan itu
> 'haram' di mata hukum? 
> 
> kekerasan atas nama agama? tidak juga sebab hampir
> semua agama memiliki norma kebaikan & keburukan.
> hanya kebetulan ummat Islam saja yg berani tampil
> agresif utk urusan itu. standard ma'ruf & munkar itu
> tetap harus agama (Islam) yg jadi rujukan sebab
> disitu jelas apa konsekuensi/hukuman bagi pembuat
> munkar e.g.: maling-dipotong tangan, zina-dirajam,
> nyawa-balas nyawa (qishash). 
> 
> namun bangsa2 kafir sangat mengagungkan
> taghut/syaithan toleransi, ham dan sejenisnya thd
> ma'ruf & munkar, mereka lbh suka mengagulkan opini
> dulu sebelum menilai suatu perbuatan itu diakui
> baik/buruk. inilah yg disebut pendemokrasian norma
> kehidupan. tiga serangkai ini juga manifestasi
> konsep trinitas (ham; yg termasuk di dalamnya
> emansipasi; toleransi & demokrasi). 
> 
> Islam menjawab apa akibatnya jika standard kebenaran
> berdasarkan opini manusia.
> 
> 
> a'udzubillahiminasyaithaani rajiim,
> 
> Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka,
> pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang
> ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan
> kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka
> berpaling dari kebanggaan itu. (al-Mu'minuun:71)
> 
> saya kira (agama/ummat) Islam ini lebih jadi korban
> fitnah shg terkesan sbg agama provokator kekerasan.
> sementara kaum kafir menikmati tuduhan itu thd ummat
> Islam  shg mereka nampak suci berish dari kekersan,
> tapi mereka menikmati juga kehidupan yg tertib &
> bersih dr kemungkaran. cara kerasnya
> dibesar-besarkan media seolah itulah Islam,
> sementara hasil manisnya ham, toleransi yg
> dipertuhankan.
> 
> oleh karenanya ummat Islam tidak boleh mengikuti
> rujukan ttg haq/bathil kecuali pd Qur'an. berulang
> kali ingatkan ummatnya agar jgn turuti opini kaum
> kafir ttg 3 (tiga) hal itu kalau tidak ingin
> dianggap sesat. 
> 
> silahkan cari sendiri keyword "mengikuti hawa nafsu"
> dlm Qur'an. hanya ada 2 pilihan bagi kaum muslim yg
> sdh terjebak kultus 'trinitas' itu: diterima
> taubatnya dgn kembali pd Islam atw akan terkunci
> mati hatinya.
> 
> Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang
> orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud
> supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari
> kebenaran). (an-Nisaa':27)
> 
> Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan
> perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari
> sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi
> ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi):"Apakah yang
> dikatakannya tadi" Mereka itulah yang dikunci mati
> hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu
> mereka. (Muhammad:16)
> 
> 
> salam,
> Fahru
> 
> --- On Thu, 9/11/08, Alkhori M
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [is-lam] MUI: Beragama Terlalu Saklek Tidak
> Dibenarkan
> To: [EMAIL PROTECTED], [email protected],
> [EMAIL PROTECTED],
> [EMAIL PROTECTED]
> Date: Thursday, September 11, 2008, 7:21 PM
> 
> 
> 
> 
>  
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Kamis, 11/09/2008 16:19
> WIB
> 
> MUI: Beragama Terlalu Saklek Tidak
> Dibenarkan
> 
> Ken Yunita – detikNews 
> 
> 
> Jakarta - Kekerasan dengan mengatasnamakan
> agama kerap terjadi. Biasanya hal ini terjadi karena
> pemeluk agama terlalu
> saklek menginterpretasikan perintah agamanya.
> Majelis Ulama Indonesia (MUI)
> mengimbau agar agama tidak dipraktekkan secara
> saklek.  "Terlalu saklek
> juga tidak bisa dibenarkan. Kalau mau saklek, juga
> tetap harus menggunakan akal
> pikiran," kata Ketua MUI Umar Shihab saat berbincang
> dengan detikcom baru-baru
> ini. Berikut petikannya :
> 
> Kerap
> muncul tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama
> Islam. Yang terakhir
> misalnya insiden Monas yang kini masuk persidangan.
> Bagaimana ini, Pak?
> 
> Islam tidak pernah mentolelir kekerasan. Apalagi
> kita tinggal di negara hukum.
> Kalau ada yang melanggar harus selalu ditindak. Tapi
> kita juga tidak bisa
> membiarkan kezaliman merajalela. Kita juga tidak
> bisa membiarkan kemaksiatan
> dibiarkan berlarut-larut.
> 
> Dalam
> bulan puasa ada ormas yang melakukan penyerbuan
> tempat hiburan. Mengapa bisa
> seperti itu?
> 
> Mungkin bila puasa ada orang-orang menyerbu tempat
> hiburan malam, itu 
> karena sudah melapor tapi tetap dibiarkan oleh
> pemerintah. Jadi kita imbau
> pemerintah daerah juga lebih memperhatikan.
> 
> Tapi
> apakah dibenarkan tindakan kekerasan dengan dalih
> untuk membela agama?
> 
> Tentu tidak. Tapi kita imbau pemerintah jangan
> terlalu lama membiarkan kemaksiatan.
> Orang juga bosan kalau hanya melapor tanpa ditindak.
> Tapi yang pasti, apapun
> alasannya, kekerasan tidak bisa dibenarkan.
> 
> Karena
> kekerasan atas nama agama sering terjadi, ada
> pendapat agar kita beragama
> secara kritis. Bagaimana menurut MUI?
> 
> Terlalu saklek, juga tidak bisa dibenarkan.
> Sebenarnya sikap toleransi, itu
> boleh-boleh saja. Kalau mau saklek, juga tetap harus
> menggunakan akal pikiran.
> Misalnya kita diwajibkan puasa, tapi kesehatan kita
> tidak memungkinkan, tapi
> tetap nekat puasa itu tidak boleh. Kan 
> kita boleh tidak berpuasa jika memang tidak bisa.
> Yang kedua, membuat
> intepretasi baru, itu boleh-boleh saja. Itu tidak
> dilarang asal dengan
> ketentuan dan memiliki syarat yang ditentukan. Dan
> itu bisa berbeda-beda dari
> masa ke masa. Bisa berganti. Tapi untuk hal-hal
> tertentu, Islam memang bisa
> saklek. Misalnya, perempuan tidak boleh puasa saat
> haid. Terus kalau, laki-laki
> juga minta nggak puasa di waktu tertentu, itu tidak
> boleh. 
> 
>    
> 
> Alkhori M 
> 
> Alkhor Community 
> 
> Qatar 
> 
>    
> 
> 
> 
>  
> 
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
>
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 
> 
> 
>       >
_______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
>
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 


===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam.wordpress.com


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke