Sampeyan serius banget, yah?

Jangan mangkelan begitu. Gampang ubanan... hehe he he

Kasihan yang lain, yang dunianya di luar milis ini penuh kesumpekan, ruwet
dan ingin mencari oase di arena diskusi ini. Boooring kang, kalau ndak ada
guyonnya. Yah, paling sih orang Surabaya...sing doyan guyon... Ndak usah
terlalu serius, yang penting bobotnya. Tapi ya al-afwu minkum kalau ada
salah paham dengan guyon Suroboyoan saya. Sekali lagi mohon
dimaaf....kan....

 

Sampeyan nulis;

 

Sistematika ilmu dan iman menurut saya tidak bisa disamakan dengan
sistematika hardware dan software komputer.. 

sitem komputer itu mudah dan gampang mas, segalanya bisa diprediksi.

-------------

Saya cuma sekedar mencoba resep "bi lisani kaum" untuk era dan audiens saat
ini. 

 

 

 

Sampeyan nulis lagi;

 

Anda lihat saja dipesantren-pesantren atau di sekolah-sekolah, murid-murinya
belajar dari guru yang sama, membaca buku yang sama, melakukan rutinitas
yang sama, tetapi kemudian mereka mendapatkan hasil yang tidak sama, Ada
yang jadi pemimpin, ada jadi kriminal, ada yang jadi koruptor ada yang jadi
syuhada, bahkan ada juga yang malah jadi sesat. Bagaimana anda bisa
menjelaskan hal-hal seperti itu.

--------------------

Mengenai jenis kelamin dan bentuk rambut mereka, guru-guru dan murid itu,
memang masuk dalam kategori kodrati. Sedang milih mau jadi apa mereka,
berhasil atau tidaknya mereka, baik atau buruk, masuk kategori iradat. Saya
tidak bisa menganggap bahwa mekanisme "Rencana Allah" dalam menyentuh mereka
sesederhana seperti apa yang sampeyan yakini. Ingat "innaLLoha khoirul
maakiriin"....  Pakde Bango Samparan punya metode pendekatan yang, dalam
ukuran saya, cukup bagus soal ini.

 

Semua dari Allah itu pasti! Ndak sedikitpun tersirat saya menafikan hal
tersebut. Tetapi pendekatan kita memang berbeda. Saya tidak sedang berusaha
men-saya-kan anda. Pun saya kira anda tidak sedang berusaha mewarnai saya.
Kita sama-sama ketemu di rumahnya mbah Isnet ini untuk tujuan baik; kelola
yang ada dan cari tambahan untuk memperbaiki. Kalau ternyata juga bisa
menghibur, wah itu daya tariknya....

 

 

Sampeyan nulis lagi;

 

Sampeyan juga mengarahkan dialog kepada hal-hal yang tidak saya maksudkan
seperti : Kita tidak pakai insting saat berusaha agar bisa baca al-Qur'an,
tetapi kita butuh iman saat melangkahkan kaki menuju tempat mengaji" 

Saya tidak pernah bilang begitu, saya hanya bilang bahwa isting itu datang
dari ALLAH, bukan sesuatu yang terjadi karna low-bat, atau terjadi secara
otomatis akibat suatu keadaan. 

Itu malah lebih mengarah kepada paham evolusionis, saya sedikitpun tidak
apriori terhadap pemahaman seperti itu. 

Sedangkan untuk membahas tentang insting binatang saja tidak akan cukup
waktu 1 tahun, bagaimana hewan-hewan bisa melakukan ini dan itu, dan itu
jelas tidak karna alasan low-bat.

-------------------

Saya benarkan bahwa insting memang datangnya dari Allah swt. tetapi saya kan
ya ndak bisa menyamaratakan segala hal yang datang dari-Nya dalam level yang
sama. Insting itu hewani. Hubungannya dengan diskusi kita adalah bahwa; akan
halnya para malaikat bertanya adalah karena ilmu. Nah ilmu itu lalu dipakai
menganalisa. Apa yang dianalisa? Ya keadaan bani Adam setelah diciptakan.
Apakah ilmu yang Diberikan-Nya itu berupa informasi? Saya mau tahu. Ataukah
karena pengalaman? Saya juga sedang nanya.

 

Kalau sebelum Adam as. ditanya soal nama-nama itu terlebih dahulu diberi
ilmu yang wujudnya informasi, itu saya tahu. Ada nash-nya. Tetapi kalau
Gusti Allah lebih dulu memberi informasi gambaran masa depan bani Adam
kepada para malaikat sebelum "inni jaa'ilun fil ardhi kholifah". Tolong saya
dikasih tahu. 

 

 

Nuwun;

Tejosuroso

 

p/s: al-Ghazali setuju pada konsep kodrat-iradat a la Abu Hasan al'Asy'ari.
Dia sudah menguji pendapat-pendapat itu dan hasilnya bagus. Baca al-Ihya'
Ulumuddin.

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke