Yah.. homeschooling kan sekolah juga kan ya.... kan ada "school" nya he-he-he...
Btw, homeschooling rata-rata masih mahal boss, apalagi kayak Huges. Begitu juga dgn model sekolah yg di saung-saung sawah itu. Memang terlihat lebih ideal metode dan situasi pembelajarannya, akan tetapi utk tingkat kelanjutannya akan temui kerepotan lantaran terdapat missing-link dengan kurikulum baku dari depdiknas; siswa tetap harus ikuti ebtanas berikut materi2 baku ala depdiknas, dlsb. Tapi saya punya penilaian yg hampir mirip dgn sampeyan mengenai kualitas pendidikan anak-anak skrg. Kasarnya ya terasa seperti pelan-pelan ada proses de-humanisasi gitu deh. :) Wassalam -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Harry Sufehmi Sent: Thursday, February 19, 2009 12:02 PM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Biaya Pendidikan Memang Mahal, Kalau Perlu Uang Pangkal 100 Juta ...RE: Mahalnya Masuk UI? - Uang Pangkal Rp 33 Juta danKuliah Rp 15 Juta/Tahun Sekolah itu sebetulnya tidak penting :-) karena sekolah bukan jaminan kesuksesan. Banyak juga yang drop-out tapi justru sukses. Kolega senior saya dulu tidak lulus SMA. Tapi ilmu komputernya JAUH diatas saya, dan karena itu dia bisa berada di posisi senior. Yang JAUH lebih penting adalah pendidikan dari orang tua. Karena di sekolah tidak diajarkan hal-hal seperti : # Cara mengatur keuangan pribadi / keluarga # Suasana kantor, dan trik-trik untuk sukses berkarir (office politics, etika, dst) # Cara bergaul dengan orang lain : pergaulan di sekolah JAUH berbeda dengan di "dunia nyata" . contoh: beda umur satu tahun di sekolah sudah cukup untuk menjadikan kita sebagai "senior". Di dunia sehari-hari? Kadang ada orang yang lebih tua 30 tahun dari kita namun memanggil kita "Bapak Fulan" - atau kebalikannya. # Bagi wiraswastawan - seluk beluk dunia bisnis: mengatur cashflow, prinsip2 bisnis, etika pedagang, trik2 sukses, dst Betul tidak ? :-) Sayangnya, sekarang ini SANGAT merata mindset / pola pikir bahwa "pendidikan anak = urusan sekolah", dan kemudian orang tua tidak mau tahu lagi apapun mengenainya. Akibatnya? Lulus sekolah anak kita belum tahu SECUIL pun mengenai dunia sehari-hari. Dia cuma bisa kaget menemukan kenyataan bahwa dunia "nyata" berbeda total dengan dunia "sekolah"-nya dulu. Padahal umurnya ketika lulus kuliah sudah 21 tahun - di Amerika tahun 60-an saja (juga di Indonesia dulu) umur segini rata-rata sudah pada menikah dan karirnya sudah lumayan stabil. Sekarang ? Baru mengalami "culture shock" :-) Pengalaman pribadi :-) dan juga kawan-kawan saya yang lainnya. Jadi sekarang saya selalu pesan kepada teman-teman yang masih muda, sekolah itu asal lulus saja tidak apa. Kalau bisa nilainya bagus tentu memang lebih bagus, tapi kalau lulusnya pas-pasan pun tidak apa. Yang lebih penting adalah segera secepat mungkin memahami dunia. Misal: magang, kerja paruh waktu, membantu bisnis keluarga, dst. Jadi ketika selesai kuliah, sudah tidak kaget lagi. Dan tidak memulai dari nol lagi. Disini hal-hal seperti homeschooling bisa sangat membantu, karena bisa lebih disesuaikan dengan minat dan bakat dari anak ybs. Sekolah, di lain pihak, cenderung membuat anak kita menjadi standar saja. Malah kadang bisa memusnahkan bakat spesial yang ada pada anak kita. Salam, HS _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
