Saya pernah menjadi "dosen" /pengajar juga, dan masalah terbesar kita adalah rusaknya mental anak-anak kita pada saat ini.
Mindset mereka sekarang kebanyakan hanya pada FUN. Mungkin karena pengaruh media, semuanya mendorong kepada hedonisme. Sedangkan dari orang tua mereka tidak ada counter / usaha untuk menetralisir nya. Sehingga jadinya ya begitu. Anak-anak murid jadi pada pasif. Dan yang paling menyedihkan, NALAR / logika mereka tidak berfungsi ! Ini lumayan kentara karena saya mengajarkan computing, yang perlu banyak bermain logika. Mas Bango yang mengajar matematika mungkin juga mengalami hal yang serupa. Siswa saya pada memuji bahwa saya membawakan materi dengan sangat menarik, namun tetap saja mereka pusing tujuh keliling dan kesulitan untuk memahaminya. Saking prihatinnya, saya sampai membuat topik Logika di blog saya: http://harry.sufehmi.com/archives/category/logika/ I blame ourselves. Kita perlu untuk merawat anak-anak kita dengan lebih baik lagi. Termasuk melindungi / menumbuhkan daya tahan mereka dari hal-hal yang bisa merusak potensi internal mereka. Anyway, pemerintah sekarang sudah mengalokasikan 20% anggaran untuk Pendidikan. Ini, dari segi budget, sangat luar biasa. Mudah2an militer tidak cemburu karenanya :) dan mudah-mudahan ini bisa diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas SDM para guru kita juga. Salam, HS On 2/19/09, Alkhori M <[email protected]> wrote: > Terpaksa yg ini ikut nimbrung, tapi tulisan saya ini sedikit agak SOMBONG > (tapi jujur dan sebenarnya terjadi), tapi jangan diambil sisi negatif-nya > tapi ambil pesan dibaliknya. Sewaktu saya sekolah dulu, namanya masih > calculus, kemudian berganti nama matematika. Hebatnya matematika ini ada > dari Mat-1 hingga Mat-7. Nah pengajarnya sangat menarik sehingga menimbulkan > minat utk belajar. Dari Mat-1 hingga Mat-7 cukup sekali saya Ujian dan tak > pernah mengulang. Sehingga saat itu banyak rekan rekan yang belajar bareng > dengan saya. Saya sangat senang akan matematika karena pengajarnya lulusan > USA sangat menguasai masalah. Mat-1 adl Diff & Integ, Mat-2 hingga Mat-7 > adalah integral yang cascade ada inegral grs dst dst hingga bisa mencari > macam macam volume. Karena cara beliau mengajarkan memang membuat kita > tertarik akan matematika. Sehingga ada lagi sekarang methode matematika > dibuat semacam permainan dan bisa menjadi game yg menarik. Jadi saya bisa > lulus matematika hanya sekali ujian saja dengan nilai rata rata A atau B > tiada lain karena pengajarnya bisa menimbulkan kita jadi tertarik. Yang saya > maksudkan ada kesan SOMBONG, tapi itu adalah kenyataan yg saya utarakan. > Kalau seandainya pengajarnya tidak menarik, mungkin saya tidak berminat > dengan calculus karangan Thomas ada juga yg Kaplan. Jadi jgn diambil yg > SOMBONG-nya tapi pesanya jadilah dosen matematika yang bisa menimbulkan > minat mahasiswa untuk mau kuliah matematika. > > Alkhori M > Alkhor Community > Qatar > > -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[email protected]] > On Behalf Of Bango Samparan > Sent: Thursday, February 19, 2009 12:40 PM > To: [email protected] > Subject: Re: [is-lam] Biaya Pendidikan Memang Mahal,Kalau Perlu Uang Pangkal > 100 Juta ...RE: Mahalnya Masuk UI? - Uang Pangkal Rp 33 Juta danKuliah Rp 15 > Juta/Tahun > > Wah kalau semua dilihat sebagai komoditas, ya jatuhnya jadi mahal tho:-) > Lihat TK,SD,SMP,SMA IT. Kalau ada PT IT, saya yakin juga akan selangit. > > Saya yang jadi pengajar sudah 15tahun saja masih bingung kok memikirkan soal > pendidikan. Pendidikan tetap misteri buat saya. > > Baru-baru ini saya ngajar semester pendek (gaya pendidikan yang nggak bener > juga), matakuliahnya matematika II. Wah, mahasiswanya samasekali nggak minat > sama matematika, jadi hal-hal mendasar saja harus diulang-ulang, sampai saya > pusing sendiri:-) Pendekatan kurikulum mengharuskan mereka lulus matakuliah > ini. Tapi, kalau saya gunakan standarnya, yakin deh, sampai bertelur, tak > akan lulus itu mahasiswa, padahal matakuliah wajib. Akhirnya, saya > menurunkan standar. Salah juga kan. Tapi misterinya, apa matematika II akan > menentukan sukses mereka, sehingga saya harus mati-matian menegakkan > standar. > > Fenomena di atas sebetulnya menunjukkan lemahnya pendidikan dengan > kurikulum. Tapi, apa mau di kata pendekatan pendidikan kita memang berbasis > kurikulum bukan minat. > > Kasus Hitler juga menunjukkan misteri pendidikan. Konon dia diprihatinkan > gurunya karena memiliki kecenderungan menjadi seniman, sebuah masa depan > yang tak terlalu dianggap saat itu. Eh, tahunya ... jadi seperti itu dia. > Well, namanya pendidikan kok tidak mampu melihat potensi anak dan > mengarahkan ke arah yang benar. > > Salam hangat > B. Samparan > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam > _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
