Wah kalau semua dilihat sebagai komoditas, ya jatuhnya jadi mahal tho:-) Lihat
TK,SD,SMP,SMA IT. Kalau ada PT IT, saya yakin juga akan selangit.
Saya yang jadi pengajar sudah 15tahun saja masih bingung kok memikirkan soal
pendidikan. Pendidikan tetap misteri buat saya.
Baru-baru ini saya ngajar semester pendek (gaya pendidikan yang nggak bener
juga), matakuliahnya matematika II. Wah, mahasiswanya samasekali nggak minat
sama matematika, jadi hal-hal mendasar saja harus diulang-ulang, sampai saya
pusing sendiri:-) Pendekatan kurikulum mengharuskan mereka lulus matakuliah
ini. Tapi, kalau saya gunakan standarnya, yakin deh, sampai bertelur, tak akan
lulus itu mahasiswa, padahal matakuliah wajib. Akhirnya, saya menurunkan
standar. Salah juga kan. Tapi misterinya, apa matematika II akan menentukan
sukses mereka, sehingga saya harus mati-matian menegakkan standar.
Fenomena di atas sebetulnya menunjukkan lemahnya pendidikan dengan kurikulum.
Tapi, apa mau di kata pendekatan pendidikan kita memang berbasis kurikulum
bukan minat.
Kasus Hitler juga menunjukkan misteri pendidikan. Konon dia diprihatinkan
gurunya karena memiliki kecenderungan menjadi seniman, sebuah masa depan yang
tak terlalu dianggap saat itu. Eh, tahunya ... jadi seperti itu dia. Well,
namanya pendidikan kok tidak mampu melihat potensi anak dan mengarahkan ke arah
yang benar.
Salam hangat
B. Samparan
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam