Terpaksa yg ini ikut nimbrung, tapi tulisan saya ini sedikit agak SOMBONG
(tapi jujur dan sebenarnya terjadi), tapi jangan diambil sisi negatif-nya
tapi ambil pesan dibaliknya. Sewaktu saya sekolah dulu, namanya masih
calculus, kemudian berganti nama matematika. Hebatnya matematika ini ada
dari Mat-1 hingga Mat-7. Nah pengajarnya sangat menarik sehingga menimbulkan
minat utk belajar. Dari Mat-1 hingga Mat-7 cukup sekali saya Ujian dan tak
pernah mengulang. Sehingga saat itu banyak rekan rekan yang belajar bareng
dengan saya. Saya sangat senang akan matematika karena pengajarnya lulusan
USA sangat menguasai masalah. Mat-1 adl Diff & Integ, Mat-2 hingga Mat-7
adalah integral yang cascade ada inegral grs dst dst hingga bisa mencari
macam macam volume. Karena cara beliau mengajarkan memang membuat kita
tertarik akan matematika. Sehingga ada lagi sekarang methode matematika
dibuat semacam permainan dan bisa menjadi game yg menarik. Jadi saya bisa
lulus matematika hanya sekali ujian saja dengan nilai rata rata A atau B
tiada lain karena pengajarnya bisa menimbulkan kita jadi tertarik. Yang saya
maksudkan ada kesan SOMBONG, tapi itu adalah kenyataan yg saya utarakan.
Kalau seandainya pengajarnya tidak menarik, mungkin saya tidak berminat
dengan calculus karangan Thomas ada juga yg Kaplan. Jadi jgn diambil yg
SOMBONG-nya tapi pesanya jadilah dosen matematika yang bisa menimbulkan
minat mahasiswa untuk mau kuliah matematika.

Alkhori M
Alkhor Community
Qatar

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Thursday, February 19, 2009 12:40 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Biaya Pendidikan Memang Mahal,Kalau Perlu Uang Pangkal
100 Juta ...RE: Mahalnya Masuk UI? - Uang Pangkal Rp 33 Juta danKuliah Rp 15
Juta/Tahun

Wah kalau semua dilihat sebagai komoditas, ya jatuhnya jadi mahal tho:-)
Lihat TK,SD,SMP,SMA IT. Kalau ada PT IT, saya yakin juga akan selangit.

Saya yang jadi pengajar sudah 15tahun saja masih bingung kok memikirkan soal
pendidikan. Pendidikan tetap misteri buat saya.

Baru-baru ini saya ngajar semester pendek (gaya pendidikan yang nggak bener
juga), matakuliahnya matematika II. Wah, mahasiswanya samasekali nggak minat
sama matematika, jadi hal-hal mendasar saja harus diulang-ulang, sampai saya
pusing sendiri:-) Pendekatan kurikulum mengharuskan mereka lulus matakuliah
ini. Tapi, kalau saya gunakan standarnya, yakin deh, sampai bertelur, tak
akan lulus itu mahasiswa, padahal matakuliah wajib. Akhirnya, saya
menurunkan standar. Salah juga kan. Tapi misterinya, apa matematika II akan
menentukan sukses mereka, sehingga saya harus mati-matian menegakkan
standar.

Fenomena di atas sebetulnya menunjukkan lemahnya pendidikan dengan
kurikulum. Tapi, apa mau di kata pendekatan pendidikan kita memang berbasis
kurikulum bukan minat.

Kasus Hitler juga menunjukkan misteri pendidikan. Konon dia diprihatinkan
gurunya karena memiliki kecenderungan menjadi seniman, sebuah masa depan
yang tak terlalu dianggap saat itu. Eh, tahunya ... jadi seperti itu dia.
Well, namanya pendidikan kok tidak mampu melihat potensi anak dan
mengarahkan ke arah yang benar.

Salam hangat
B. Samparan

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke