--- On Sun, 3/8/09, Mawan Sugiyanto <[email protected]> wrote:

> assalamu alaikum warhmatullah

wa alaaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu

> sebenernya kalo dinar emasnya masih dikurskan kembali ke
> rupiah atau ke usd ya berarti kita masih mengakui sekaligus
> menggunakan sistem uang seperti sekarang. 

Sejauh pemahaman saya ya begitulah mas. Kalau mau tidak seperti itu ya emas 
harus menjadi standar moneter. Untuk implementasi lokal, rupiah dilenyapkan dan 
diganti dengan dinar.

Tapi kalau sudah begitu nilai dinar pun bisa mengalami inflasi/deflasi sebagai 
mana halnya rupiah. Hal yang sangat sulit dibayangkan oleh mereka yang tidak 
belajar ekonomi moneter:-)

> sehingga nilai uang tidak ditentukan di meja perundingan,
> ketika hari ini terima gaji 20 juta rupiah, karena krisis
> besok sudah gak bisa beli motor jepang, gara2 dolar naik
> jadi 20 ribu. benar-benar selain tidak fair juga merupakan
> bentuk penghisapan nyata pada keringa2 pekerja. 

Perundingan yang mana mas? Saya kasih contoh: kurs rupiah terhadap ringgit 
adalah sekitar 1 ringgit = 3.325 rupiah. Mengapa kok bisa begitu? Dalam 
konstelasi global Ina dan Malaysia kan menghadapi rezim ekonomi yang sama, 
kapitalisme pencilakan yang lurahnya adalah Amerika (USD), tetapi mengapa 
posisi Malaysia lebih baik dari Ina.

Saya tidak anti standar emas, tapi kalau cara menyajikannya simplifikasi, orang 
malah tidak tertarik:-) Apalagi, ujung-ujung ternyata hanya jualan emas tetap 
sebagai komoditi. Tidak heran mas Fahru juga bertanya:

> jujur saja, saya penasaran dgn label dinarnya yg wujud emas
> kepingan 22 karat 4.25 gr.
> namun ada sanksi juga akan seperti "gold quest".
> saya bukan korban itu, tertarik pun tak 
> bukan karena nilainya yg mengikut "valas" harga
> emas dunia. tapi utk mendukung gerakan
> pen-tradisi-an dinar/dirham utk transaksi, kira2 sejauh apa
> ya di pemerintah INA ini berniat, 
> berinisaitif utk mengganti kertas dgn logam itu?

Masyarakat rupiah tuh sudah sering menderita karena harga-harga kita dikaitkan 
ke dolar Amerika, sekarang penderitaan mereka mungkin akan bertambah karena ada 
yang mulai mengkaitkan harga-harga dengan dinar. Ada yang bilang salah sendiri 
tidak minta gaji dalam dinar. Ya Allah mas:

Gaji saya tuh Rp 1.000.000, misalnya kurs dinar Rp. 100.000, maka gaji saya 10 
dinar. 10 Dinar ini kan ya langsung habis atau malah kadang kurang. Jadi apa 
untungnya gaji dinar untuk saya. Dinar itu hanya menguntungkan untuk mereka 
yang punya gaji lebih, sehingga bisa menabung.

Lha kalau saya pas kurang dan saya juga harus hutang dalam dinar, maka saat 
saya harus mengembalikan dan harga emas sedang naik, saya juga bertambah 
bebannya. Rp. 1.000.000, saya kan juga akan turun nilai dinarnya tho mas.

Weh, majikan saya itu ya pinter kok mas, tidak mau mematok gaji saya absolut 10 
dinar. Kalau saya maksa-maksa, dia bilang cari aja mas kerja lain yang mau 
mbayar pakai dinar seperti itu:-)

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuhu

Warm regard
B. Samparan


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke