Mumpung para pakar pada ngrumpi duit, ane pernah denger ada himbauan jika mo
bikin amrik cepet koleps ya dengan tidak menggunakan transaksi pake dollar
tetapi pake mata uang euro. Apa bener begitu boss? Ane samsek gak ngerti
blass neh... swear... :)


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Sunday, March 08, 2009 9:18 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Dinar Emas Sebagai Alat Jual-Beli di Indonesia --c|


--- On Sun, 3/8/09, Mawan Sugiyanto <[email protected]> wrote:

> assalamu alaikum warhmatullah

wa alaaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu

> sebenernya kalo dinar emasnya masih dikurskan kembali ke
> rupiah atau ke usd ya berarti kita masih mengakui sekaligus
> menggunakan sistem uang seperti sekarang. 

Sejauh pemahaman saya ya begitulah mas. Kalau mau tidak seperti itu ya emas
harus menjadi standar moneter. Untuk implementasi lokal, rupiah dilenyapkan
dan diganti dengan dinar.

Tapi kalau sudah begitu nilai dinar pun bisa mengalami inflasi/deflasi
sebagai mana halnya rupiah. Hal yang sangat sulit dibayangkan oleh mereka
yang tidak belajar ekonomi moneter:-)

> sehingga nilai uang tidak ditentukan di meja perundingan,
> ketika hari ini terima gaji 20 juta rupiah, karena krisis
> besok sudah gak bisa beli motor jepang, gara2 dolar naik
> jadi 20 ribu. benar-benar selain tidak fair juga merupakan
> bentuk penghisapan nyata pada keringa2 pekerja. 

Perundingan yang mana mas? Saya kasih contoh: kurs rupiah terhadap ringgit
adalah sekitar 1 ringgit = 3.325 rupiah. Mengapa kok bisa begitu? Dalam
konstelasi global Ina dan Malaysia kan menghadapi rezim ekonomi yang sama,
kapitalisme pencilakan yang lurahnya adalah Amerika (USD), tetapi mengapa
posisi Malaysia lebih baik dari Ina.

Saya tidak anti standar emas, tapi kalau cara menyajikannya simplifikasi,
orang malah tidak tertarik:-) Apalagi, ujung-ujung ternyata hanya jualan
emas tetap sebagai komoditi. Tidak heran mas Fahru juga bertanya:

> jujur saja, saya penasaran dgn label dinarnya yg wujud emas
> kepingan 22 karat 4.25 gr.
> namun ada sanksi juga akan seperti "gold quest".
> saya bukan korban itu, tertarik pun tak 
> bukan karena nilainya yg mengikut "valas" harga
> emas dunia. tapi utk mendukung gerakan
> pen-tradisi-an dinar/dirham utk transaksi, kira2 sejauh apa
> ya di pemerintah INA ini berniat, 
> berinisaitif utk mengganti kertas dgn logam itu?

Masyarakat rupiah tuh sudah sering menderita karena harga-harga kita
dikaitkan ke dolar Amerika, sekarang penderitaan mereka mungkin akan
bertambah karena ada yang mulai mengkaitkan harga-harga dengan dinar. Ada
yang bilang salah sendiri tidak minta gaji dalam dinar. Ya Allah mas:

Gaji saya tuh Rp 1.000.000, misalnya kurs dinar Rp. 100.000, maka gaji saya
10 dinar. 10 Dinar ini kan ya langsung habis atau malah kadang kurang. Jadi
apa untungnya gaji dinar untuk saya. Dinar itu hanya menguntungkan untuk
mereka yang punya gaji lebih, sehingga bisa menabung.

Lha kalau saya pas kurang dan saya juga harus hutang dalam dinar, maka saat
saya harus mengembalikan dan harga emas sedang naik, saya juga bertambah
bebannya. Rp. 1.000.000, saya kan juga akan turun nilai dinarnya tho mas.

Weh, majikan saya itu ya pinter kok mas, tidak mau mematok gaji saya absolut
10 dinar. Kalau saya maksa-maksa, dia bilang cari aja mas kerja lain yang
mau mbayar pakai dinar seperti itu:-)

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuhu

Warm regard
B. Samparan


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
 

__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature
database 3909 (20090305) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com
 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke