Hi.. hi.. hi... Tapi mong-ngomong soal "mikir" ni ya saya punya pengalaman keblangsak dirumah. Anak saya yg kecil itu kan super bawel ya, pokoke cerewet abis dan apa aja suka diceritakan ke ortu. Suatu saat saya kasih komentar : dik kamu kalo ngomong gak pake mikir ya? apa kamu nggak capek tuh.. Eeh dia malah mbalas : bapak juga begitu, kalo mikir nggak pake mulut. Dari tadi baca dieeeemm aja, dieeemmm aja!
Alamak, ini pasti Mama nya yg ngajarin. Sorry Ma, utek lagi ribet ni, ajak anak-anak ngobrol dulu lah... -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Bango Samparan Sent: Wednesday, March 11, 2009 12:31 PM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] Dinar Emas Sebagai Alat Jual-Beli di Indonesia --c| --- On Wed, 3/11/09, A Nizami <[email protected]> wrote: > Yang lucu itu sampeyan mas Bango. > Saya rasa anda cukup cerdas dalam hal menetapkan satu > harga. > Misalkan ongkos mendapatkan emas dan tembaga di tambang > Freeport Papua itu sama (mis: Rp 10 ribu/gram). Tapi nilai > emas dan perak itu kan beda. > > Apa harus disamakan? > > Sepertinya antum terlalu semangat berdebat tanpa berpikir > lebih dulu. Memang saya kalau ngomong nggak pakai mikir kok mas:-) Madzhab saya memang berpikir amburadul. Lha kalau orang jualan barang yang harus dipakai untuk menentukan harga, nilainya atau ongkos produksinya? Cobalah tengok-tengoklah ekonomi mikro, kalau perlu yang islamic micro economics:-) Biar panjengenan tambah serius berpikir tentang apa sih sebenarnya riba itu? Panjenengan kalau sudah pro sesuatu, tampaknya terus sukar menerima sudut pandang lain mas, kecuali tentu saja yang senada. Salam hangat B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
