> Lha kalau gitu pakai normal profit aja mas. Dihitung-hitung saja biaya > seluruh faktor produksi/unit barang.
Kelupaan - dalam perhitungan profit kami biasanya ada persentase untuk pengembangan usaha. Ini didasari pada semangat dari hadits Nabi saw "barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk orang yang merugi," dst. Karena kita juga perlu ingat; the only constant is change. Jika kita terlena saja dengan yang sudah ada, sudah senang atau (na'udzubillah) merasa bangga/sombong dengannya; maka ya musti siap-siap kena libas oleh masa dan umat yang lainnya. Salam, HS On 5/2/09, Bango Samparan <[email protected]> wrote: > Lha kalau gitu pakai normal profit aja mas. Dihitung-hitung saja biaya > seluruh faktor produksi/unit barang. > > Misalnya: > Tenaga kerja: 1.000 > Kapital: 1.000 > Bahan2: 1.000 > Listrik & sejenisnya: 1.000 > Transportasi: 1.000 > dll.: 1.000 > > Nah barang dihargai saja 6.000, wis rampung. Di ekonomi konvesional dan > ekonomi islam, patokan seperti itu dianggap paling adil, biasanya > dikonsepkan sebagai AR=P=MR=MC. > > Nih, teori banget, dalam praktek ya bisa diproxy dengan berbagai gaya. > > Salam hangat > B. Samparan _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
