makasih mas... tengkyu atas pertimbangannya.
kayaknya saya memang butuh penegasan saja sebetulnya ini.
Selama ini memang wilayah seperti ini selalu saya hindari, tapi skrg  
ketika hrs memutuskan sendiri malah jadi gamang. wis..wis.. payah  
memang.

:)
salam hangat



On May 2, 2009, at 3:34 PM, Bango Samparan wrote:

>
> Lha kalau gitu pakai normal profit aja mas. Dihitung-hitung saja  
> biaya seluruh faktor produksi/unit barang.
>
> Misalnya:
> Tenaga kerja: 1.000
> Kapital: 1.000
> Bahan2: 1.000
> Listrik & sejenisnya: 1.000
> Transportasi: 1.000
> dll.: 1.000
>
> Nah barang dihargai saja 6.000, wis rampung. Di ekonomi konvesional  
> dan ekonomi islam, patokan seperti itu dianggap paling adil,  
> biasanya dikonsepkan sebagai AR=P=MR=MC.
>
> Nih, teori banget, dalam praktek ya bisa diproxy dengan berbagai gaya.
>
> Salam hangat
> B. Samparan
>
>
>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke