Selamat beraktifitas kembali Sdr. Agung, saya sendiri belakangan tidak begitu aktif.
Langsung saja saya tanggapi pendapat anda : *Kalau memang demikian teori dari Agama Budha saya bisa mengerti, dan tentunya dari unsur Tridharma yang lain seperti Tao, dan Konghucu mempunyai teori yang berbeda dengan teori tersebut, sehingga teori tersebut tidak bisa dikatakan sebagai teori dari Tridharma, dan kalau ada yang menanyakan hal tersebut mungkin yang beragama Budha yang harus menjawab pertanyaan tersebut. Kalau menurut Agama Tao yang saya tahu, manusia bila terlahir kembali, tetap akan menjadi manusia, tidak akan menjadi hewan. Dan kalau seseorang telah bisa menjadi Dewa, dengan sendirinya pada saat di Dunia beliau-beliau banyak berjasa dan telah mencapai kesempurnaan. *Tentang manusia yang meninggal kemudian arwahnya menjadi hantu, yang saya tanyakan apakah setelah menjadi hantu bisa melompat menjadi Dewa/Budha tanpa melalui tumimbal lahir melalui manusia/yang lain dulu? Salam. TDL <Menurut Budhisme, setiap indvidu memiliki karmanya sendiri. Terlahir kembali menjadi hewan/setan/dewa adalah suatu kesunyataan krn merupakan proses tumimbal lahir. Jadi, apanya yg hrs dianggap memalukan? Kalau ada seseorg mendapatkan kesempatan menjadi Buddha/Bodhisatva/Dewa, tidak berarti sanak saudaranya juga harus mendapatkan kedudukan yg terhormat dlm ajaran agama (tdk seperti seorg pejabat publik di jaman sekarang, seluruh keluarganya juga harus dikontrol secara sosial oleh masyarakat). Malahan ada contoh yg lebih "parah" dari ayahnya Kwan Im Posat. Pernahkan Anda perhatikan Ksitigarbha Bodhisatva (Tee Cong Ong Posat) dlm Buddha Mhayana selalu digambarkan disertai oleh seekor anjing? Dikisahkan anjing iu dlm kehidupan sebelumnya adalah Ibu dari Sang Bodhisatva. Krn perbuatan karma buruknya sendiri, beliau terlahir kembali sebagai seekor anjing. Sang Bdhisatva krn mengetahui keadaan ibunya ini lalu berusaha menolong ibunya krn mengingat budi baik sang ibu kepadanya. Jdi, dgn pengertian pada konsep tumimbal lahir, saya tetap berpegang pada tulisan saya di email sebelumnya. Kalau toh hal ini diekspose oleh pihak tertentu untuk mendiskreditkan ajaran TriDharma, usaha yg paling mungkin, walaupun tdk mudah, untuk dilakukan adalah dgn menjelaskan konsep tumimbal lahir ini kepada mereka. Masalah penjelasan bisa diterima/tidak, itu sangat tergantung kepada motivasi mereka apakah mereka berniat utk studi banding dgn dasar saling menghormati keyakinan umat beragama lain, atau mereka berniat mendiskreditkan keyakinan umat beragama lain. <Kembali ke konsep tumimbal lahir, jawabnya : adalah bisa. Terlahir kembali menjadi hantu adalah bagian dari proses. Setelah karma buruknya habis, individu tsb akan terlahir kembali di alam lain. Individu yg pada suatu masa terlahir di alam hantu, tdk bisa dicap seterusnya akan menjadi hantu. Dlm konsep Buddhisme, kalau proses mencapai Ke-Buddha-an kita ibaratkan lomba lari 100 meter, setiap makhluk di alam semesta ini memiliki kans yg sama utk berlomba mencapai garis finish (mencapai kesempurnaan). Ada yg sudah mencapai 10 meter, 5 meter, 90 meter ataupun baru 10 cm. Terlahir kembali di alam yg lebih tinggi diibaratkan mencapai kemajuan, sebaliknya terlahir kembali di alam yg lebih rendah, berarti malah mengalami kemunduran. Baik maju ataupun mundur ada cm jarak yg harus ditempuh. Tidak ada yg lompat dari jarak 10m langsung ke finish. Ada urutan jarak yg harus dilalui meter demi meter untuk menuju ke 100 meter. Mudah-mudahan penjelasan saya bisa Anda mengerti. Mohon maaf kalau ada yg kurang tepat/berkenan. Saya juga akan senang sekali kalau di antara rekan-rekan ada yg mengulas dlm sudut pandang Taoisme. Salam damai Agung --------------------------------------------------------------------- Milis Kelenteng - Quan Shui URL: http://lists.quanshui.org Posting, email: [EMAIL PROTECTED] Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
