*Masalah pertama saya setuju dengan anda, asal jangan sampai kita ini takut
menggunakan Nalar kita karena menyangkut sesuatu yang dikatakan orang sakral
/ sesuatu yang berbau agama / sesuatu yang dianggap menyalahi Tuhan, karena
belum tentu apa yang dikatakan orang adalah benar.

*Kalau hanya suatu legenda / mitos memang kita tidak perlu terlalu pusing,
tetapi kalau menyangkut Dewa-Dewi kita, apalagi yang tidak baik, apakah juga
kita biarkan ?, lalu apa jadinya nanti bila didengar oleh anak cucu kita,
juga oleh orang lain ?, mungkin saja hal-hal semacam ini yang menyebabkan
generasi penerus Tridharma pindah ke yang lainnya.

*Bila demikian dengan sendirinya bisa kita simpulkan bahwa cerita yang
mengatakan seseorang yang meninggal kemudian arwahnya menjadi hantu tidak
bisa menjadi Dewa / Budha, betul khan ?

Salam Damai.
TDL.
----- Original Message -----
From: "D. Agung Wiloso" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, November 29, 2002 5:56 PM
Subject: Re: [Kelenteng] tri Dharma


Sdr. TDL, seperti biasa, komentarnya saya sisipkan di antara tulisan Anda

Tepat sekali kalimat ini. Yg jadi masalah, untuk melakukan pembuktian,
seringkali kemampuan kita terbatas.
Ada satu contoh cerita dari ajaran agama lain sbb. :(maaf untuk anggota
milis yg lain, saya tdk bermaksud menyebarkan ajaran agama lain di milis
ini, hanya sekedar pembanding). Dikisahkan Santo Agustinus sedang pusing
memikirkan apakah Tuhan itu benar-benar ada. Kalau ada, ada di manakah
Beliau? Lalu, si Agustinus ini berjalan-jalan ke tepi pantai sambil
merenung. Saat tiba di tepi pantai, ia menyaksikan seorg bocah cilik sedang
menggali kolam di pasir di tepi pantai. Setelah cukup dalam, mulailah si
bocah mengambil air laut dan menuangkannya ke dlm kolam bikinannya. Setelah
beberapa lama memperhatikan tingkah laku si bocah yg mondar-mandir sambil
membawa ember kecil, Agustinus menghampiri si bocah dan bertanya, "Apa yg
sedang kau lakukan, Nak?" Si bocah menjawab, "Aku sedang berusaha
memindahkan laut ke dalam kolam buatanku." Saat itu juga Agustinus tersadar,
bahwa adalah sesuatu hal yg sangat tdk mungkin bagi dirinya untuk menalar
seluruh aspek ke-Tuhan-an. Kemampuan otaknya tdk akan mampu menampung semua
itu. Hanya sebagian kecil saja yg mampu dimengertinya.
Moral of the story : kita buktikan sesuai kemampuan kita saja. Mungkin saja
org yg memiliki kemampuan oleh batin yg lebih baik dari kita, mis. seorg
Bhante (sebutan untuk Bhiksu) ataupun org yg Tao Yin Su (kalau salah mohon
dikoreksi), mampu membuktikan lebih banyak dari kita.

Kalau menurut saya, seseorang Pay Kwan Im, harus krn melihat sifat welas
asih yg menonjol dari Kwan im Posat serta menjadikannya sbg suri tauladan.
Masalah ayah Beliau, itu adalah suatu legenda dan tidak penting apakah itu
benar atau tidak.
Seperti halnya legenda Malin Kundang, yg penting adalah moral of the story,
kita jangan durhaka kepada org tua. Tidak penting apakah batu Malin
Kundangnya ada atau tidak.

.Terlahir di alam setan adalah akibat karma buruk di kehidupan sebelumnya.
Tetap di alam manusia lebih mudah untuk melakukan karma baik. Bahkan salah
satu jalan untuk mencapai ke-Buddha-an adalah dgn terlahir di alam manusia,
dan mencapai penerangan sempurna, contohnya adalah Sidharta Gautama yg
menjadi Manusibuddha.

Salam kembali.

Agung

---------------------------------------------------------------------
.


---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke