Sdr. TDL, seperti biasa, komentarnya saya sisipkan di antara tulisan Anda.

----- Original Message -----
From: "TDL" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Milis Kelenteng" <[EMAIL PROTECTED]>; "D. Agung Wiloso"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, November 28, 2002 10:28 PM
Subject: Re: [Kelenteng] tri Dharma


> * Memang begitulah yang harus kita laksanakan, sebelum mempercayai sesuatu
> harus dibuktikan dahulu, tetapi banyak yang sulit untuk dibuktikan, namun
> banyak hal sebenarnya paling tidak bisa kita pikirkan melalui Nalar kita,
> apakah sesuai dengan kebenaran atau tidak.

Tepat sekali kalimat ini. Yg jadi masalah, untuk melakukan pembuktian,
seringkali kemampuan kita terbatas.
Ada satu contoh cerita dari ajaran agama lain sbb. :(maaf untuk anggota
milis yg lain, saya tdk bermaksud menyebarkan ajaran agama lain di milis
ini, hanya sekedar pembanding). Dikisahkan Santo Agustinus sedang pusing
memikirkan apakah Tuhan itu benar-benar ada. Kalau ada, ada di manakah
Beliau? Lalu, si Agustinus ini berjalan-jalan ke tepi pantai sambil
merenung. Saat tiba di tepi pantai, ia menyaksikan seorg bocah cilik sedang
menggali kolam di pasir di tepi pantai. Setelah cukup dalam, mulailah si
bocah mengambil air laut dan menuangkannya ke dlm kolam bikinannya. Setelah
beberapa lama memperhatikan tingkah laku si bocah yg mondar-mandir sambil
membawa ember kecil, Agustinus menghampiri si bocah dan bertanya, "Apa yg
sedang kau lakukan, Nak?" Si bocah menjawab, "Aku sedang berusaha
memindahkan laut ke dalam kolam buatanku." Saat itu juga Agustinus tersadar,
bahwa adalah sesuatu hal yg sangat tdk mungkin bagi dirinya untuk menalar
seluruh aspek ke-Tuhan-an. Kemampuan otaknya tdk akan mampu menampung semua
itu. Hanya sebagian kecil saja yg mampu dimengertinya.
Moral of the story : kita buktikan sesuai kemampuan kita saja. Mungkin saja
org yg memiliki kemampuan oleh batin yg lebih baik dari kita, mis. seorg
Bhante (sebutan untuk Bhiksu) ataupun org yg Tao Yin Su (kalau salah mohon
dikoreksi), mampu membuktikan lebih banyak dari kita.

>
> *Tentang Ayah Dewi Kwan Im, masalah ini timbul karena saya sendiri
menyembah
> Dewi Kwan Im, kemudian ketika orang luar Kelenteng menanyakan masalah ini
> yang pernah dimuat di surat kabar, dan seakan-akan memandang orang
Kelenteng
> Ketahyulan, saya jadi berpikir bagaimana harus berbuat.   Kalau
sekarangpun
> Anda mengatakan kita tidak tahu apakah hal ini benar/tidak, lalu bagaimana
> kita menyikapinya ?
> Saya rasa kalau hal ini benar, kita orang Kelenteng harus bisa menjelaskan
> hal ini, kalau salah, orang Kelenteng harus bisa meluruskannya.

Kalau menurut saya, seseorang Pay Kwan Im, harus krn melihat sifat welas
asih yg menonjol dari Kwan im Posat serta menjadikannya sbg suri tauladan.
Masalah ayah Beliau, itu adalah suatu legenda dan tidak penting apakah itu
benar atau tidak.
Seperti halnya legenda Malin Kundang, yg penting adalah moral of the story,
kita jangan durhaka kepada org tua. Tidak penting apakah batu Malin
Kundangnya ada atau tidak.

> *Kalau di alam hewan sulit berbuat karma baik, bagaimana dengan di alam
> Setan dibandingkan dengan alam Manusia, apakah bisa lebih baik?

Terlahir di alam setan adalah akibat karma buruk di kehidupan sebelumnya.
Tetap di alam manusia lebih mudah untuk melakukan karma baik. Bahkan salah
satu jalan untuk mencapai ke-Buddha-an adalah dgn terlahir di alam manusia,
dan mencapai penerangan sempurna, contohnya adalah Sidharta Gautama yg
menjadi Manusibuddha.

> *Terima kasih Anda telah menperjelas bahwa Dewa Kwan Kong adalah Dewa
> Tao.(sebenarnya masih ada pertanyaan lebih lanjut, tapi rasanya cukup
dulu).
>
> Salam,
> TDL.

Salam kembali.

Agung




---------------------------------------------------------------------
Milis Kelenteng - Quan Shui
URL: http://lists.quanshui.org
Posting, email: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke