Sok lah, sim kuring ngadukung pisan, Kabupaten GALUH beribukota di CIAMIS
--Kang Alip



--- On Thu, 7/22/10, richadiana kartakusuma <[email protected]> 
wrote:

From: richadiana kartakusuma <[email protected]>
Subject: Re: [kisunda] Re: Milih CIAMIS atawa GALUH?
To: [email protected]
Date: Thursday, July 22, 2010, 7:18 PM















 
 



  


    
      
      
      atuda ti dituna keneh ge GALUH ciamis teh.... 



From: mh <khs...@gmail. com>
To: Ki Sunda <kisu...@yahoogroups .com>
Sent: Thu, July 22, 2010 5:33:50 AM
Subject: [kisunda] Re: Milih CIAMIS atawa GALUH?









 



    
      
      
      Merawat Situs yang Tersebar

                                
Sejumlah kompleks pemakaman raja dan bupati tersebar 
di Kabupaten Ciamis. Dua pemakaman terkenal adalah Kompleks Jambansari 
yang berlokasi di Gunung Sirnayasa dan Kompleks Gunung Asih Sukasirna. 
Di Jambansari terdapat makam Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, 
Bupati Galuh Ke-16, sedangkan di Gunung Asih Sukasirna terdapat makam 
R.A.A. Koesoema Soebrata, Bupati Galuh Ke-17. Menurut R.A. Tati Nirwati 
K.S., cucu R.A.A. Koesoema Soebrata, dua tempat itu sering diziarahi 
masyarakat, dari dalam dan luar Ciamis, untuk ngalap berkah atau 
mendoakan kedua tokoh agar mendapat tempat yang layak di sisi Allah.
Di lokasi Pemakaman Gunung Asih Sukasirna, selain ada
 makam bupati Galuh terakhir, juga ada makam Eyang Kartadiredja, orang 
sakti, yang disebut-sebut sebagai guru spiritual R.A.A. Koesoema 
Soebrata. Selain itu, ada juga bekas Pesanggrahan R.A.A. Koesoema 
Soebrata yang tinggal rangkai dan bekas-bekas batu-bata yang 
menggambarkan ruang-ruang tertentu dalam bangunan tersebut. Sebagian 
dari bekas pesanggrahan itu sudah berupa kebun yang ditanami pohon 
pisang, pohon jambu, dan sejumlah pohon lain yang tumbuh dengan 
sendirinya. Di tempat tersebut, berdasarkan rencana akan dibangun 
kembali Pesanggarahan R.A.A Koesoema Soebrata yang akan digunakan 
sebagai tempat menyimpan barang-barang peninggalan sejarah. Pemakaman 
Gunung Asih dan bekas pasanggrahan itu berlokasi di Lembur Balong. Rumah
 Tati pun ada di situ.
Adapun para leluhur kedua bupati tersebut, selain ada
 yang dikuburkan di Imbanagara, juga di Kawali. Di Kawali, sebagaimana 
diketahui, terdapat sejumlah situs yang memiliki nilai sejarah tak 
terhingga. Situs berupa kuburan kuno dan lempengan batu bertulis yang 
ditemukan para arkeolog, untuk sementara, disimpan di Astana Gede 
Kawali. Hingga kini, informasi mengenai "jati diri" hasil temuan itu 
masih misteri. Para arkeolog meyakini, di bawah hamparan tanah tersebut 
masih tersimpan sejumlah benda tinggalan budaya lainnya yang diproduksi 
pada masa-masa awal Kerajaan Galuh di Kawali.
**
Pada zamannya, Astana Gede Kawali dipercaya sebagai 
tempat suci bagi raja-raja Sunda di Kawali dalam menyucikan diri. Di 
tempat ini, selain ada makam Pangeran Usman (penyebar agama Islam di 
Kawali yang datang dari Cirebon), juga ada kuburan Adipati Singacala. 
Selain itu, tentu saja ada beberapa situs peninggalan raja-raja Sunda, 
seperti Situs Cikawali, Situs Sang Hiyang Maya Datar, Situs Penobatan 
Raja-Raja Sunda, dan enam buah prasasti. Situs Sang Hyang Maya Datar 
adalah tempat raja-raja Sunda memberikan petuah kepada rakyatnya. Adapun
 sejumlah raja yang pernah berkuasa di Kawali adalah Raja Ajiguna 
Linggawisesa, Prabu Ragamulya, Prabu Linggabuana (Sri Baduga), Adipati 
Bunisora Suradipati, Prabu Niskala Wastu Kancana, Prabu Dewaniskala, dan
 Prabu Jaya Dewata yang dikenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau 
Prabu Siliwangi atau Pamanah Rasa.
Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, Bupati Galuh 
ke-16, sebagaimana dikatakan Nina Herlina Lubis, merupakan keturunan 
Prabu Haur Kuning, penerus raja-raja Galuh sebelumnya. "Berkait dengan 
itu, sejarah Galuh harus ditulis ulang dengan kajian yang mendalam dan 
dapat dipertanggungjawabk an secara akademis. Paguyuban Rundayan Prabu 
Galuh Pakuan telah berencana menulis buku tersebut dengan membentuk 
tim," ujar Nina.
Tempat bersejarah di Ciamis, selain terdapat di 
Panjalu dan Gunung Cupu, juga terdapat di Kawali, Karang Kamulyan, 
Gunung Padang, Gunung Panaekan, Rawa Onom, dan Bukit Susuru. Di bukit 
ini terdapat situs arkeologi dalam bentuk dolmen, menhir, dan punden 
berundak. Peninggalan budaya dari masa prasejarah itu dimanfaatkan oleh 
masyarakat berkebudayaan Hindu, juga Islam. "Di sana ada dolmen yang 
kemudian dijadikan batu pangcalikan (tempat duduk bertapa) pada masa 
Hindu. Setelah Islam masuk, dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat 
salat Prabu Dimuntur. Prabu Dimuntur atau Rangga Permana adalah 
keturunan Prabu Geusan Ulun, penguasa Sumedang yang menikahi Tanduran 
Gagang, Puteri Maharaja Kawali dan diberi kedudukan sebagai Raja Galuh 
Kertabumi," ungkap Nina.
Hendra S. Marcusi, Ketua Komisi IV DPRD Ciamis 
mengatakan, langkah awal yang dilakukan PRPGP ini patut didukung untuk 
mewujudkan museum yang representatif di Jawa Barat. "Kepentingannya 
bukan hanya untuk sejarah, melainkan juga untuk pariwisata," katanya. 
(Soni Farid Maulana/"PR" )***web: http://newspaper. pikiran-rakyat. 
com/prprint. php?mib=beritade tail&id=149530




2010/7/18 mh <khs...@gmail. com>

Keur usum garanti ngaran, baralik deui ka ngaran jaman bulukan, Ujung Pandang 
jadi Makasar,
Irian jadi Papua, ayeuna Ciamis cenah rek balik deui ka Galuh.
============
Wacana Kabupaten Galuh Kembali Bergulir

                        
    
          

                                            
            
                                          


    
    
                  
  
    
  
  
  
  
  
    

  
  
  
        Minggu, 18/07/2010 - 21:46
      

  
        
    
            
                    
NURHANDOKO/" PRLM"Wakil 
Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf menerima penjelasan koleksi benda pusaka 
sejarah Galuh yang disimpan di Museum Galuh Pakuan. Museum yang baru 
diresmikan Minggu (18/7)di Jl KH A Dahlan No 40 Ciamis seberang Komplek 
Makam Jambansari.*        
        





    
     








      

    
     

    
    


 



  











      

Kirim email ke