atuda ti dituna keneh ge GALUH ciamis teh....
________________________________ From: mh <[email protected]> To: Ki Sunda <[email protected]> Sent: Thu, July 22, 2010 5:33:50 AM Subject: [kisunda] Re: Milih CIAMIS atawa GALUH? Merawat Situs yang Tersebar Sejumlah kompleks pemakaman raja dan bupati tersebar di Kabupaten Ciamis. Dua pemakaman terkenal adalah Kompleks Jambansari yang berlokasi di Gunung Sirnayasa dan Kompleks Gunung Asih Sukasirna. Di Jambansari terdapat makam Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, Bupati Galuh Ke-16, sedangkan di Gunung Asih Sukasirna terdapat makam R.A.A. Koesoema Soebrata, Bupati Galuh Ke-17. Menurut R.A. Tati Nirwati K.S., cucu R.A.A. Koesoema Soebrata, dua tempat itu sering diziarahi masyarakat, dari dalam dan luar Ciamis, untuk ngalap berkah atau mendoakan kedua tokoh agar mendapat tempat yang layak di sisi Allah. Di lokasi Pemakaman Gunung Asih Sukasirna, selain ada makam bupati Galuh terakhir, juga ada makam Eyang Kartadiredja, orang sakti, yang disebut-sebut sebagai guru spiritual R.A.A. Koesoema Soebrata. Selain itu, ada juga bekas Pesanggrahan R.A.A. Koesoema Soebrata yang tinggal rangkai dan bekas-bekas batu-bata yang menggambarkan ruang-ruang tertentu dalam bangunan tersebut. Sebagian dari bekas pesanggrahan itu sudah berupa kebun yang ditanami pohon pisang, pohon jambu, dan sejumlah pohon lain yang tumbuh dengan sendirinya. Di tempat tersebut, berdasarkan rencana akan dibangun kembali Pesanggarahan R.A.A Koesoema Soebrata yang akan digunakan sebagai tempat menyimpan barang-barang peninggalan sejarah. Pemakaman Gunung Asih dan bekas pasanggrahan itu berlokasi di Lembur Balong. Rumah Tati pun ada di situ. Adapun para leluhur kedua bupati tersebut, selain ada yang dikuburkan di Imbanagara, juga di Kawali. Di Kawali, sebagaimana diketahui, terdapat sejumlah situs yang memiliki nilai sejarah tak terhingga. Situs berupa kuburan kuno dan lempengan batu bertulis yang ditemukan para arkeolog, untuk sementara, disimpan di Astana Gede Kawali. Hingga kini, informasi mengenai "jati diri" hasil temuan itu masih misteri. Para arkeolog meyakini, di bawah hamparan tanah tersebut masih tersimpan sejumlah benda tinggalan budaya lainnya yang diproduksi pada masa-masa awal Kerajaan Galuh di Kawali. ** Pada zamannya, Astana Gede Kawali dipercaya sebagai tempat suci bagi raja-raja Sunda di Kawali dalam menyucikan diri. Di tempat ini, selain ada makam Pangeran Usman (penyebar agama Islam di Kawali yang datang dari Cirebon), juga ada kuburan Adipati Singacala. Selain itu, tentu saja ada beberapa situs peninggalan raja-raja Sunda, seperti Situs Cikawali, Situs Sang Hiyang Maya Datar, Situs Penobatan Raja-Raja Sunda, dan enam buah prasasti. Situs Sang Hyang Maya Datar adalah tempat raja-raja Sunda memberikan petuah kepada rakyatnya. Adapun sejumlah raja yang pernah berkuasa di Kawali adalah Raja Ajiguna Linggawisesa, Prabu Ragamulya, Prabu Linggabuana (Sri Baduga), Adipati Bunisora Suradipati, Prabu Niskala Wastu Kancana, Prabu Dewaniskala, dan Prabu Jaya Dewata yang dikenal dengan sebutan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi atau Pamanah Rasa. Raden Adipati Aria Koesoemadiningrat, Bupati Galuh ke-16, sebagaimana dikatakan Nina Herlina Lubis, merupakan keturunan Prabu Haur Kuning, penerus raja-raja Galuh sebelumnya. "Berkait dengan itu, sejarah Galuh harus ditulis ulang dengan kajian yang mendalam dan dapat dipertanggungjawabk an secara akademis. Paguyuban Rundayan Prabu Galuh Pakuan telah berencana menulis buku tersebut dengan membentuk tim," ujar Nina. Tempat bersejarah di Ciamis, selain terdapat di Panjalu dan Gunung Cupu, juga terdapat di Kawali, Karang Kamulyan, Gunung Padang, Gunung Panaekan, Rawa Onom, dan Bukit Susuru. Di bukit ini terdapat situs arkeologi dalam bentuk dolmen, menhir, dan punden berundak. Peninggalan budaya dari masa prasejarah itu dimanfaatkan oleh masyarakat berkebudayaan Hindu, juga Islam. "Di sana ada dolmen yang kemudian dijadikan batu pangcalikan (tempat duduk bertapa) pada masa Hindu. Setelah Islam masuk, dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat salat Prabu Dimuntur. Prabu Dimuntur atau Rangga Permana adalah keturunan Prabu Geusan Ulun, penguasa Sumedang yang menikahi Tanduran Gagang, Puteri Maharaja Kawali dan diberi kedudukan sebagai Raja Galuh Kertabumi," ungkap Nina. Hendra S. Marcusi, Ketua Komisi IV DPRD Ciamis mengatakan, langkah awal yang dilakukan PRPGP ini patut didukung untuk mewujudkan museum yang representatif di Jawa Barat. "Kepentingannya bukan hanya untuk sejarah, melainkan juga untuk pariwisata," katanya. (Soni Farid Maulana/"PR")*** web: http://newspaper. pikiran-rakyat. com/prprint. php?mib=beritade tail&id=149530 2010/7/18 mh <khs...@gmail. com> Keur usum garanti ngaran, baralik deui ka ngaran jaman bulukan, Ujung Pandang jadi Makasar, >Irian jadi Papua, ayeuna Ciamis cenah rek balik deui ka Galuh. >============ > >Wacana Kabupaten Galuh Kembali Bergulir >Minggu, 18/07/2010 - 21:46 > > >NURHANDOKO/"PRLM" >Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf menerima penjelasan koleksi benda pusaka > >sejarah Galuh yang disimpan di Museum Galuh Pakuan. Museum yang baru >diresmikan >Minggu (18/7)di Jl KH A Dahlan No 40 Ciamis seberang Komplek Makam >Jambansari.* >
