Na enya urang Jawa Barat henteu toleran?

======
Masyarakat Jabar Paling Tidak Toleran
  KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT
<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2010/12/21/13100958/Masyarakat.Jabar.Paling.Tidak.Toleran#>
Penyerbuan Ahmadiyah di Bogor Samsiah (65) bedoa di depan masjid yang rusak
setelah dibakar massa di Ciampea Udik RW 5, Kecamatan Ciampea, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/10/2010). Massa menyerang desa yang dihuni
sekitar 500 jemaah Ahmadiyah, menghancukan belasan rumah dan membakar dua
rumah serta satu masjid.
 Selasa, 21 Desember 2010 | 13:10 WIB

*JAKARTA, KOMPAS.com *— Moderate Muslim Society melaporkan, Jawa Barat
menempati urutan tertinggi sebagai wilayah tertinggi dalam aksi intoleransi.

"Dari 81 kasus intoleransi, lebih dari separuhnya, yakni 49 kasus atau 61
persen, terjadi di wilayah ini," kata Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim
Society (MMS) dalam Laporan Toleransi dan Intoleransi tahun 2010 di Aula
Paramadina Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (21/12/2010).

Dari data MMS, aksi intoleransi tahun 2010 meningkat 4 kali lipat dari tahun
2009 yang berjumlah 11 kasus menjadi 49 kasus. Kasus intoleransi yang
terjadi di Jawa Barat sebagian besar terjadi di Bekasi, Bogor, Garut, dan
Kuningan.

"Di Bekasi, semua korban kasus intoleransi adalah kalangan Kristiani, berupa
penghalangan kegiatan ibadah, penyegelan rumah ibadah, dan penyerangan
terhadap jemaat HKBP. Sementara di Bogor, dari 10 kasus, 7 kasus juga
menimpa kalangan Kristiani terkait masalah gereja. Di Garut dan Kuningan
semua korban adalah kelompok Ahmadiyah," kata Zuhairi.

Aksi intoleransi yang meningkat eskalasinya, kata Zuhairi, disebabkan adanya
pembiaran dari pemerintah daerah terhadap tindakan intoleransi di Jawa
Barat. "Diakui juga bahwa ada peningkatan kelompok yang mengutamakan
kekerasan di Jawa Barat. Kelompok ini mesti diajak berdialog untuk memahami
kemajemukan," ujarnya.

Selain itu, menurut Zuhairi, masyarakat di Jawa Barat dinilai memiliki
kesadaran bernegara yang rendah. Ia mengatakan, kunci dari masalah ini
adalah pemerintah harus berlaku tegas terhadap para pelaku kekerasan.

"Ketika ketidaktegasan pemerintah terus berjalan, akan ada kecurigaan di
tengah masyarakat bahwa kelompok ekstrem ini sengaja dipelihara oleh
pemerintah," ujarnya.

*Natalia Ririh*

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2010/12/21/13100958/Masyarakat.Jabar.Paling.Tidak.Toleran

Kirim email ke