PEMDA jeung pulisi na areuweuh kawani lamun nyinghareupan massa anu mawa bandera hejo, diantep sakarepna sanajan ngaruksak fasilitas siga disebut dina berita.
Ceuk Obama basa datang ka Indonesia, konsept Bhineka Tunggal Ika kuduna diterapkeun nepi ka ayeuna sabab eta anu luyu jeung budaya bangsa Indonesia. ________________________________ From: mh <[email protected]> To: Ki Sunda <[email protected]> Sent: Thu, January 13, 2011 4:23:25 AM Subject: [kisunda] Urang Jabar jeung Toleransi Na enya urang Jawa Barat henteu toleran? ====== Masyarakat Jabar Paling Tidak Toleran KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Penyerbuan Ahmadiyah di Bogor Samsiah (65) bedoa di depan masjid yang rusak setelah dibakar massa di Ciampea Udik RW 5, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/10/2010). Massa menyerang desa yang dihuni sekitar 500 jemaah Ahmadiyah, menghancukan belasan rumah dan membakar dua rumah serta satu masjid. Selasa, 21 Desember 2010 | 13:10 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Moderate Muslim Society melaporkan, Jawa Barat menempati urutan tertinggi sebagai wilayah tertinggi dalam aksi intoleransi. "Dari 81 kasus intoleransi, lebih dari separuhnya, yakni 49 kasus atau 61 persen, terjadi di wilayah ini," kata Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society (MMS) dalam Laporan Toleransi dan Intoleransi tahun 2010 di Aula Paramadina Pondok Indah, Jakarta Selatan, Selasa (21/12/2010). Dari data MMS, aksi intoleransi tahun 2010 meningkat 4 kali lipat dari tahun 2009 yang berjumlah 11 kasus menjadi 49 kasus. Kasus intoleransi yang terjadi di Jawa Barat sebagian besar terjadi di Bekasi, Bogor, Garut, dan Kuningan. "Di Bekasi, semua korban kasus intoleransi adalah kalangan Kristiani, berupa penghalangan kegiatan ibadah, penyegelan rumah ibadah, dan penyerangan terhadap jemaat HKBP. Sementara di Bogor, dari 10 kasus, 7 kasus juga menimpa kalangan Kristiani terkait masalah gereja. Di Garut dan Kuningan semua korban adalah kelompok Ahmadiyah," kata Zuhairi. Aksi intoleransi yang meningkat eskalasinya, kata Zuhairi, disebabkan adanya pembiaran dari pemerintah daerah terhadap tindakan intoleransi di Jawa Barat. "Diakui juga bahwa ada peningkatan kelompok yang mengutamakan kekerasan di Jawa Barat. Kelompok ini mesti diajak berdialog untuk memahami kemajemukan," ujarnya. Selain itu, menurut Zuhairi, masyarakat di Jawa Barat dinilai memiliki kesadaran bernegara yang rendah. Ia mengatakan, kunci dari masalah ini adalah pemerintah harus berlaku tegas terhadap para pelaku kekerasan. "Ketika ketidaktegasan pemerintah terus berjalan, akan ada kecurigaan di tengah masyarakat bahwa kelompok ekstrem ini sengaja dipelihara oleh pemerintah," ujarnya. Natalia Ririh Dapatkan artikel ini di URL: http://www.kompas.com/read/xml/2010/12/21/13100958/Masyarakat.Jabar.Paling.Tidak.Toleran
