Konflik Antarumat bukan Karena Agama Intoleransi Menjadi Gejala Global Jakarta, (PR).- Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bahwa konflik antarumat beragama terjadi bukan semata-mata karena perbedaan agama, tetapi banyak faktor lain yang memicu gesekan sehingga mengganggu kerukunan.
"Kita tidak bisa melihat konflik semata-mata karena agama. Karena, penyebabnya sangat kompleks, banyak faktor lain seperti ekonomi, sosial, dan politik," kata Ketua MUI Bidang Kerukunan Antarumat Beragama, Slamet Effendy Yusuf, seusai melakukan dialog mengenai kerukunan beragama di Jakarta, Senin (17/1). Slamet mengatakan, MUI ingin sikap kerukunan terus dibangun dan dibina. Sebab, tanpa kerukunan, Indonesia akan ambruk. Dalam hal ini, MUI mempunyai kepentingan untuk meningkatkan kerukunan umat bergama yang merupakan prasyarat kerukunan nasional dan syarat berjalannya pembangunan bagi kemaslahatan umat. MUI mencatat, konflik dan ketegangan antarumat beragama masih terus terjadi sepanjang 2010 yang pemicu utamanya adalah pendirian rumah ibadah. Bahkan, menurut dia, intoleransi beragama saat ini menjadi gejala global yang diakui memang mengalami penurunan dalam waktu sepuluh tahun terakhir. "Intoleransi beragama yang meningkat itu gejala global, bukan hanya di Indonesia. Mungkin karena sudah terbawanya isu politik ke dalam isu yang spesifik dan komunal, itu yang perlu kita prihatinkan. Oleh karena itu, antarumat beragama perlu menyadari untuk bisa membedakan mana masalah yang bersifat agama atau mana yang sifatnya berkaitan dengan hal lain," ujarnya. Untuk menjaga kerukunan antarumat beragama tersebut yang perlu dilakukan adalah saling pengertian dan saling menjaga perasaan umat. Selain itu, diharapkan jangan ada pihak luar yang membuat suasana memanas. Jangan bertindak sendiri Sebelumnya, Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat, K.H. Amidhan, mengimbau kepada masyarakat agar tidak bertindak sendiri jika menemukan adanya dugaan aliran sesat dalam Islam oleh kelompok masyarakat tertentu. "Bagi masyarakat yang menemukan adanya indikasi aliran sesat, sebaiknya melaporkan kepada MUI guna dikaji secara mendalam apakah benar telah terjadi penyimpangan sehingga bisa dilakukan pembinaan," kata Amidhan. Menurut dia, tidak mudah untuk langsung mengklaim suatu ajaran sesat karena harus dilakukan kajian secara mendalam apakah telah terjadi penyimpangan. "Setidaknya, ada sepuluh indikator yang digunakan MUI untuk menetapkan apakah suatu ajaran telah menyimpang dari Islam," katanya. Dikatakan, kriteria pertama untuk mengetahui aliran sesat adalah jika ada yang mengakui keberadaan Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad. "Dalam Islam, Nabi dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad, jika ada yang mengaku masih ada Nabi setelah itu pemahamannya jelas keliru," katanya. Selanjutnya, jika ada yang mengatakan masih ada kitab suci yang diturunkan bagi umat Islam setelah Alquran maka perlu diralat. "Kitab suci terakhir yang diturunkan bagi umat Islam adalah Alquran," ujarnya. Menurut dia, jika ada laporan atau temuan tentang dugaan aliran sesat maka MUI akan membentuk tim khusus guna melakukan pengkajian. (Ant)*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=172253
