Gajleng, gejebur we lah.....piraku rek disaha-saha. Lamun can merenah judulna KBS IX A. Ke lamun geus bulan haji atawa akhir taun rek diayakeun nu leuwih sugema kantun KBS IX B. Punten ceuk kuring mah dina kaayaan ayeuna mah (isuk rek prung) Just Do It, gajleng gejebur. Saenggeusna nembe 5 point asupan ti Kang Djasepudin diperhatikeun jeung ditarekahan. Wilujeng ka nu bade kongres, Just do it, make us proud! Gajleng norolong makarya keur ngareueuskeun sunda.
baktos tirta Dari: hangjuang bodas <[email protected]> Kepada: [email protected] Dikirim: Minggu, 10 Juli 2011 6:46 Judul: Re: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX Tah ieu aya tulisan Kang Djadjas nu dimuat di Tribun Jabar poe Rebo, 6/7/2011 Lima Ayat Kongres Bahasa Sunda Tidak Bergema Oleh DJASEPUDIN Sejak prakemerdekaan hingga pascareformasi Kongres Bahasa Sunda (KBS) sedikitnya sudah empat belas kali dilaksanakan. Namun, dari tahun ke tahun semangat, gema, penerapan, dan aura yang terasa dalam KBS makin menyurut. Padahal, ahli kesundaan saban tahun terus membengkak. Baik produksi insttitusi pendidikan yang bergelar sarjana, master, dan doktor maupun yang belajar secara otodidak yang menamakan diri penulis lepas atau pengamat. Dukungan dana juga ayeuna mah disediakan pemerintah dan beberapa pihak swasta. Tidak hanya itu, media sebagai sarana informasi juga mendukung. Terbukti beberapa media cetak dan elektronik di Bandung turut terlibat. Tapi, mengapa KBS IX di Bogor pertengah Juli ini masih hambar dan kurang bergairah? Tentu saja, jawaban yang tepat, utuh, dan menyeluruh mesti diadakan penelitian, kajian, perdebatan, dan simpulan yang mendalam. Sebagai salah satu warga Bogor, Jawa Barat, yang kebetulan bersuku bangsa Sunda, ada beberapa catatan yang, saya pikir, patut dicatat dan direnungkan oleh réngréngan Panitia KBS IX dan pengurus Lembaga Basa & Sastra Sunda (LBSS) sebagai mitra yang sering ditunjuk oleh Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) untuk menyelanggarakan kongres. Pertama, KBS kurang sosialiasi. Kabar akan berlansungnya kongres memang sudah mengemuka sekitar empat minggu kebelekang. Namun, ketika saya menanyakan kabar itu kepada beberapa aktivis kesundaan dan wartawan di seputar Bandung banyak yang tidak engeuh. Malah, wartawan sekaligus aktivis kesundaan Dhipa Galuh Purba mah hanya menjawab “teu nyaho nanaon, apalna ogé kakara ayeuna”. Maka, sungguh tidak aneh jika wartawan senior dan kolumnis Karno Kartadibrata menulis di rubrik Balébandung edisi 30 Juni-6 Juli mempertanyakann KBS kurang aweuhanana alias kurang bergema. Karno juga mengabarkan, ada redaktur koran ternama di Bandung tidak mengetahui rencana kegiatan KBS IX di Bogor. Itu baru di Bandung, bagaimana jadinya dengan warga Sunda di saampar Jawa Barat? Ah, boro-boro engeuh apalagi peduli, diberitahu juga. Lantas, saya juga bertanya kepada beberapa guru dan aktivis kesundaan di sekitar Bogor. Jawabannya hampir sama dengan Dhipa dan sejumlah aktivis Bandung: ”teu nyaho-nyaho acan”. Malah, salah satu wartawan Sunda yang bergerak di Bogor, mengungkapkan nada nyinyir dan satir yang kemudian kalimat itu saya umumkan di jejaring sosial facebook, kalimat itu adalah “paling ogé ngan katempatan wungkul, ari panitiana mah ti bandung.” Kedua, kurang membumi. KBS IX ini, konon, akan akan dilaksanakan di Cipayung, Cisarua, Bogor, 11-13 Juli 2011. Akan tetapi, hingga tulisan ini dibuat, Sabtu, 2 Juli 2011, banyak warga Bogor yang tidak mengetahui hajat warga bahasa Sunda itu. Jangankan warga Jonggol di ujung timur Kabupaten Bogor atau warga Jasinga di ujung Barat Kabupaten Bogor, masyarakat yang berbahasa Sunda di Kota Bogor dan warga sekitar Cisarua juga banyak yang tidak tahu adanya KBS IX. Padahal, kelemahan tersebut bisa sedikit diminimalisasi jika Panitia KBS mau merangkul warga dan wartawan Bogor dengan penuh kesadaran dan keterbukaan.. Jika mau merangkul dan terbuka mah tidak akan tercetus ungkapan “paling ogé ngan katempatan wungkul, ari panitiana mah ti bandung.” Ketiga, terlalu Bandung. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung menjadi puat di pelbagai bidang. Tidak terkecuali Bandung. Beragam kegiatan berikut kepanitiaan kegiatan di Jawa Barat sering didominasi warga atau aktivis Bandung. Masyarakat di daerah hanya dilibatkan sebagai pendukung saja. Bahkan, dalam pelaksanaan KBS IX hal itu makin berasa dan kentara. Tidak hanya kepanitiaan, peserta, dan pengisi acaranya juga umumnya dikuasai oleh orang Bandung. Dengan demikian keterlibatan daerah terkesan hanya seperlunya. Dalam tataran ini, disadarai atau tidak, diakui atau tidak, aktivis Bandung itu merasa yang paling pintar dan superior. Sebagai bukti, salah satu majalah berbahasa Sunda yang terbit di Bogor dan diisi umumnya oleh warga Bogor tidak diundang menghadiri acara KBS IX. Redaktur, pemimpin redaksi, skretaris redaksi, atau pimpinan majalah dwibulanan yang sudah 17 kali terbitan itu tidak satu orangpun diundang sebagai peserta. Padahal, di antara mereka, jangankan diundang sebagai peserta, diundang sebagai pembicara atau pemakalah sekalipun sangat pantas. Jika panitia KBS atau orang-orang Disparbud dan LBSS tidak mengetahui majalah Balébat, umpanya, kacida teuing. Sebab, majalah tersebut tidak hanya beredar di Bogor, tapi meneyebar juga ke Jakarta, Sukabumi, Bandung, dan Jatinangor. Maka, ketika awak redaksi majalah tersebut tidak diundang leuwih ti kacida teuing. Sebab, majalah yang kantor redaksiya di sekitar Ciampea dan dipimpin oleh Hendra M. Astari itu, saya pikir, memahami betul perkembangan bahasa dan sastra Sunda di sekitar Bogor. Sebab, selain mengurus majalah juga secara rutin berhubungan langsung dengan sejumlah guru dan mempertanykan perkembangan bahasa Sunda di kabupaten dan kota Bogor. Keempat, tidak peka. Peringatan dari sebagian warga Jabar tentang kurang bergemanya KBS IX tidak cepat dicarikan jalan keluar yang cepat dan tepat. Sebab, sedikitpun info yang didapat tentang KBS IX sejatinya mesti ada reaksi, evaluasi, solusi, dan antisipasi. Ini mah tidak, padahal, jika ingin sukses, masukan, harapan, atau cibiran sekalipun dan dari siapapun mesti ditanggapi dengan penuh kesadaran dan keterbukaan. Kelima, asal aya. Pelaksanaan KBS IX sejauh yang saya tahu hanya memenuhi proyek lima tahunan saja. Dengan demikian kegiatan tersebut digarap sahinasna. Maka, saya sependapat dengan ungkapan Ajip Rosidi pada tahun 2005 di majalah Manglé dan koran Pikiran Rakyat bahwa, KBS hanya proyek menghambur-hamburkan uang rakyat, lebih baik uang tersebut digunakan untuk kepetingan yang lebih berguna. Menutup artikel ini saya teringat lontaran Hawe Setiawan pada tahun 2005 bahwa, sejumlah rekomendasi yang dihasilkan (KBS) pada umumnya hanya berupa usulan, ajakan, atau pun imbauan. Tidak ada satu pun rekomendasi merupakan program kerja yang akan dilaksanakan LBSS. Benarkah begitu? Mudah-mudahan tahun ini mah tidak. Yang jelas, wilujeng kongres para Juragan. Djasepudin, kolumnis, tingggal di Bogor. --- On Sat, 7/9/11, Ki Hasan <[email protected]> wrote: >From: Ki Hasan <[email protected]> >Subject: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX >To: "Ki Sunda" <[email protected]> >Date: Saturday, July 9, 2011, 6:51 PM > > > >Kongres teh tanggal 11-13 Juli nya. Atuh isukan. >Ngulayaban wartana di Internet, berekah teu manggih hiji-hiji acan, kajaba >warta PR poe ieu jeung serelek ti MJ. >Sakitu fasilitas Internet aya, jigana panitia kongres kacida pisan sibukna >nya, nepi ka teu sempet migunakeun fasilitas Internet pikeun ngabewarakeun ieu >kongres ka balarea. > > >2011/7/10 Ki Hasan <[email protected]> > >> >> >>Kongres Bahasa Sunda IX Siap Digelar di Cipayung >>Sabtu, 09/07/2011 - 18:55 >>BANDUNG, (PRLM).- Kongres Bahasa Sunda IX digelar Senin (11/7) hingga Rabu >>(13/7), di Hotel Jaya Raya Cipayung, Bogor, Jawa Barat. Kongres ini >>dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Sunda akan pentingnya >>melestarikan, membina dan mengembangkan bahasa Sunda sebagai identitas daerah >>dan kekayaan budaya nasional. >>“Masyarakat Sunda tidak akan mengenal dengan baik kebudayaannya apabila tidak >>memahami bahasanya, yaitu bahasa Sunda,” kata Sekretaris Panitia Pelaksana >>Dr. Dingding Haerudin, M.Pd., di Bandung, Sabtu (9/7). >>Menurut Dr. Dingding Haerudin, suku bangsa Sunda, seperti halnya suku bangsa >>lain di Nusantara semakin sadar akan pentingnya melestarikan, membina dan >>mengembangkan bahasa, sastra dan huruf Sunda di tengah kehidupannya. >>Kesadaran itu sesuai dengan inti yang terkandung dalam kebijakan otonomi >>daerah yang bertumpu pada harapan agar setiap daerah mengetahui potensinya >>sendiri, sehingga mampu melangkah tegap dalam kiprah pembangunan bangsa dan >>negara, di samping sesuai dengan perubahan sistem pemerintahan yang >>sentralistis menjadi desentralisasi, dengan tetap mempertahankan integritas >>Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). >>Hal tersebut tersirat pada Pasal 32 UUD 1945 (mengenai kebudayaan) yang >>memiliki hubungan erat dengan Pasal 36 (mengenai bahasa), kata Dingding >>Haerudin. Hubungan itu lebih jelas tampak dalam penjelasan masing-masing >>pasal. “Kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak kebudayaan daerah di >>seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa”, demikian bunyi salah >>satu kalimat penjelasan pasal 32. Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian >>dari kebudayaan” demikian bunyi seluruh kalimat penjelasan pasal 36 UUD 1945. >>Dikatakannya, budaya daerah merupakan salah satu kekuatan yang mendukung >>tegapnya langkah. Sedangkan bahasa daerah pada hakikatnya merupakan pintu >>gerbang untuk memasuki wilayah kebudayaan daerah sebagai bagian dari >>kebudayaan nasional. >>Karena bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, dengan istilah sekarang salah >>satu unsur kebudayaan, dan bahasa merupakan alat komunikasi pendukung utama >>serta perekam kebudayaan suatu bangsa, suku, marga, pribadi dalam bentuk >>tutur dan sebagainya, dan tidak ada bangsa yang tidak mempunyai bahasa, >>walaupun sangat sederhana, maka bahasa pun merupakan puncak dari kebudayaan >>bangsa, khususnya bagi masyarakat daerah Jawa Barat dan sekitarnya serta >>penutur bahasa Sunda dialek, seperti Cirebon, Indramayu, Bekasi, dan Depok >>dan dialek lainnya, itu semua merupakan buah usaha budi bangsa, sebagai >>masyarakat penutur bahasa Sunda. >>“Itu sebabnya sebunyi dengan penjelasan di atas, bahasa-bahasa daerah seperti >>bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan sebagainya yang dihormati dan dipelihara >>negara, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Hal itu mengisyaratkan bahwa >>pemakaian, pemeliharaan, dan perkembangan bahasa daerah diatur dengan >>undang-undang,” ujar Dr. Dingding.. >>Dr. Dingding menjelaskan, Kongrés Basa Sunda IX merupakan forum bagi >>masyarakat Sunda untuk membahas perkembangan berbagai aspek kebahasasundaan. >>Kongres yang akan diselenggarakan ini merupakan pelaksanaan dari amanat >>masyarakat Sunda yang menghendaki dilakukannya kajian terhadap semua aspek >>kebahasasundaan setiap kurun waktu lima tahunan. >>Diungkapkan, Kongrés Basa Sunda I dilaksanakan tahun 1954 di Bandung; Kongrés >>Basa Sunda II pada tahun 1956 di Bandung; Kongrés Basa Sunda III pada tahun >>1958 di Bandung; Kongrés Basa Sunda IV pada tahun 1961 di Bandung; Kongrés >>Basa Sunda V pada tahun 1988 di Cipayung, Bogor; Kongrés Basa Sunda VI pada >>tahun 1993 di Bandung; Kongrés Basa Sunda VII pada tahun 2001 di Garut, dam >>Kongres Basa Sunda VIII pada tahun 2005 di Subang. >>“Dalam kehidupan masa kini, perkembangan bahasa Sunda ada yang menggembirakan >>namun tak sedikit pula yang mengkhawatirkan. Yang menggembirakan, seyogianya >>didukung dan dikembangkan agar semakin memuaskan. Sedangkan yang >>mengkhawatirkan sepatutnya diupayakan untuk ditanggulangi secepatnya. Itulah >>yang melatarbelakangi Lembaga Basa jeung Sastra Sunda menetapkan Kongres Basa >>Sunda IX, di samping melaksanakan program kerja dan amanat kongres basa Sunda >>sebelumnya,” ujar Dingding. >>Kongrés Basa Sunda IX ini akan diikuti 250 orang yang terdiri atas panitia, >>pemakalah, dan peserta, yang terdiri dari unsure birokrat di bidang >>pemerintahan, pendidikan, kebudayaan dan kebahasaan tingkat pusat, provinsi, >>kabupaten/kota Jawa Barat dan luar Jawa Barat; LSM Kesundaan di Jawa Barat >>dan di luar Jawa Barat; pakar bahasa Sunda dari berbagai perguruan tinggi di >>Jawa Barat dan luar Jawa Barat; para guru bahasa Sunda dan sastrawan Sunda; >>para tokoh masyarakat Sunda; dan para tokoh di luar masyarakat Sunda. (Rls. >>Wakhudin Abubakar/A-88)*** >>http://www.pikiran-rakyat.com/node/151339 >> >> >>
