Aya tebak-tebakan yeuh:
Cing tarebak, mun acarana loba nu teu nyaho, kira-kirana makalahna bakal
nembus ka Internet moal nya?
Leuwih jauhna aya teu kira-kirana jalma nu ngampihan dokumentasi makalahna
ti mimiti kongres nu munggaran, hepi ka kongres nu kiwari?

2011/7/10 hangjuang bodas <[email protected]>

> **
>
>
> Tah ieu aya tulisan Kang Djadjas nu dimuat di Tribun Jabar poe Rebo,
> 6/7/2011
>
> Lima Ayat Kongres Bahasa Sunda Tidak Bergema
> Oleh DJASEPUDIN
>
>
>
> Sejak prakemerdekaan hingga pascareformasi Kongres Bahasa Sunda (KBS)
> sedikitnya sudah empat belas kali dilaksanakan. Namun, dari tahun ke tahun
> semangat, gema, penerapan, dan aura yang terasa dalam KBS makin menyurut.
> Padahal, ahli kesundaan saban tahun terus membengkak. Baik produksi
> insttitusi pendidikan yang bergelar sarjana, master, dan doktor maupun yang
> belajar secara otodidak yang menamakan diri penulis lepas atau pengamat.
> Dukungan dana juga ayeuna mah disediakan pemerintah dan beberapa pihak
> swasta. Tidak hanya itu, media sebagai sarana informasi juga mendukung.
> Terbukti beberapa media cetak dan elektronik di Bandung turut terlibat.
> Tapi, mengapa KBS IX di Bogor pertengah Juli ini masih hambar dan kurang
> bergairah? Tentu saja, jawaban yang tepat, utuh, dan menyeluruh mesti
> diadakan penelitian, kajian, perdebatan, dan simpulan yang mendalam.
> Sebagai salah satu warga Bogor, Jawa Barat, yang kebetulan bersuku bangsa
> Sunda, ada beberapa catatan yang, saya pikir, patut dicatat dan direnungkan
> oleh réngréngan Panitia KBS IX dan pengurus Lembaga Basa & Sastra Sunda
> (LBSS) sebagai mitra yang sering ditunjuk oleh Dinas Pariwisata dan Budaya
> (Disparbud) untuk menyelanggarakan kongres.
> Pertama, KBS kurang sosialiasi. Kabar akan berlansungnya kongres memang
> sudah mengemuka sekitar empat minggu kebelekang. Namun, ketika saya
> menanyakan kabar itu kepada beberapa aktivis kesundaan dan wartawan di
> seputar Bandung banyak yang tidak engeuh. Malah, wartawan sekaligus aktivis
> kesundaan Dhipa Galuh Purba mah hanya menjawab “teu nyaho nanaon, apalna ogé
> kakara ayeuna”.
> Maka, sungguh tidak aneh jika wartawan senior dan kolumnis Karno
> Kartadibrata menulis di rubrik Balébandung edisi 30 Juni-6 Juli
> mempertanyakann KBS kurang aweuhanana alias kurang bergema. Karno juga
> mengabarkan, ada redaktur koran ternama di Bandung tidak mengetahui rencana
> kegiatan KBS IX di Bogor.
> Itu baru di Bandung, bagaimana jadinya dengan warga Sunda di saampar Jawa
> Barat? Ah, boro-boro engeuh apalagi peduli, diberitahu juga. Lantas, saya
> juga bertanya kepada beberapa guru dan aktivis kesundaan di sekitar Bogor.
> Jawabannya hampir sama dengan Dhipa dan sejumlah aktivis Bandung: ”teu
> nyaho-nyaho acan”. Malah, salah satu wartawan Sunda yang bergerak di Bogor,
> mengungkapkan nada nyinyir dan satir yang kemudian kalimat itu saya umumkan
> di jejaring sosial facebook, kalimat itu adalah “paling ogé ngan katempatan
> wungkul, ari panitiana mah ti bandung.”
> Kedua, kurang membumi. KBS IX ini, konon, akan akan dilaksanakan di
> Cipayung, Cisarua, Bogor, 11-13 Juli 2011. Akan tetapi, hingga tulisan ini
> dibuat, Sabtu, 2 Juli 2011, banyak warga Bogor yang tidak mengetahui hajat
> warga bahasa Sunda itu. Jangankan warga Jonggol di ujung timur Kabupaten
> Bogor atau warga Jasinga di ujung Barat Kabupaten Bogor, masyarakat yang
> berbahasa Sunda di Kota Bogor dan warga sekitar Cisarua juga banyak yang
> tidak tahu adanya KBS IX.
> Padahal, kelemahan tersebut bisa sedikit diminimalisasi jika Panitia KBS
> mau merangkul warga dan wartawan Bogor dengan penuh kesadaran dan
> keterbukaan.. Jika mau merangkul dan terbuka mah tidak akan tercetus
> ungkapan “paling ogé ngan katempatan wungkul, ari panitiana mah ti bandung.”
> Ketiga, terlalu Bandung. Sebagai ibukota Jawa Barat, Bandung menjadi puat
> di pelbagai bidang. Tidak terkecuali Bandung. Beragam kegiatan berikut
> kepanitiaan kegiatan di Jawa Barat sering didominasi warga atau aktivis
> Bandung. Masyarakat di daerah hanya dilibatkan sebagai pendukung saja.
> Bahkan, dalam pelaksanaan KBS IX hal itu makin berasa dan kentara.
> Tidak hanya kepanitiaan, peserta, dan pengisi acaranya juga umumnya
> dikuasai oleh orang Bandung. Dengan demikian keterlibatan daerah terkesan
> hanya seperlunya. Dalam tataran ini, disadarai atau tidak, diakui atau
> tidak, aktivis Bandung itu merasa yang paling pintar dan superior.
> Sebagai bukti, salah satu majalah berbahasa Sunda yang terbit di Bogor dan
> diisi umumnya oleh warga Bogor tidak diundang menghadiri acara KBS IX.
> Redaktur, pemimpin redaksi, skretaris redaksi, atau pimpinan majalah
> dwibulanan yang sudah 17 kali terbitan itu tidak satu orangpun diundang
> sebagai peserta. Padahal, di antara mereka, jangankan diundang sebagai
> peserta, diundang sebagai pembicara atau pemakalah sekalipun sangat pantas.
> Jika panitia KBS atau orang-orang Disparbud dan LBSS tidak mengetahui
> majalah Balébat, umpanya, kacida teuing. Sebab, majalah tersebut tidak hanya
> beredar di Bogor, tapi meneyebar juga ke Jakarta, Sukabumi, Bandung, dan
> Jatinangor. Maka, ketika awak redaksi majalah tersebut tidak diundang leuwih
> ti kacida teuing.
> Sebab, majalah yang kantor redaksiya di sekitar Ciampea dan dipimpin oleh
> Hendra M. Astari itu, saya pikir, memahami betul perkembangan bahasa dan
> sastra Sunda di sekitar Bogor. Sebab, selain mengurus majalah juga secara
> rutin berhubungan langsung dengan sejumlah guru dan mempertanykan
> perkembangan bahasa Sunda di kabupaten dan kota Bogor.
> Keempat, tidak peka. Peringatan dari sebagian warga Jabar tentang kurang
> bergemanya KBS IX tidak cepat dicarikan jalan keluar yang cepat dan tepat.
> Sebab, sedikitpun info yang didapat tentang KBS IX sejatinya mesti ada
> reaksi, evaluasi, solusi, dan antisipasi. Ini mah tidak, padahal, jika ingin
> sukses, masukan, harapan, atau cibiran sekalipun dan dari siapapun mesti
> ditanggapi dengan penuh kesadaran dan keterbukaan.
> Kelima, asal aya. Pelaksanaan KBS IX sejauh yang saya tahu hanya memenuhi
> proyek lima tahunan saja. Dengan demikian kegiatan tersebut digarap
> sahinasna. Maka, saya sependapat dengan ungkapan Ajip Rosidi pada tahun 2005
> di majalah Manglé dan koran Pikiran Rakyat bahwa, KBS hanya proyek
> menghambur-hamburkan uang rakyat, lebih baik uang tersebut digunakan untuk
> kepetingan yang lebih berguna.
> Menutup artikel ini saya teringat lontaran Hawe Setiawan pada tahun 2005
> bahwa, sejumlah rekomendasi yang dihasilkan (KBS) pada umumnya hanya berupa
> usulan, ajakan, atau pun imbauan. Tidak ada satu pun rekomendasi merupakan
> program kerja yang akan dilaksanakan LBSS. Benarkah begitu? Mudah-mudahan
> tahun ini mah tidak.
> Yang jelas, wilujeng kongres para Juragan.
>
> Djasepudin, kolumnis, tingggal di Bogor.
>
> --- On *Sat, 7/9/11, Ki Hasan <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Ki Hasan <[email protected]>
> Subject: [kisunda] Re: Kongres Bahasa Sunda IX
> To: "Ki Sunda" <[email protected]>
> Date: Saturday, July 9, 2011, 6:51 PM
>
>
>
>
> Kongres teh tanggal 11-13 Juli nya. Atuh isukan.
> Ngulayaban wartana di Internet, berekah teu manggih hiji-hiji acan, kajaba
> warta PR poe ieu jeung serelek ti MJ.
> Sakitu fasilitas Internet aya, jigana panitia kongres kacida pisan sibukna
> nya, nepi ka teu sempet migunakeun fasilitas Internet pikeun ngabewarakeun
> ieu kongres ka balarea.
>
> 2011/7/10 Ki Hasan <[email protected]<http://mc/[email protected]>
> >
>
>
>
> Kongres Bahasa Sunda IX Siap Digelar di Cipayung
> Sabtu, 09/07/2011 - 18:55
>
> BANDUNG, (PRLM).- Kongres Bahasa Sunda IX digelar Senin (11/7) hingga Rabu
> (13/7), di Hotel Jaya Raya Cipayung, Bogor, Jawa Barat. Kongres ini
> dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Sunda akan pentingnya
> melestarikan, membina dan mengembangkan bahasa Sunda sebagai identitas
> daerah dan kekayaan budaya nasional.
>
> “Masyarakat Sunda tidak akan mengenal dengan baik kebudayaannya apabila
> tidak memahami bahasanya, yaitu bahasa Sunda,” kata Sekretaris Panitia
> Pelaksana Dr. Dingding Haerudin, M.Pd., di Bandung, Sabtu (9/7).
>
> Menurut Dr. Dingding Haerudin, suku bangsa Sunda, seperti halnya suku
> bangsa lain di Nusantara semakin sadar akan pentingnya melestarikan, membina
> dan mengembangkan bahasa, sastra dan huruf Sunda di tengah kehidupannya.
> Kesadaran itu sesuai dengan inti yang terkandung dalam kebijakan otonomi
> daerah yang bertumpu pada harapan agar setiap daerah mengetahui potensinya
> sendiri, sehingga mampu melangkah tegap dalam kiprah pembangunan bangsa dan
> negara, di samping sesuai dengan perubahan sistem pemerintahan yang
> sentralistis menjadi desentralisasi, dengan tetap mempertahankan integritas
> Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
>
> Hal tersebut tersirat pada Pasal 32 UUD 1945 (mengenai kebudayaan) yang
> memiliki hubungan erat dengan Pasal 36 (mengenai bahasa), kata Dingding
> Haerudin. Hubungan itu lebih jelas tampak dalam penjelasan masing-masing
> pasal. “Kebudayaan lama dan asli terdapat sebagai puncak kebudayaan daerah
> di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa”, demikian bunyi
> salah satu kalimat penjelasan pasal 32. Bahasa-bahasa itu pun merupakan
> sebagian dari kebudayaan” demikian bunyi seluruh kalimat penjelasan pasal 36
> UUD 1945.
>
> Dikatakannya, budaya daerah merupakan salah satu kekuatan yang mendukung
> tegapnya langkah. Sedangkan bahasa daerah pada hakikatnya merupakan pintu
> gerbang untuk memasuki wilayah kebudayaan daerah sebagai bagian dari
> kebudayaan nasional.
>
> Karena bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, dengan istilah sekarang
> salah satu unsur kebudayaan, dan bahasa merupakan alat komunikasi pendukung
> utama serta perekam kebudayaan suatu bangsa, suku, marga, pribadi dalam
> bentuk tutur dan sebagainya, dan tidak ada bangsa yang tidak mempunyai
> bahasa, walaupun sangat sederhana, maka bahasa pun merupakan puncak dari
> kebudayaan bangsa, khususnya bagi masyarakat daerah Jawa Barat dan
> sekitarnya serta penutur bahasa Sunda dialek, seperti Cirebon, Indramayu,
> Bekasi, dan Depok dan dialek lainnya, itu semua merupakan buah usaha budi
> bangsa, sebagai masyarakat penutur bahasa Sunda.
>
> “Itu sebabnya sebunyi dengan penjelasan di atas, bahasa-bahasa daerah
> seperti bahasa Sunda, Jawa, Madura, dan sebagainya yang dihormati dan
> dipelihara negara, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Hal itu
> mengisyaratkan bahwa pemakaian, pemeliharaan, dan perkembangan bahasa daerah
> diatur dengan undang-undang,” ujar Dr. Dingding..
>
> Dr. Dingding menjelaskan, Kongrés Basa Sunda IX merupakan forum bagi
> masyarakat Sunda untuk membahas perkembangan berbagai aspek kebahasasundaan.
> Kongres yang akan diselenggarakan ini merupakan pelaksanaan dari amanat
> masyarakat Sunda yang menghendaki dilakukannya kajian terhadap semua aspek
> kebahasasundaan setiap kurun waktu lima tahunan.
>
> Diungkapkan, Kongrés Basa Sunda I dilaksanakan tahun 1954 di Bandung;
> Kongrés Basa Sunda II pada tahun 1956 di Bandung; Kongrés Basa Sunda III
> pada tahun 1958 di Bandung; Kongrés Basa Sunda IV pada tahun 1961 di
> Bandung; Kongrés Basa Sunda V pada tahun 1988 di Cipayung, Bogor; Kongrés
> Basa Sunda VI pada tahun 1993 di Bandung; Kongrés Basa Sunda VII pada tahun
> 2001 di Garut, dam Kongres Basa Sunda VIII pada tahun 2005 di Subang.
>
> “Dalam kehidupan masa kini, perkembangan bahasa Sunda ada yang
> menggembirakan namun tak sedikit pula yang mengkhawatirkan. Yang
> menggembirakan, seyogianya didukung dan dikembangkan agar semakin memuaskan.
> Sedangkan yang mengkhawatirkan sepatutnya diupayakan untuk ditanggulangi
> secepatnya. Itulah yang melatarbelakangi Lembaga Basa jeung Sastra Sunda
> menetapkan Kongres Basa Sunda IX, di samping melaksanakan program kerja dan
> amanat kongres basa Sunda sebelumnya,” ujar Dingding.
>
> Kongrés Basa Sunda IX ini akan diikuti 250 orang yang terdiri atas panitia,
> pemakalah, dan peserta, yang terdiri dari unsure birokrat di bidang
> pemerintahan, pendidikan, kebudayaan dan kebahasaan tingkat pusat, provinsi,
> kabupaten/kota Jawa Barat dan luar Jawa Barat; LSM Kesundaan di Jawa Barat
> dan di luar Jawa Barat; pakar bahasa Sunda dari berbagai perguruan tinggi di
> Jawa Barat dan luar Jawa Barat; para guru bahasa Sunda dan sastrawan Sunda;
> para tokoh masyarakat Sunda; dan para tokoh di luar masyarakat Sunda. (Rls.
> Wakhudin Abubakar/A-88)***
>
> http://www.pikiran-rakyat.com/node/151339
>
>
>
>
>   
>

Kirim email ke