Aya tulisan Kang Dipa pakait jeung KBS:

=======
Penghakiman Remaja Tinggalkan Bahasa Sunda Gegabah
by Dhipa Galuh Purba <https://www.facebook.com/dhipagaluh> on Monday, July
11, 2011 at 10:32pm

*Oleh DHIPA GALUH PURBA*



DARI mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Dari mana datangnya
Sunda, dari hati naik ke mana-mana. Dari mana Us Tiarsa memiliki data
tentang bahasa Sunda semakin ditinggalkan para penuturnya, terutama kaum
remaja? Dan dari sinilah tulisan ini bermula, berkenaan dengan pernyataan Us
Tiarsa yang dimuat di sebuah koran Jawa Barat, beberapa pekan yang lalu.



Pernyataan Kang Us, semakin menegaskan bahwa beliau tidak pernah melakukan
riset sebelum membuat sebuah kesimpulan. Sebagai bahan perbandingan, Pada
Kongres Basa Sunda (KBS) VIII tahun 2005 di Subang, Us memaparkan data yang
keliru mengenai media berbahasa Sunda. Pada makalah Us yang berjudul “*Basa
Sunda dina Média Massa*”,  Us menuliskan bahwa media massa Sunda yang masih
terbit hanyalah “*Mangle”, “Galura”, “Giwangkara”, “Kujang”*, “*Mandiri”*,
ditambah oleh dua majalah berukuran kecil, “*Cupumanik”* dan “*Sunda Midang”
*. Demikian sebagaimana yang tertuang dalam paragraf ketiga makalah
tersebut.



Pada kenyataannya, dari sebelum tahun 2005 (sampai sekarang), media massa
 berbahasa Sunda semisal “*Bina Da’wah”, “Sarakan”, “Iber”, *“*Seni Budaya”*,
dan lain-lain, masih setia menemui pembacanya. Selain itu, ukuran * *Majalah
* *“*Sunda Midang”*  dan “*Cupumanik”* berbeda. Kalau yang dimaksud kecil
adalah ukuran kertas A-5 seperti halnya “Cupumanik”, maka “*Sunda Midang*”
berukukran A-4, atau lebih besar dari majalah “*Cupumanik*”. Wajar saja jika
sekarang pun Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS) tidak mengetahui
kehadiran Majalah *Balebat* di Bogor, sebagaimana yang ditulis Djadjas
Djasepudin di Tribun Jabar (6/6).  Jika kata “memalukan” terlalu kasar, maka
kata “memilukan” yang bisa dipilih. Bagaimana mungkin sebuah kongres yang
menghabiskan dana ratusan juta tersebut dapat melahirkan ide, gagasan, atau
pemikiran baru, jika data-datanya saja bertolak-belakang dengan fakta di
lapangan.



Demikian pula pernyataan tentang semakin berkurangnya pengguna bahasa Sunda
di kalangan remaja, sepertinya perlu dikaji kembali. Mari membuka mata lebih
lebar untuk menyaksikan kenyataan yang sesungguhnya terjadi.



*Dunia Maya*

Tengoklah dunia maya. Perkembangan teknologi internet yang begitu pesat,
telah membawa angin sejuk bagi kehidupan bahasa-bahasa di dunia, termasuk
bahasa Sunda. Semakin hari, *website* berbahasa Sunda atau yang memuat
konten budaya Sunda tampak kian marak. Blog dan portal Sunda di dunia maya,
banyak membantu masyarakat yang ingin mengenali kesundaan. Tak pelak lagi,
banyak *website* kesundaan yang menjadi rujukan para pelajar, mahasiswa,
masyarakat umum, dan dinas yang mengemban tugas *ngamumule* budaya Sunda.
Misalnya, panitia “Anugerah Budaya Kota Bandung 2009”, tanpa malu-malu
melakukan *copy-paste* data dari sebuah blog untuk menyusun buku panduan
“Anugerah Budaya Kota Bandung 2009”, tanpa mau menuliskan sumbernya, apalagi
mengedit kesalahan cetak.

Beberapa waktu yang lalu, pernah mencoba mencari tahu, siapa saja para
pengunjung blog atau portal kesundaan. Dari beberapa *website* yang
ditanyakan kepada situs *alexa.com*, ternyata jawabannya adalah: "*Based on
internet averages, is visited more frequently by females who are in the age
range 18-24, received some college education and browse this site from home*”.
Dari jawaban itulah, rasanya kurang tepat jika menempatkan kaum remaja dan
generasi muda sebagai tokoh utama yang tidak suka menggunakan bahasa Sunda.



Terlebih lagi setelah demam jejaring sosial melanda dunia, maka budaya
menulis, membaca, dan berbahasa ibu meningkat tajam. Situs *socialbakers.com
*menempatkan orang Indonesia sebagai pengguna terbanyak *facebook* kedua
setelah Amerika.  Dari 38 juta pengguna *facebook* di Indonesia,  terdapat *
urang* Sunda yang jumlahnya bisa mencapai jutaan orang. Cara melihat
identitas kesundaan di jejaring sosial, salahsatunya dengan memperhatikan
bahasa yang digunakannya. Maka dari itulah, LBSS tidak boleh gaptek, agar
bisa menyadari bahwa pengguna bahasa Sunda itu masih sangat banyak. Mereka,
masyarakat Sunda di dunia maya, tetap berinteraksi di jejaring sosial
menggunakan bahasa Sunda, sama sekali tanpa beban apa-apa. Bahkan banyak
diantaranya yang berinisiatif mendirikan grup atau komunitas kesundaan,
misalnya “*Kusnet”, “Salakanagara”, “Wargi Sunda”, “Sunda Sauyunan Sadunya”,
“Cinta Budaya Sunda*”, dan masih banyak lagi.



*Dunia Daratan*

Sulit untuk membuat kesimpulan bahwa kaum remaja telah banyak yang
meninggalkan bahasa Sunda dibanding orang tua. Salahsatunya, mari kita
arahkan pandangan kita kepada Festival Drama Basa Sunda (FDBS), yang rutin
digelar Teater Sunda Kiwari. Dari tahun ke tahun, peserta FDBS kian
bertambah, dan selalu didominasi kaum remaja. Tentu saja termasuk
penontonnya yang selalu membludak dan menyesaki Gedung Kesenian
Rumentangsiang Bandung.



Begitu banyak para pelajar yang mendirikan grup teater , baik di lingkungan
sekolah maupun di tengah masyarakat. Meraka menggarap naskah berbahasa
Sunda. Bahkan selanjutnya tidak lagi hanya berorientasi untuk mengikuti
FDBS, melainkan membuat garapan untuk suatu pertunjukan tersendiri.
Misalnya, setiap bulan Ramadhan, Teater Senapati SMA Pasundan 3 Bandung,
selalu menggelar drama islami berbahasa Sunda, dengan menggalang penonton
sebayanya dari sekolah-sekolah lain.



Gejala positif pengguna bahasa Sunda pun muncul di tengah masyarakat.
Misalnya, bahasa Sunda yang mulanya hanya tertuang di baju, kini telah
menular pada ekor motor. Fenomena ekor motor bisa menjadi salahsatu contoh
nyata. Mari kita perhatikan stiker yang terpasang di ekor-ekor motor yang
setiap hari bertebaran memenuhi jalan raya. Banyak ungkapan berbahasa Sunda
terpasang di ekor motor, dari mulai yang membikin pembacanya mengerutkan
kening, tersenyum, sampai tertawa. Contohnya: *“tadad-tidid, geus nyaho
macét!”, “Jung wé tiheula da urang mah moal balap, sieun cilaka”*, “*Kasép
nya nu numpak motorna?*”, dan lain sebagainya. Lagi-lagi gagasannya muncul
dari generasi muda, dan terpasang di ekor motor para muda-mudi.



Sekali lagi, dari mana Kang Us, sebagai Ketua Panitia KBS IX, mendapatkan
data tentang bahasa Sunda yang semakin ditinggalkan penggunanya terutama
kaum remaja? Jangan-jangan yang berkurang itu justru dari kalangan orang
tua.***



*Dimuat di Tribun Jabar, Senin 11 Juli 2011**
*

*
https://www.facebook.com/notes/dhipa-galuh-purba/penghakiman-remaja-tinggalkan-bahasa-sunda-gegabah/10150229001307927
*

Kirim email ke