Setuju banget dengan pendapat Kang Ulil

salam
mBiru

--- Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Salam,
> Seringkali kita melihat kesenjangan antara apa yang
> diucapkan oleh umat Islam denga apa yang mereka
> lakukan. Mengatakan hal ini sebetulnya tak
> menambahkan
> suatu informasi yang baru sama sekali. Yang baru
> adalah contoh yang akan saya berikan berikut ini. 
> 
> Selama ini umat Islam mencurigai konsep sekularisme
> yang oleh mereka dimengerti sebagai pemisahan agama
> dari politik, atau lebih luas lagi antara agama dan
> kehidupan publik. Tetapi jika kita lihat tindakan
> umat
> Islam sendiri, mereka mempraktekkan sekularisme
> tanpa
> mereka sadari. Tindakan ini dilakukan bukan saja
> oleh
> kalangan awam, tetapi justru oleh kalangan elit
> Islam
> yang selalu kita kenal dengan retorikanya yang
> membenci sekularisme.
> 
> Marilah kita tengok contoh berikut ini. Karena saat
> ini isu banjir masih hangat dalam ingatan publik,
> maka
> saya akan mengambil contoh yang berkaitan dengan
> soal
> banjir. Penanganan banjir jelas mengandaikan
> pelbagai
> faktor yang saling berkaitan, mulai dari tata kota,
> kebijakan kependudukan, rancangan pemukiman,
> peruntukan lahan, hingga ke aspek-aspek yang
> menyangkut dimensi mental dan kebudayaan.
> Sikap-sikap
> mental masyarakat dalam menghadapi soal ruang,
> misalnya, tak kalah menentukan dalam penanganan soal
> banjir. Legislasi saja sama sekali tak cukup.
> Seperti
> saya katakan dalam surat yang lalu, kota adalah
> pemukiman berbudaya, bukan sekedar tempat tinggal
> untuk mencari nafkah. Kota bukan sekedar "sapi
> perah",
> tetapi adalah "al-madinah" atau polis yang beradab.
> 
> Yang menarik adalah sikap umat Islam serta
> tokoh-tokoh
> mereka terhadap masalah kota ini. Selama ini, jika
> perdebatan menyangkut soal jilbab atau perjudian,
> tokoh-tokoh Islam bergitu bersemangat sekali, sebab
> dua hal itu memang jelas-jelas masuk wilayah
> "Islam",
> dalam pengertian ada aturan tekstual dalam kitab
> suci
> mengenai masalah tersebut. Tetapi begitu menyangkut
> masalah yang sama sekali tak disiggung oleh Kitab
> Suci
> (Quran atau Hadis), misalnya soal rancang bangun
> kota
> yang baik dan "nggenah" sehingga tak menimbulkan
> banjir, kita tak mendengar suara sedikitpun dari
> tokoh-tokoh Islam. Secara tak langsung, tokoh-tokoh
> Islam itu ingin mengatakan bahwa ada wilayah yang
> jelas berkenaan dengan agama (baca: Islam), ada
> wilayah yang sama sekali di luar pembicaraan Islam.
> Soal jilbab adalah soal Islam sebab ada aturan yang
> jelas (menurut mereka) dalam Kitab Suci, sementara
> soal penanganan banjir adalah di luar wilayah agama,
> sebab tak ada ketegasan mengenai hal itu dalam Kitab
> Suci. Jika pun ada hal yang berkenaan dengan masalah
> itu dalam Kitab Suci, maka sifatnya tak langsung,
> tetapi hanya bersifat tersurat. 
> 
> Sikap semacam ini adalah sekularisme itu sendiri
> dalam
> bentuk yang lain. Saya menyebut hal ini sebagai
> "sekularisme sukarela" (dalam pengertian
> "self-secularizing"). Sikap tokoh-tokoh Islam yang
> sama sekali kurang menunjukkan keprihatinan yang
> mendalam terhadap soal tata-kota dengan anggapan
> bahwa
> masalah itu kurang langsun berkenaan dengan masalah
> Islam, jelas mengandaikan adanya wilayah agama dan
> non-agama. Dengan kata lain, ada wilayah di mana
> agama
> mempunyai wewenang, dan ada wilayah lain lagi di
> mana
> agama sama sekali tak memiliki wewenang yang
> bersifat
> langsung.
> 
> Dualisme wilayah semacam ini sebetulnya terjadi pada
> banyak kasus, dan kesadaran mengenai hal ini bukan
> tak
> ada di kalangan intelektual Muslim. Contoh yang baik
> dan kerapkali didiskusikan adalah dualisme antara
> ilmu-ilmu agama dan ilmu sekuler. Menyadari bahwa
> dualisme semacam ini sama sekali tak ideal, banyak
> kalangan intelektual Muslim yang mengusahakan adanya
> integrasi antara kedua wilayah itu. Saya sendiri
> mempunyai kritik mendasar atas "proyek integrasi"
> itu,
> tetapi hal itu di luar pokok pembicaraan saya. Yang
> ingin saya tunjukkan adalah kemenduaan sikap umat
> Islam dalam menghadapi sebuah konsep. Suatu konsep
> disangkal pada level retorika, tetapi diterima tanpa
> suatu keberatan dalam praktek. 
> 
> Yang mengherankan adalah bahwa di tengah bangkitnya
> kesadaran beragama di kalangan Islam saat ini,
> "sekularisme sukarela" semacam itu justru makin
> berkembang luas. Adalah suatu paradoks yang
> mencengangkan bahwa di satu pihak umat Islam
> "gembar-gembor" bahwa Islam adalah agama yang
> memberikan solusi atas semua hal, agama yang lengkap
> (syamil, kamil, mutakamil), tetapi di pihak lain
> umat
> Islam sama sekali mengabaikan soal-soal publik yang
> sangat mendesak seperti penanganan kota, misalnya.
> 
> Sumber utama dari masalah ini, saya kira, karena
> lemahnya dimensi kemanusiaan dalam pemahaman Islam
> yang berkembang di umat saat ini. Hilangnya dimensi
> kemanusiaan itu menimbulkan suatu sikap yang amat
> menggelikan, yakni bahwa ajaran agama ditaati
> semata-mata kerena itu adalah perintah Tuhan. Jika
> suatu masalah tidak memiliki ketentuan yang jelas
> dari
> Tuhan, meskipun menyangkut kepentingan kemanusiaan
> yang luas, maka umat Islam diam saja, atau pun jika
> ikut berbicara tidak dengan derajat semangat yang
> sama
> seperti mereka perlihatkan dalam kasus-kasus yang
> jelas-jelas bersifat "Islam". 
> 
> Untuk mengatasi sikap mendua semacam ini, sejumlah
> langkah penting harus dilakukan oleh umat Islam:
> 
> Pertama, umat Islam harus berani melakukan "lompatan
> paradigmatik" dengan memandang seluruh ajaran agama
> yang berkaitan dengan wilayah sosial adalah terkait
> dengan pertimbangan kemanusiaan. Ajaran-ajaran itu
> menjadi penting bukan semata-mata karena Tuhan
> mengatakan demikian dalam Kitab Suci, tetapi karena
> secara kemanusiaan, ajaran itu relevan. Jika karena
> suatu perkembangan sejarah, pertimbangan kemanusiaan
> berubah, maka ajaran itu juga harus diubah. Hanya
> Tuhan sendiri yang tak berubah. Ajaran-ajaran Tuhan
> bukanlah Tuhan itu sendiri, sehingga tak kebal
> terhadap hukum perubahan. Dalam perubahan itu, yang
> menjadi pokok pertimbangan adalah kepentingan
> kemanusiaan. Karena kepentinga kemanusiaan terus
> berubah, maka dengan sendirinya ajaran juga harus
> berubah. 
> 
> Kedua, sudah tentu perubahan bukanlah tujuan pada
> dirinya sendiri. Suatu perubahan mengarah kepada
> suatu
> cita-cita sosial tertentu. Yang tetap dalam suatu
> agama adalah cita-cita itu yang menjadi semacam
> pemandu arah perubahan dalam masyarakat. Hukum atau
> ketentuan legal-formal harus ditundukkan kepada
> cita-cita itu, bukan sebaliknya. Cita-cita utama
> dalam
> Islam, dalam pandangan saya, ada dua: pada level
> masyarakat adalah terciptanya keadilan, sementara
> pada
> level individu adalah terlindunginya aspek
> kebebasan.
> Kecenderungan agama dalam masyarakat yang kian
> berorientasi pada hukum dan fikih sekarang ini jelas
> membahayakan masa depan Islam itu sendiri. Yang
> mengherankan adalah bahwa "fikihisme" atau
> kecenderungan legalistik dalam beragama yang dahulu
> berkembang luas di kalangan yang disebut "Islam
> tradisional" itu pernah menjadi sasaran kritik tajam
> dari kaum pembaharu Muslim awal abad ke-20.
> Fikihisme
> itu sekarang justru berkembang lagi di kalangan
> Muslim
> perkotaan, termasuk di kalangan Islam yang selama
> ini
> disebut "modernis". Ini jelas kemunduran dilihat
> dari
> segi cita-cita kaum reformis Islam dahulu.
> 
> Ketiga, jika pada level masyarakat kita perlu
> menganjurkan suatu pendekatan keagamaan yang makin
> mengaitkan antara ajaran agama dengan konteks
> kemanusiaan, maka pada level individual suatu
> penghayatan agama yang mendalam dan "genuine" juga
> perlu dikembangkan. Sebagaimana dikatakan oleh
> banyak
> sarjana Muslim selama ini, masyarakat Muslim adalah
> masyarakat etis (al-mujtama' al-akhlaqi/al-qimi)
> dalam
> pengertian kesadaran tentang nilai-nilai moral yang
> diajarkan oleh Islam tertanam dengan mendalam di
> sana.
> Masyarakat etis mengahayati agama bukan karena
> "paksaan hukum", tetapi karena keinsafan yang
> mendalam
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.
http://mobile.yahoo.com/mail 

Kirim email ke