Mas Anam,
Komentar anda kok "baunya" kayak suara Ahmad Baso sih.

Bilang sama Ahmad Baso, yang memusuhi tradisi itu
bukan kapitalisme, bukan pula liberalisme, tetapi
orang-orang Wahabi. Mana ada kapitalisme anti cium
tangan. Ndak ada urusannya itu. Kapitalisme sih seneng
sekali dengan tradisi. Apalagi kalau tradisi yang laku
di pasar. 

Sudah ndak saatnya lagi sekarang mengkontraskan antara
modernisasi dengan tradisi. Ini tema lama tahun 60-an.
Kalau Ahmad Baso mengangkatnya sekarang, itu kayak
bangun kesiangan.

Kalau hanya soal cium tangan, saya juga cium tangan,
dari dulu hingga sekarang. Buat saya ndak ada
pertentangan antara paham Islam liberal saya dengan
mencium tangan kiai. Wong memang ndak ada kaitannya.
Kalau saya mencium tangan kiai, berarti dengan
sukarela saya mengakui otoritas moral dan sosialnya.

Tentu ndak semua kiai saya cium tangannya. Saya pasti
ndak mencium tangan kiai-kiai yang sekarang sudah
menjadi "politisi" (termasuk kiai-kiai di pucuk PBNU
sekarang). Soalnya, kalau kiai udah jadi politisi,
baunya lain.

Ulil







--- kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Tapi menurut saya ilmunya mas Ulil tidak
> tambah-tambah. Maka kalau boleh
> mengulang komentar:
> 
> 1) Setahu saya ekonomi terpimpin adalah ekonomi
> pasar yang melibatkan
> selebih mungkin regulasi negara biar rakyat
> Indonesia yang masih lemah tidak
> dibodohi. Jadi tidak murni sosialis. Masalahnya para
> saudagar multi nasional
> yang sangat "masuk akal" untuk ngakalin negara
> berkembang itu kan atas restu
> dan tausiyah negara mereka juga! Kalau tidak negara
> ya paling tidak sebuah
> lembaga semacam bank dunia atau wto yang telah
> diamanati oleh beberapa
> gelintir negara. Jadi seliberal apapun, negara pasti
> terlibat. Lah kalau ada
> pemimpin di negara berkembang yang regulatif sedikit
> kog langsung disemprit.
> Ini aneh.
> 
> 2)Saya setuju meniru China tapi kan menirunya jangan
> setengah-setengah
> begitu dong. Dalam bermadzab kan ada juga aturannya.
> China sangat sayang
> dengan budaya mereka dan tidak minder sedikit pun
> dengan kemegahan barat.
> Bagi mereka tradisionalisme itu juga masuk akal;
> tidak perlu diliberalkan;
> tidak perlu menjadi barat untuk bisa masuk akal.
> 
> Atau sebaiknya tidak usah meniru?! Ambil China
> manhajul fiqr saja, biar
> tidak jadi orang awam banget. Tarulah China sebagai
> renungan sejarah,
> selanjutnya kita membikin sejarah sendiri. Menurut
> saya, mengkritik para
> aktivis anti-globalisasi dengan mengatakan "kalian
> ini maunya yang seperti
> negara mana sih?" itu terlalu naif, cara
> bermadzabnya orang awam.
> 
> 3)Yang lucu adalah soal subsidi. Anda bilang subsidi
> BBM yang jumlahnya
> secuil yang dinikmati bersama oleh orang kaya dan
> orang miskin itu tidak
> masuk akal. Nah subsidi besar-besaran yang diberikan
> pemerintah kepada para
> pengusaha yang sudah kaya raya demi sebuah tata
> "ekonomi liberal" itu kan
> lebih tidak masuk akal lagi.
> 
> Jadi yang liberal belum tentu masuk akal bukan?
> 
> 
> On 2/22/07, lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   mas ulil, bagi saya yang tak mengerti secuil pun
> politik ekonomi (atau
> > apaapun istilahnya), tulisan sampean ini "meggang
> banget" (tahu iklannya
> > titi kamal utk produk sarimi kan?), seperti minum
> kopi di (stasiun) tugu
> > (jogja) plus jadah bakar.
> >
> > saya tak kuasa mengomentari tulisan sampean,
> karena takrib saja
> > merangkak-rangkak, apalagi "ilmu kafir" yang tak
> pernah aku pegang. ndak
> > tekan akalku, mas.
> >
> > saya ingin bertanya tentang satu hal saja sama
> sampean, mas ulil, yaitu
> > apakah kebijakan kenaikan BBM yang diiringi dengan
> subsidi langsung ke
> > warga
> > miskin itu sudah PAS? saya tak tahu, apakah
> pemerntah beserta otak
> > intelektualnya sudah mengkaji soal ini secara
> komperhensif?
> >
> > pertanyaan ini tentu cukup polos, tp saya memang
> belum tahu jawabannya.
> >
> > saya kira itu saja, kalau banyak bertanya atau
> menanggapi sesuatu yang tak
> > tak mengerti nanti akan maikn gatra ketidaktahuan
> saya.
> >
> > salak
> > hamzah.
> > ----- Original Message -----
> > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]
> <ulil99%40yahoo.com>>
> > To: <[email protected]
> <kmnu2000%40yahoogroups.com>>
> > Sent: Thursday, February 22, 2007 2:36 AM
> > Subject: Re: [kmnu2000] "Sekularisme" sukarela
> --Untuk Mas Munir
> >
> > > Mas Munir,
> > > Saya ndak yakin anda benar-benar tidak setuju
> > > liberalisasi di bidang ekonomi. Maksud anda
> mungkin
> > > bukan anti liberalisasi ekonomi per se, tetapi
> > > liberalisasi yang tak terkontrol. Jadi yang anda
> > > persoalkan mungkin derajat liberalisasi. Mohon
> > > dikoreksi kalau saya salah duga.
> > >
> > > Fondasi ekonomi liberal adalah ekonomi pasar.
> Lawannya
> > > adalah ekonomi terpimpin yang dikontrol negara
> seperti
> > > dalam sosialisme. Ekonomi terpimpin ambruk semua
> > > sekarang, yang terbukti jalan dan masuk akal
> adalah
> > > ekonomi pasar.
> > >
> > > Dengan mengecualikan kasus Korut dan Kuba, saat
> ini
> > > ekonomi pasar hampir merupakan praktek yang
> sulit
> > > ditolak. Tentu setiap negara menganut variasi
> yang
> > > berbeda dalam menerapkan ekonomi pasar. Tetapi
> intinya
> > > sama: pasar plus kesejahteraan. Ada yang
> pasarnya 70%,
> > > kesejahteraannya 30%, ada yang terbalik, ada
> yang
> > > separoh-separoh, dsb.
> > >
> > > Sekarang ini di kalangan anak-anak muda NU
> sedang
> > > muncul "trend" anti-globalisasi yang dikombinasi
> > > dengan ideologi dan teori macem-macem. Ada
> > > anti-globalisasi plus pos-kolonialisme, ada yang
> plus
> > > tradisionalisme, ada yang plus radikalisme dan
> > > koservatisme, ada yang plus populisme, ada juga
> yang
> > > plus ideologi kiri-baru (yang sekarang sudah
> pudar).
> > > Ada anti-globalisasi yang motivasinya relijius,
> ada
> > > yang murni sekuler. Pokoknya gerakan
> anti-globalisasi
> > > sekarang ini seperti "keranjang" yang bisa
> dimasuki
> > > apa saja, jadi kayak gado-gado yang
> kadang-kadang
> > > membingungkan.
> > >
> > > Yang kurang jelas pada penggiat anti-globalisasi
> > > adalah bentuk ekonomi yang mereka inginkan.
> Apakah
> > > mereka menginginkan ekonomi terpimpin yang sudah
> > > kedaluwarsa itu, atau ekonomi pasar yang
> kandungan
> > > kesejahteraannya lebih besar, atau malah ekonomi
> > > Islam, misalnya? Atau mereka ingin menegakkan
> kembali
> > > sosialisme negara a la Soviet atau Cina
> > > pra-liberalisasi?
> > >
> > > Jawabannya tidak jelas, karena yang ikut
> "menunggangi"
> > > gerakan anti-globalisasi datang dari latar
> ideologi,
> > > aspirasi serta kecenderungan intelektual yang
> > > berbeda-beda.
> > >
> > > Karena anda menyebut soal subsidi, saya ingin
> > > memberikan komentar sedikit. Meskipun keahian
> saya
> > > selama ini sebatas Taqrib, Tahrir, dan Alfiyyah,
> ya
> > > dikit-dikit bacalah pemikiran ekonomi yang
> ditulis
> > > Hayek, Milton Friedman, atau Amartya
> Sen--minimal baca
> > > daftar isi dan kesimpulan, he he he. Tetapi,
> sekali
> > > lagi, saya bukan ahli ekonomi, jadi pendapat
> saya ini
> > > anggap saja pendapat "kedai kopi". Sama sekali
> tidak
> > > ilmiah.
> > >
> > > Menurut saya, tidak ada kontradiksi antara
> ekonomi
> > > pasar yang liberal dengan subdisi. Seperti saya
> > > katakan di atas, praktek ekonomi pasar di semua
> negara
> > > saat ini selalu dikombinasikan dengan
> kesejahteraan.
> > > Tidak ada yang murni pasar. Kesejahteraan itu
> tiada
> > > lain adalah subsidi atau kebijakan lain yang
> sifatnya
> 
=== message truncated ===


Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University


Kirim email ke