Ini adalah masalah menarik dan sangat mendasar sekali tetapi sering ditanggapi dengan semena-mena, tidak memiliki kedalaman ilmu dan analisis yang mendalam tentang itu
--- kejawan gebang <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salah satu problematika kontemporer yang menghingapi umat ini adalah krisis Ilmu. Kita ketahui sendiri bahwa kejayaan suatu bangsa dapat diukur dari pesatnya perkembangan ilmu. Apalagi Allah telah berjanji akan meningkatkan derajat suatu kaum, selagi kaum tersebut bersedia meningkatkan kualitas imannya dan gemar menuntut ilmu. Biru: Yang menjadi masalah utama adalah kesempatan untuk belajar, untuk menggunakan akal pikiran, setelah melatih untuk menggunakan akal pikiran. Di dalam ranah ke-Islam-an orang-orang yang menggunakan akal pikirannya sering dinafikan atau malah dikafirkan, hal ini menyebabkan kebanyakan umat Islam tidak terbiasa untuk menggunakan akal pikiran dalam pengolah ilmu. Perbedaan pendapat sering menjadi ajang konfrontasi bukan sebagai ajang diskusi untuk mendapatkan suatu kesimpulan yang baik. Dari hal ini sudah berabad-abad berlangsung hingga sekarang. Bagaimana suatu umat kalau tidak melatih akal pikirannya dapat menerima ilmu dengan baik?. Oleh karena itulah umat Islam harus memiliki sistem KEPENDIDIKAN yang baik. hanya melalui sistem KEPENDIDIKAN yang baik maka budaya berfikir, budaya analisis dan budaya diskusi akan terbentuk sehingga akan membentuk juga umat yang dapat mengembangkan keilmuan. Karena kalau budaya-budaya tersebut diatas tidak dilakukan maka akan selamanya umat Islam akan seperti ini. Menurut Ust. Mudhoffar, MA dalam Kajian Jumat pagi, setidaknya ada 7 faktor yang menyebabkan umat mengalami krisis ilmu. Pertama, Lemahnya ilmu syari yang notabene harus dipahami setiap orang secara aksiomatik. Sebab masih banyak dari umat ini yang tidak memahami syariat yang sifatnya masih dasar. Sedangkan kita ketahui bahwa syarat syah-nya ibadah, salah satunya adalah harus ada ilmunya. Biru: Suatu pengambilan kesimpulan yang sangat gegabah sekali. Memang ilmu syari'i adalah suatu keilmuan yang pokok harus dipahami oleh setiap umat Islam, akan tetapi tidak semua orang dapat pengembangkan ilmu syar'i menjadi keilmuan yang mampu mengembangkan budaya berfikir, budaya analisis dan budaya diskusi, hanya ada beberapa orang yang melakukan hal ini yaitu Al-Ghazali dengan Ihya'-Nya dan Ibnu Arabi dengan Futuhul Al-Makkiyahnya yang membahas ilmu syar'i dan mengembangkannya dalam rangka budaya berfikir, budaya analisis dan budaya diskusi. Kedua, Minimnya ulama yang bertugas memahamkan umat dengan ajaran Islam secara syumul. Memang di negeri kita banyak sekali yang namanya ulama mulai dari kyai khos sampai meminjam istilah Gus Dur- kyai kampung. Tapi pada hakekatnya, mereka belum memenuhi kualifikasi sebagai ulama yang seharusnya mempunyai rasa takut lebih kepada Allah dan membimbing umat ini agar selamat dunia-akhirat. Biru: Ini adalah juga merupakan sesuatu pengambilan kesimpulan yang dangkal. Bagaimana suatu proses budaya berpikir, budaya analisis dan budaya diskusi hanya diserahkan kepada segelintir orang dan orang-orang tersebut adalah orang yang tidak pernah atau sedikit sekali menyentuh budaya-budaya pengembangan ilmu. Adalah naif kalau pengembangan ilmu hanya diserahkan pada orang-orang itu. Seharusnya pengembangan ilmu adalah secara keseluruhan, tidak hanya keilmuan yang dianggap ilmu "keagamaan", kalau dalam Islam seharusnya bahwa SELURUH ILMU YANG DITURUNKAN OLEH ALLAH itu ilmu Islam atau dengan kata lain seluruh ILMU YANG DIBAHAS OLEH AL-QUR'AN DAN HADIST adalah ilmu Islam yang harus dikelola dan dikembangkan oleh umat Islam sehingga budaya pengembangan ilmu dapat dimiliki oleh umat Islam. Ketiga, Umat mengalami kebingungan untuk mencari rujukan yang benar. Sebab banyak bermunculan ulama gadungan yang keberadaannya lebih dikarenakan pencitraan media/masyarakat. Biru: Dalam hal ini Tuhan telah memberikan bekal yang sangat fundamental yaitu akal dan hati. Dimana dengan kedua alat tersebut manusia diharapkan dapat menentukan sendiri arah dan tujuan hidupnya. Serta ditambahi dengan PETUNJUK yang jelas yaitu AL_QURAN dan HADIST yang dengan kedua alat tersebut manusia hendaknya dapat membaca dalam arti membaca yang sesungguhnya yaitu membaca dengan menggunakana akal dan hatinya, bukan membaca hanya mulutnya dari kedua PETUNJUK tersebut. Sehingga dapat memilah-milah sendiri informasi mana yang membawa kita menuju jalan yang benar. Kalau ditinjau dari kata Ulama yang berakar dari kata ilmu, maka sesungguhnya yang disebut Ulama bukan hanya orang yang pandai di ilmu agama (atau lebih tepatnya tata cara beragama) tetapi setiap orang yang berkompetensi di dalam ke-ilmu-an itu sendiri. Karena segala Ilmu dari Allah maka setiap orang yang berkompetensi di dalam segala ke-ilmu-annya dapat disebut Ulama. Tentang pencitraan oleh media atau masyarakat hal ini disebabkan karena budaya komersial belaka, yang memang dibutuhkan oleh media agar dapat digunakan untuk alat promosi produk. Keempat, lemahnya tradisi menghormati spesialisasi ilmu. Yang jelas jika kita belajar mengenai tafsir maka belajarlah kepada ahli tafsir. Jangan sampai belajar ilmu tanpa rujukan dan manhaj (jalur) dari orang-orang yang kafaah di bidangnya.. Sebab setiap orang mempunyai kompetensi masing-masing yang satu sama lainnya dapat melengkapi. Biru: Masalah utama umat Islam adalah berusaha mengkotak-kotakkan ke-ilmu-an. Sebagai contoh umpamanya saya sebagai seorang ahli di bidang Teknik maka oleh orang-orang lulusan pondok pesantren atau lulusan IAIN dianggap tidak patut untuk berbicara masalah ke-Islam-an, dianggap tidak patut untuk memberikan tafsiran ayat sesuai dengan kapasitas ke-Teknik-an. Yang baik adalah kita membuka ruang bagi setiap orang untuk mendapatkan ke-ilmu-an dari setiap orang sesuai dengan kapasitas dan pemahaman yang dimiliki. Dan dengan bekal yang telah diberi oleh Allah (akal dan hati) maka diharapkan kita akan dapat memilah-milah berbagai informasi tersebut untuk dapat kita ambil manfaatnya. Hal ini bersesuaian dengan Hadist Jangan lihat siapa yang bicara, tetapi dengarkan apa yang dibicarakan Kelima, Ilmu yang kurang. Masalahnya bukanlah berapa banyak dalil yang kita ketahui atau dihafal untuk dasar setiap ilmu tetapi terletak pada pemahaman kita atas dalil tersebut. Sebab ilmu yang benar harus memenuhi 3 hal yaitu tahu dalil, tahu dalil itu seharusnya dipahami, dan tahu penerapan dalil tersebut. Fenomena perbedaan yang menimbulkan permusuhan di antara gerakan islam adalah dikarenakan tidak mampu memahami ilmu secara benar. Biru: Oleh karena itu, kalau kita membuka informasi sebanyak-banyaknya dan tidak hanya tertuju pada satu pemahaman, maka kita akan mendapatkan informasi yang lebih banyak dan akan tidak menimbulkan ke-taqlid-an kepada satu pemahaman sehingga perbedaan pendapat dapat disikapi dengan baik. Dan budaya perpikir, budaya analisis dan budaya diskusi akan dapat dikembangkan sehingga budaya pengembangan keilmuan akan dapat terjadi dengan sendirinya. Keenam, Monopli ilmu. Sebagai contoh penyimpangan yang terjadi dalam LDII adalah cara penyampaian ilmu harus melalui jalur dari orang-orang yang ada did lam jamaah tersebut. Sehingga disini ada monopoli ilmu yang notabene melarang orang selain kelompok tersebut untuk menyampaikan kebenaran. Hasil akhir dari cara-cara seperti ini adalah mengkafirkan orang lain yang ada tidak menjadi anggota jamaah tersebut. Biru: Itulah juga merupakan salah satu hasil dari tidak berkembangnya budaya berfikir, budaya analisis dan budaya diskusi. Sehingga taqlid dan monopoli ke-ilmu-an akan terjadi Ketujuh, hobi memvonis. Dalam dakwah, tugas seorang daI adalah menyampaikan petunjuk bukannya malah memvonis orang lain seperti haki. Sedikit-sedikit melemparkan tuduhan bidah, kafir, bara dan sebagainya. Nah, saatnya aktivis bangkit untuk menyelesaikan krisis ini dengan rajin menghadiri majelis ilmu dengan semangat tinggi. Biru: Hal ini juga merupakan salah satu hasil tidak berkembangnya budaya berfikir, budaya analisis dan budaya diskusi Semoga kita semua mendapat petunjuk dari Allah ____________________________________________________________________________________ Never miss an email again! Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/
