Masalah di negeri kita banyak sekali, Mas Saiful. Harus ditangani satu-satu 
secara terpisah. Ada masalah peredaran miras dan narkotik. Ada masalah 
pelacuran. Ada masalah anarkisme seperti FPI itu. Ada sejibun masalah lain yang 
menunggu penyelesaian.

Kalau pemerintah mengatasi anarkisme FPI dengan menangkap sejumlah anggota 
mereka, ya harus kita dukung. Jangan lalu kita mengatakan, pemerintah tak adil 
karena hanya memperhatian masalah FPI sementara mengabaikan masalah peredaran 
miras dan lain-lain.

Masalah peredaran miras dan narkotik juga perlu ditangani. Masalah-masalah lain 
juga banyak yang harus ditangani. Kalau pemerintah lalai, harus dikritik. 
Tetapi tak boleh main hakim sendiri kayak FPI itu.

AB

saiful yazid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                             Menurut 
saya sih, ya walaupun tindakan yang dilakukan oleh FPI anarkis dan terkesan 
radikal. Itu juga ada hikmahnya namun bukan berarti tindakan tersebut mesti 
diteruskan. Dengan pengertian, boleh jadi FPI bertindak radikal ya gara2 
pemerintah sendiri yang kurang tegas dalam menjaga lingkungan kebebasan 
beragama. Seperti penjualan minuman keras yang secara bebas tanpa mengira usia 
dan lingkungan. Di Amerika saja batas usia boleh minum miras minimal 21 tahun. 
Lho di indoensia yang mayoritas islam dan menyakini miras itu haram, anak-anak 
ingusan smp dan sma mudah saja cari miras di tokoh-tokoh "terdekat". Trus apa 
pemerintah tidak mempunyai kebijaksanaan dalam melindungi kebebasan beragama 
masyarakat islam dan nasib generasi muda dengan mengatur produksi, dan 
distribusi miras? Di Malaysia saja yang penduduk Islamnya paling banter 60 %. 
Pemerintah dengan tegas hanya mengizinkan miras untuk kalangan non-islam
 dan hanya dijual oleh toko2 tertentu dan harus
  ada surat izin. Jnagankan miras, rokok pun di malaysia tidak semua toko 
menjualnya dan itupun rokok yang djual kadar nikotin dan tarnya mesti mengikuti 
standar kementrian kesehatan malaysia. 
 
 Jadi intinya ya pemerintah mesti tegas menjaga kebebasan beragama, bukan hanya 
menjaga kebebasan hak beragama aliran2 yang baru muncul namun juga mesti 
menjaga kebebebasan beragama para penganut agama senior. Nah dalam konteks FPI, 
boleh jadi mereka sudah tidak tahan melihat ulah pemerintah dalam menerapkan 
"kebebasan beragama" yang menabrak pagar kebebasan beragama masyakat sekitar. 
Jadinya ya FPI anarkis, menyerbu tempat pelacuran, mensweeping miras dan lain 
sebagainya. Jadi sekarang PEMERINTAH juga mesti intropeksilah. Jangan ketika 
ada tindakan anarkis baru bertindak. Itu kan lagu lama, "POLISI DATANG SETELAH 
ADANYA PERAMPOKAN" HEHEHHEHEHHE
 
 THANK
 
 --- On Thu, 6/5/08, Ahmad Badrudduja &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt; wrote:
 From: Ahmad Badrudduja &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt;
 Subject: Re: [kmnu2000] PBNU: FPI &amp; AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi 
Ahmadiya
 To: [email protected]
 Date: Thursday, June 5, 2008, 9:01 AM
 
 Ghirah Islamiyah bagus. Tetapi yang memiliki ghirah bukan hanya orang-orang 
yang selama ini berteriak-teriak membela Islam seperti FPI. Orang-orang yang 
memperjuangkan pluralisme seperti Gus Dur juga punya ghirah Islamiyyah juga.
 
 Ini yang perlu diluruskan. Selama ini masyarakat salah kaprah menganggap bahwa 
mereka yang paling teriak keras Allahu Akbar, merekalah yang paling dianggap 
memiliki ghirah Islamiyyah.
 
 Sementara kelompok-kelompok yang mengikuti ide-ide Gus Dur dianggap pro 
kelompok non-Islam, tak memiliki ghirah sama sekali.
 
 Menurut saya, ini adalah anggapan yang sama sekali tak tepat. Ghirah mempunyai 
banyak bentuk. Apapun bentuknya, ghirah harus dilaksanakan dengan cara dan 
metode yang benar. Kalau ghirah disalurkan dengan cara seperti FPI atau 
ormas-ormas Islam radikal itu, ya justru malah menjadi boomerang bagi Islam 
sendiri. Artinya, menjadi senjata yang makan tuan.
 
 AHMAD
 
 Muhammad Kholil Hamzah &lt;[EMAIL PROTECTED] net&gt; wrote:                    
         Ghiroh Islamiyah, progresip dan toleran jangan disalah artikan.
 
 Orang punya Ghiroh Islamiyah jangan bilang gak toleran. Karena smua
 
 ada tempatnya. Saya kira kita harus bijak mensikapi
 
 On 6/3/08, Hatim Gazali &lt;ahatim_cain@ yahoo.com&gt; wrote:
 
 &gt; Kayaknya pak hasyim perlu banyak belajar dan membaca buku lagi sebelum
 
 &gt; berkomentar. Aku kangen dengan pemimpin NU yang progresif seperti yang
 
 &gt; pernah ditunjukkan oleh Gus Dur. Adakah yang bisa mewakili Gus Dur di 
PBNU?
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 &gt; Nur Rochman &lt;[EMAIL PROTECTED] id&gt; wrote:
 
 &gt;           Kalau memang Kyai Hasyim punya bukti penodaan dan penistaan 
agama,
 
 &gt; maka sudah sepatutnya beliau mengadukan Ahmadiyah ke Pengadilan, yo opo 
Pak
 
 &gt; Kyai kok malah pernyataannya seperti ini njenengan ini pemimpin umat bukan
 
 &gt; ketua umum parpol seharusnya cukup ngerti kasus monas itu jelas ada
 
 &gt; kekerasaan secara terorganisir oleh sekelompok orang dalam sebuah negara
 
 &gt; yang menyatakan sebagai negara hukum.
 
 &gt;
 
 &gt; Apakah benar bahwa Ahmadiyah itu menodai agama islam, bagaimana dengan
 
 &gt; kelompok yang melakukan kekerasaan atas nama agama islam....... .itu bukan
 
 &gt; penodaan agama pak kyai........ ???
 
 &gt;
 
 &gt; Regards
 
 &gt;
 
 &gt; 03/06/2008 14:42 WIB
 
 &gt; PBNU: FPI &amp; AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi Ahmadiyah
 
 &gt; Nurul Hidayati - detikcom
 
 &gt;
 
 &gt; Jakarta - Bagaimana PBNU, ormas Islam terbesar di Tanah Air memandang 
rusuh
 
 &gt; Monas 1 Juni? Mereka berpandangan, baik FPI maupun AKKBB, keliru memaknai
 
 &gt; Ahmadiyah.
 
 &gt;
 
 &gt; "Kelompok yang berada di Monas (FPI dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan
 
 &gt; Beragama dan Berkeyakinan/ AKKBB) keliru meletakkan konotasi Ahmadiyah 
ini,
 
 &gt; sehingga mereka mengatakan bahwa Ahmadiyah ini adalah masalah kebebasan
 
 &gt; beragama dan berkeyakinan, " kata Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dalam
 
 &gt; pernyataan tertulis yang dikirimkan pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
 
 &gt;
 
 &gt; Hasyim menuturkan, sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah 
kebebasan
 
 &gt; beragama dan berkeyakinan, tetapi ada masalah penodaan agama tertentu, 
dalam
 
 &gt; hal ini adalah Islam.
 
 &gt;
 
 &gt; Menurutnya, kalau Ahmadiyah lahir sebagai agama tersendiri, itu tidak
 
 &gt; masalah. Tapi kalau dia (Ahmadiyah) mengaku Islam, lalu nabinya ada dua, 
itu
 
 &gt; masalah dalam konteks ke-Islam-an, tidak dalam konteks agamanya 
(Ahmadiyah).
 
 &gt;
 
 &gt; "Saya kira, dalam agama lain pun demikian. Misal, jika ada orang Kristen 
dan
 
 &gt; saya orang Islam, tentu ia harus rela, karena hal itu adalah masalah
 
 &gt; kebebasan beragama. Tapi, jika ada orang Kristen mengaku orang Kristen, 
tapi
 
 &gt; salibnya tidak ada Yesus-nya, tapi gambar orang lain, dia tersinggung
 
 &gt; enggak? Berarti itu adalah penodaan terhadap intern Kristen sendiri," 
beber
 
 &gt; Hasyim.
 
 &gt;
 
 &gt; Jadi, imbuh Hasyim, ini adalah masalah meletakkan Ahmadiyah dalam konteks
 
 &gt; kebebasan beragama, padahal ini konteksnya adalah pembelokan dari agama
 
 &gt; tertentu. Lain kalau dia (Ahmadiyah) sebagai agama sendiri, itu malah 
bebas,
 
 &gt; dalam konteks konstitusi Indonesia.
 
 &gt;
 
 &gt; "Jadi, hendaknya dibedakan antara kebebasan beragama dan berkeyakinan 
dengan
 
 &gt; masalah penodaan terhadap agama tertentu. Lalu, terjadi kekaburan atas dua
 
 &gt; hal yang saya sebutkan tadi," ungkapnya.
 
 &gt;
 
 &gt; Hasyim juga menyatakan, pihak yang menyerang telah melakukan kesalahan di
 
 &gt; mana kekerasan dilakukan tanpa prosedur hukum yang berlaku. Apa pun
 
 &gt; alasannya, hal itu tidak dapat dibenarkan di dalam negara hukum seperti
 
 &gt; Indonesia ini.
 
 &gt;
 
 &gt; Pemerintah sendiri, lanjut Hasyim, sampai hari ini lebih banyak berwacana
 
 &gt; daripada melakukan tindakan prevensi dan represi. Prevensi artinya 
mencegah
 
 &gt; agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Represi agar bisa 
menekan
 
 &gt; mereka gerakan yang bertentangan dengan hukum negara. ( nrl / asy )
 
 &gt;
 
 &gt; [Non-text portions of this message have been removed]
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 &gt; [Non-text portions of this message have been removed]
 
 &gt;
 
 &gt;
 
 Ahmad Badrudduja 
 
 Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi nafsihi 
 
 Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat
 
 -- Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
  
   
  
  
 
  
 
  
  
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                                       

       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke