Oh ya sebagai info tambahan. Pemerintah Malaysia mulai kemarin telah menaikkan 
harga BBM sekitar 40 %. jadi BBM di Malaysia lebih mahal daripada di indonesia. 
Walau begitu, hanya sekelompok kecil, terutama partai oposisi saja (DAP) yang 
mengadakan demo. Boleh jadi ini disebabkan dua kemungkinan. Pertama, kebijakan 
ekonomi tidaklah sebebas seperti di indoensia, jadinya masyarakat takut untuk 
demo. Kedua,Walaupun kenaikan ini sangat membebankan, namun rakyat malaysia 
bisa memakluminya. Apalagi BBM di negara-negara lain pada naik semua, bahkan 
lebih mahal daripada malaysia, seperti Thailand dan Singapura.

Kalau konteks kenaikan BBM di Malaysia jauh sekali perbedaannya dengan kondisi 
di Indonesia. Di Malaysia walaupun BBM naik, pendapat mereka masih cukup besar. 
Ya kalau kerja buruh di Indoensia perjam digaji Rp 3000-4000 maka di Malaysia 
perjam digaji Rp 10.000-13.000. Terus masalah kerjaan masih mudah didapat asal 
tidak pilih2. Bukti jumlah pekerja asing masih banyak yang diperlukan. Juga 
fasilitas pendidikan dan kesehatan masih bersubsidi besar. Terus tekad 
pemerintah Malaysia tidak akan menaikkan harga angkutan umum, bahkan 
fasilitasnya akan ditingkatkan. Selain itu harga bahan2 pokok yang tetap 
distabilkan. Bahkan setiap orang yang mempunyai mobil dan motor pribadi akan 
dapat subsidi uang. Mobil sekitar Rp 1.800.000 tiap tahun dan motor Rp 400.000 
tiap tahun.

Maka berbeda sekali dengan konteks Indonesia, yang gajinya kecil yang sampai2 
gaji dosenpun kalau dibandingkan gaji penjaga toilet di singapur masih 
seperuhnya, pekerjaan susah, fasilitas umum  bayar mahal, dan fasilitas 
sosialpun susah. Maka dalam perbandingan ini, wajar sekali rakyat indonesia 
menjerit-jerit  dengan kenaikan BBM tidak sekeras jeritan rakyat  
malaysia. 

PADAHAL SDM dan SDA MALAYSIA KALAU DIBANDINGKAN DENGAN INDONESIA TIDAK 
SEBERAPA. Maka fikir-fikirkanlah JANGAN HANYA TAWURAN  SENDIRI. ORANG 
LAIN  SUDAH  MAKAN HAMBURGER LHO KOK INI JUSTRU MASIH REBUTAN  
BUAH PENCIT hehehehhehe

Thank 

--- On Thu, 6/5/08, saiful yazid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: saiful yazid <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [kmnu2000] PBNU: FPI & AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi 
Ahmadiya
To: [email protected]
Date: Thursday, June 5, 2008, 7:23 PM










    
            Menurut saya sih, ya walaupun tindakan yang dilakukan oleh FPI 
anarkis dan terkesan radikal. Itu juga ada hikmahnya namun bukan berarti 
tindakan tersebut mesti diteruskan. Dengan pengertian, boleh jadi FPI bertindak 
radikal ya gara2 pemerintah sendiri yang kurang tegas dalam menjaga lingkungan 
kebebasan beragama. Seperti penjualan minuman keras yang secara bebas tanpa 
mengira usia dan lingkungan. Di Amerika saja batas usia boleh minum miras 
minimal 21 tahun. Lho di indoensia yang mayoritas islam dan menyakini miras itu 
haram, anak-anak ingusan smp dan sma mudah saja cari miras di tokoh-tokoh 
"terdekat". Trus apa pemerintah tidak mempunyai kebijaksanaan dalam melindungi 
kebebasan beragama masyarakat islam dan nasib generasi muda dengan mengatur 
produksi, dan distribusi miras? Di Malaysia saja yang penduduk Islamnya paling 
banter 60 %. Pemerintah dengan tegas hanya mengizinkan miras untuk kalangan 
non-islam dan hanya dijual oleh toko2 tertentu
 dan harus

 ada surat izin. Jnagankan miras, rokok pun di malaysia tidak semua toko 
menjualnya dan itupun rokok yang djual kadar nikotin dan tarnya mesti mengikuti 
standar kementrian kesehatan malaysia. 



Jadi intinya ya pemerintah mesti tegas menjaga kebebasan beragama, bukan hanya 
menjaga kebebasan hak beragama aliran2 yang baru muncul namun juga mesti 
menjaga kebebebasan beragama para penganut agama senior. Nah dalam konteks FPI, 
boleh jadi mereka sudah tidak tahan melihat ulah pemerintah dalam menerapkan 
"kebebasan beragama" yang menabrak pagar kebebasan beragama masyakat sekitar. 
Jadinya ya FPI anarkis, menyerbu tempat pelacuran, mensweeping miras dan lain 
sebagainya. Jadi sekarang PEMERINTAH juga mesti intropeksilah. Jangan ketika 
ada tindakan anarkis baru bertindak. Itu kan lagu lama, "POLISI DATANG SETELAH 
ADANYA PERAMPOKAN" HEHEHHEHEHHE



THANK



--- On Thu, 6/5/08, Ahmad Badrudduja <ahmadbadrudduja@ yahoo.com> 
wrote:

From: Ahmad Badrudduja <ahmadbadrudduja@ yahoo.com>

Subject: Re: [kmnu2000] PBNU: FPI & AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi 
Ahmadiya

To: [EMAIL PROTECTED] s.com

Date: Thursday, June 5, 2008, 9:01 AM



Ghirah Islamiyah bagus. Tetapi yang memiliki ghirah bukan hanya orang-orang 
yang selama ini berteriak-teriak membela Islam seperti FPI. Orang-orang yang 
memperjuangkan pluralisme seperti Gus Dur juga punya ghirah Islamiyyah juga.



Ini yang perlu diluruskan. Selama ini masyarakat salah kaprah menganggap bahwa 
mereka yang paling teriak keras Allahu Akbar, merekalah yang paling dianggap 
memiliki ghirah Islamiyyah.



Sementara kelompok-kelompok yang mengikuti ide-ide Gus Dur dianggap pro 
kelompok non-Islam, tak memiliki ghirah sama sekali.



Menurut saya, ini adalah anggapan yang sama sekali tak tepat. Ghirah mempunyai 
banyak bentuk. Apapun bentuknya, ghirah harus dilaksanakan dengan cara dan 
metode yang benar. Kalau ghirah disalurkan dengan cara seperti FPI atau 
ormas-ormas Islam radikal itu, ya justru malah menjadi boomerang bagi Islam 
sendiri. Artinya, menjadi senjata yang makan tuan.



AHMAD



Muhammad Kholil Hamzah <[EMAIL PROTECTED] . net> wrote:           
                  Ghiroh Islamiyah, progresip dan toleran jangan disalah 
artikan.



Orang punya Ghiroh Islamiyah jangan bilang gak toleran. Karena smua



ada tempatnya. Saya kira kita harus bijak mensikapi



On 6/3/08, Hatim Gazali <ahatim_cain@ yahoo.com> wrote:



> Kayaknya pak hasyim perlu banyak belajar dan membaca buku lagi sebelum



> berkomentar. Aku kangen dengan pemimpin NU yang progresif seperti yang



> pernah ditunjukkan oleh Gus Dur. Adakah yang bisa mewakili Gus Dur di 
PBNU?



>



>



> Nur Rochman <[EMAIL PROTECTED] id> wrote:



>           Kalau memang Kyai Hasyim punya bukti penodaan dan penistaan 
agama,



> maka sudah sepatutnya beliau mengadukan Ahmadiyah ke Pengadilan, yo 
opo Pak



> Kyai kok malah pernyataannya seperti ini njenengan ini pemimpin umat 
bukan



> ketua umum parpol seharusnya cukup ngerti kasus monas itu jelas ada



> kekerasaan secara terorganisir oleh sekelompok orang dalam sebuah 
negara



> yang menyatakan sebagai negara hukum.



>



> Apakah benar bahwa Ahmadiyah itu menodai agama islam, bagaimana dengan



> kelompok yang melakukan kekerasaan atas nama agama islam....... .itu 
bukan



> penodaan agama pak kyai........ ???



>



> Regards



>



> 03/06/2008 14:42 WIB



> PBNU: FPI & AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi Ahmadiyah



> Nurul Hidayati - detikcom



>



> Jakarta - Bagaimana PBNU, ormas Islam terbesar di Tanah Air memandang 
rusuh



> Monas 1 Juni? Mereka berpandangan, baik FPI maupun AKKBB, keliru 
memaknai



> Ahmadiyah.



>



> "Kelompok yang berada di Monas (FPI dan Aliansi Kebangsaan untuk 
Kebebasan



> Beragama dan Berkeyakinan/ AKKBB) keliru meletakkan konotasi Ahmadiyah 
ini,



> sehingga mereka mengatakan bahwa Ahmadiyah ini adalah masalah kebebasan



> beragama dan berkeyakinan, " kata Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dalam



> pernyataan tertulis yang dikirimkan pada detikcom, Selasa (3/6/2008).



>



> Hasyim menuturkan, sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah 
kebebasan



> beragama dan berkeyakinan, tetapi ada masalah penodaan agama tertentu, 
dalam



> hal ini adalah Islam.



>



> Menurutnya, kalau Ahmadiyah lahir sebagai agama tersendiri, itu tidak



> masalah. Tapi kalau dia (Ahmadiyah) mengaku Islam, lalu nabinya ada 
dua, itu



> masalah dalam konteks ke-Islam-an, tidak dalam konteks agamanya 
(Ahmadiyah).



>



> "Saya kira, dalam agama lain pun demikian. Misal, jika ada orang 
Kristen dan



> saya orang Islam, tentu ia harus rela, karena hal itu adalah masalah



> kebebasan beragama. Tapi, jika ada orang Kristen mengaku orang 
Kristen, tapi



> salibnya tidak ada Yesus-nya, tapi gambar orang lain, dia tersinggung



> enggak? Berarti itu adalah penodaan terhadap intern Kristen sendiri," 
beber



> Hasyim.



>



> Jadi, imbuh Hasyim, ini adalah masalah meletakkan Ahmadiyah dalam 
konteks



> kebebasan beragama, padahal ini konteksnya adalah pembelokan dari agama



> tertentu. Lain kalau dia (Ahmadiyah) sebagai agama sendiri, itu malah 
bebas,



> dalam konteks konstitusi Indonesia.



>



> "Jadi, hendaknya dibedakan antara kebebasan beragama dan berkeyakinan 
dengan



> masalah penodaan terhadap agama tertentu. Lalu, terjadi kekaburan atas 
dua



> hal yang saya sebutkan tadi," ungkapnya.



>



> Hasyim juga menyatakan, pihak yang menyerang telah melakukan kesalahan 
di



> mana kekerasan dilakukan tanpa prosedur hukum yang berlaku. Apa pun



> alasannya, hal itu tidak dapat dibenarkan di dalam negara hukum seperti



> Indonesia ini.



>



> Pemerintah sendiri, lanjut Hasyim, sampai hari ini lebih banyak 
berwacana



> daripada melakukan tindakan prevensi dan represi. Prevensi artinya 
mencegah



> agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Represi agar bisa 
menekan



> mereka gerakan yang bertentangan dengan hukum negara. ( nrl / asy )



>



> [Non-text portions of this message have been removed]



>



>



>



>



>



>



>



> [Non-text portions of this message have been removed]



>



>



Ahmad Badrudduja 



Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi nafsihi 



Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat



-- Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)



[Non-text portions of this message have been removed]



        

         

        

        



        



        

        



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke