Ghiroh Islamiyah, progresip dan toleran jangan disalah artikan.
Orang punya Ghiroh Islamiyah jangan bilang gak toleran. Karena smua
ada tempatnya. Saya kira kita harus bijak mensikapi

On 6/3/08, Hatim Gazali <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kayaknya pak hasyim perlu banyak belajar dan membaca buku lagi sebelum
> berkomentar. Aku kangen dengan pemimpin NU yang progresif seperti yang
> pernah ditunjukkan oleh Gus Dur. Adakah yang bisa mewakili Gus Dur di PBNU?
>
>
> Nur Rochman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Kalau memang Kyai Hasyim punya bukti penodaan dan penistaan agama,
> maka sudah sepatutnya beliau mengadukan Ahmadiyah ke Pengadilan, yo opo Pak
> Kyai kok malah pernyataannya seperti ini njenengan ini pemimpin umat bukan
> ketua umum parpol seharusnya cukup ngerti kasus monas itu jelas ada
> kekerasaan secara terorganisir oleh sekelompok orang dalam sebuah negara
> yang menyatakan sebagai negara hukum.
>
> Apakah benar bahwa Ahmadiyah itu menodai agama islam, bagaimana dengan
> kelompok yang melakukan kekerasaan atas nama agama islam........itu bukan
> penodaan agama pak kyai........???
>
> Regards
>
> 03/06/2008 14:42 WIB
> PBNU: FPI & AKKBB Keliru Meletakkan Konotasi Ahmadiyah
> Nurul Hidayati - detikcom
>
> Jakarta - Bagaimana PBNU, ormas Islam terbesar di Tanah Air memandang rusuh
> Monas 1 Juni? Mereka berpandangan, baik FPI maupun AKKBB, keliru memaknai
> Ahmadiyah.
>
> "Kelompok yang berada di Monas (FPI dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan
> Beragama dan Berkeyakinan/AKKBB) keliru meletakkan konotasi Ahmadiyah ini,
> sehingga mereka mengatakan bahwa Ahmadiyah ini adalah masalah kebebasan
> beragama dan berkeyakinan," kata Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi dalam
> pernyataan tertulis yang dikirimkan pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
>
> Hasyim menuturkan, sebenarnya, masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan
> beragama dan berkeyakinan, tetapi ada masalah penodaan agama tertentu, dalam
> hal ini adalah Islam.
>
> Menurutnya, kalau Ahmadiyah lahir sebagai agama tersendiri, itu tidak
> masalah. Tapi kalau dia (Ahmadiyah) mengaku Islam, lalu nabinya ada dua, itu
> masalah dalam konteks ke-Islam-an, tidak dalam konteks agamanya (Ahmadiyah).
>
> "Saya kira, dalam agama lain pun demikian. Misal, jika ada orang Kristen dan
> saya orang Islam, tentu ia harus rela, karena hal itu adalah masalah
> kebebasan beragama. Tapi, jika ada orang Kristen mengaku orang Kristen, tapi
> salibnya tidak ada Yesus-nya, tapi gambar orang lain, dia tersinggung
> enggak? Berarti itu adalah penodaan terhadap intern Kristen sendiri," beber
> Hasyim.
>
> Jadi, imbuh Hasyim, ini adalah masalah meletakkan Ahmadiyah dalam konteks
> kebebasan beragama, padahal ini konteksnya adalah pembelokan dari agama
> tertentu. Lain kalau dia (Ahmadiyah) sebagai agama sendiri, itu malah bebas,
> dalam konteks konstitusi Indonesia.
>
> "Jadi, hendaknya dibedakan antara kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan
> masalah penodaan terhadap agama tertentu. Lalu, terjadi kekaburan atas dua
> hal yang saya sebutkan tadi," ungkapnya.
>
> Hasyim juga menyatakan, pihak yang menyerang telah melakukan kesalahan di
> mana kekerasan dilakukan tanpa prosedur hukum yang berlaku. Apa pun
> alasannya, hal itu tidak dapat dibenarkan di dalam negara hukum seperti
> Indonesia ini.
>
> Pemerintah sendiri, lanjut Hasyim, sampai hari ini lebih banyak berwacana
> daripada melakukan tindakan prevensi dan represi. Prevensi artinya mencegah
> agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Represi agar bisa menekan
> mereka gerakan yang bertentangan dengan hukum negara. ( nrl / asy )
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>

Kirim email ke