gini nih, kalau "milik-memiliki" diletakkan dalam konteks politik.
2008/11/15 muhammad zakiy muntazhar <[email protected]> > Jakarta, NU Online > Sejumlah tokoh muda atau politikus lintas partai politik, satu kata > mengeritik iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang > menampilkan beberapa tokoh dan pahlawan nasional. > > Politikus muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Marwan Ja'far, > misalnya, menyebut langkah PKS sebagai tindakan `mengambil milik > orang lain tanpa izin'. Walau tidak disengaja, katanya, hal itu > merupakan perbuatan berdosa. > > Ditampilkannya sosok Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH > Hasyim Asy'ari dalam iklan tersebut, menurutnya, termasuk dalam > perbuatan `mengambil milik orang lain tanpa izin'. > > "Ini namanya ghosob, yaitu perbuatan mengambil milik orang lain tanpa > izin walau tidak disengaja, dan itu dosa," tegas Ja'far dalam diskusi > Dialektika Demokrasi bertajuk 'Iklan Politik: Tokoh Nasional Milik > Siapa?' di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (14/11). > > Selain itu, tambah Ja'far, antara NU dan PKS terdapat perbedaan > ideologis yang sangat tajam. "Ini politik kekanak-kekanakan yang luar > biasa. Jika di lapangan tidak sesuai dengan ideologi NU, itu suatu > kemunafikan," terangnya. > > Hal senada dikatakan Ketua Departemen Pemuda DPP Partai Demokrasi > Indonesia Perjuangan (PDIP), Budiman Soedjatmiko, yang juga hadir > pada kesempatan itu. Menurutnya, iklan politik tersebut cukup jelas > telah berupaya membohongi rakyat. > > Ditampilkannya mantan presiden Soeharto sebagai guru bangsa, ujarnya, > cukup untuk disebut upaya mengelabui rakyat. Sebab, selama berkuasa, > mantan penguasa Orde Baru itu melakukan pembunuhan demokrasi, > pelanggaran hak asasi manusia dan lain-lain. > > "Meski belum terbukti secara hukum Soeharto melakukan korupsi, tapi > siapa yang menjamin bahwa Soeharto itu bersih? Ini bukan masalah maaf > memaafkan dan rekonsiliasi, tapi meletakkan sejarah pemimpin bangsa > ini secara benar dan proporsional," jelas Budiman. > > "Jadi, kalau Soeharto dalam iklan PKS sebagai guru bangsa ditambah > menampilkan tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, KH Hasyim Asy'ari, > KH A. Dahlan, Tan Malaka, dan lain-lain, itu jelas membohongi > masyarakat," imbuhnya. > > Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Matahari Bangsa (PMB), Yusuf > Warsim, mengungkapkan bahwa iklan adalah salah satu media untuk > "berjualan". Konsekuensinya adalah di dalamnya mesti terdapat banyak > kebohongan. > > Karena itu, PMB, kata Yusuf, pada pemilu 2009 nanti tidak akan > "jualan" tokoh dan simbol-simbol, apalagi dengan menampilkan > Soeharto. "Soeharto itu mempunyai masalah besar yang belum selesai > terhadap bangsa dan negara ini. Bahkan, saya tidak bisa memaafkan > Soeharto, karena beliau bertindak represif. Saya pernah diinterogasi > aparat ketika turun dari mimbar khotbah Jumat akibat mengeritik > Orba," tandas Yusuf. > > Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Fachri Hamzah, berbeda pendapat. > Menurutnya, iklan politik itu bertujuan "memecahkan" politik aliran > dan sekat-sekat politik yang terjadi dalam masyarakat. PKS, katanya, > merupakan partai pluralis. > > "PKS memang tidak mempunyai tokoh. Karena itu, tidak menjual tokoh- > tokoh PKS," ungkap Fachri. (nif) > > > [Non-text portions of this message have been removed]
