Anam yang baik,

Terimakasih atas komentar sampeyan mengenai tulisan suami saya. Alhamdulillah, 
sekalipun sedikit nyentil, saya cukup toleran kok menerima masukan, Nggak 
apa-apa kalau dianggap nggak bermutu. Nggak apa-apa juga kalau "hanya" dengan 
tulisan suami saya yang sederhana, sampeyan menyarankan orang untuk tidak 
memilih saya. Prinsip saya cuman satu kun fayakun. Kalau Allah menghendaki saya 
jadi..ya jadilah. Allah lah yang akan mengatur perjalanan saya kesana. 
Sebaliknya kalau Allah menghendaki lain...saya hanya bisa berpasrah diri kepada 
Nya.

Megenai kritikan sampeyan, sudah saya sampaikan ke suami saya, dan di bawah ini 
adalah jawabannya.

Kalau Anam tidak bisa menemukan logika yang nyambung antara "persaudaraan umat 
Islam sedunia dalam satu warna pakaian ihram" dengan "toleransi antar agama" 
itu barangkali karena Anam biasa mengikuti logika binar yang mengasumsikan 
bahwa kalau satu kelompok mengkonsolidasikan diri maka akan muncul sikap 
menyepelekan atau bahkan memusuhi kelompok lain. Dalam kasus ini, asumsi yang 
dipikirkan (kalau di penelitian itu sih disebutkan "negaranya orang bule") 
bahwa: jemaah haji yang kumpul bareng, ngobrol, ibadah bareng, pakai ihram itu 
kemudian terdorong untuk semakin merasa bersaudara (atau "persaudaraan umat 
Islam sedunia dalam satu warna pakaian ihram") akan juga terdorong untuk 
"memusuhi" umat lainnya atau "tidak toleran". Memang sebagian sosiolog seperti 
Tajfel berpendapat seperti itu dan itu juga dirujuk oleh penelitian haji itu 
"the idea that strengthening the attachment to an in-group may lead to more 
negative feelings towards an out-group." 

Nah, justru analisis dikotomis seperti inilah yang ditolak oleh penelitian 
tentang haji tersebut. Dan itu dapat dibuktikan. Justru jemaah haji yang 
semakin kuat rasa persaudaraannya di satu sisi, semakin "open minded" dan 
memiliki sikap toleran terhadap bangsa dan agama lain di sisi lain. Kalau 
dianalogikan lewat bahasa Indonesia, itu kira-kira bergerak dari "kami" (atau 
we exclusive)  menuju "kita" (atau we inclusive) dan bukan dari "kami" untuk 
berbeda dengan "mereka". Kalau kata penelitian itu "Our evidence suggests that 
while Hajjis positively update their views towards groups they were exposed to 
on the Hajj, this positive updating also extends to their views on groups they 
were not exposed to."

Dalam tulisan Ibadah Haji dan Toleransi sebenarnya hubungan antara hal-hal di 
atas itu disinggung, meski singkat (maklum untuk bahan diskusi pengajian). 
Misalnya di tulisan itu disebutkan:

     Lebih
dari munculnya perasaan bersatu, ibadah haji juga mendorong agar umat
Islam bisa hidup harmonis dengan perbedaan-perbedaan yang ada (p.19).
... Bahwa kehidupan yang harmonis bisa dibangun
dengan menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan di antara umat Islam
tanpa mengecilkan pihak lain. ... Apakah
sikap positif itu (maksudnya, keinginan untuk hidup harmonis dengan semakin 
"toleran" atau menghargai pihak lain sesama muslim itu) juga melebar ke orang 
atau bangsa lain non-muslim?
Penelitian tentang haji ini menjawab dengan affirmatif. Ya (maksudnya jemaah 
haji ternyata juga toleran dengan agama lain atau orang dengan agama lain).  
Kalau kemudian tulisan itu ditutup dengan pembicaraan tentang "toleransi 
beragama" atau sebetulnya cukup kata toleransi saja, itu karena ada kejumbuhan 
di sebagian benak warga Indonesia tentang arti toleransi. Toleransi diartikan 
sebagai "kerjasama" sehingga kalau dilakukan persamaan "toleransi beragama" = 
"kerjasama beragama". Tentu persamaan seperti ini misleading dan oleh karenanya 
muncul kata-kata sebagian ustadz "tidak ada toleransi dalam aqidah". Lho, kok 
jadi gitu? Wong toleransi itu menurut bahasa adalah "sepakat untuk berbeda dan 
tidak saling mengganggu" sehingga harusnya "toleransi beragama" diartikan 
"sepakat untuk saling beda aqidah tanpa saling utak-atik aqidah orang lain 
sebagai bentuk rasa respek" dan bukan "mari kerjasama hari ini aqidahmu kita 
pakai besok aqidahku". Karena yang terakhir ini bukalah toleransi namanya. 

Jadi Ibadah Haji memang mendorong Toleransi (tanpa atau dengan embel-embel apa 
pun). 

Nah, moga- moga terjadi polemik disini, lumayan kan, saya bisa jadi moderator 
antara Anam dengan pak Taufiq :))
Terakhir, salam kenal juga. Sesungguhnya ucapan ini sungguh aneh, karena saya 
merasa menjadi member di milis ini sudah cukup laaamaaa. Dan terkadang saya 
juga membaca nama Anam di situ, pertanyaannya, kenapa kita tidak kemudian 
merasa saling mengenal meskipun itu hanya terjadi di dunia maya? Kalau memang 
ini kenyataannya, saya justru sangat bersyukur, bahwa dengan tulisan suami saya 
yang sederhana ini bisa menjadikan kita secara real saling bersilaturahmi. 

Di atas gunung masih ada langit, di atas langit masih ada Tuhan Azza wa Jalla. 
Semoga dengan pertemanan ini tidak menjadikan kita manusia yang sombong.


Salam,

Rosa
http://safiramachrusah.blogspot.com




--- On Tue, 16/12/08, Kh Anam <[email protected]> wrote:
From: Kh Anam <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] Ibadah haji dan toleransi
To: [email protected]
Received: Tuesday, 16 December, 2008, 9:01 PM










    
            Mbak Rosa,

Gagasannya dipaksakan sekali, sepertinya tulisan ini muncul gara-gara

beasiswa, hehe.. Tidak ada kaitan antara persaudaraan umat Islam sedunia

dalam satu warna pakaian ihram dengan toleransi antar agama. Logikanya tidak

nyambung. Suami anda juga tidak berusaha menghubungkan dua topik yang

berbeda itu. Topik pertama dipaparkan begitu saja sekedar untuk memancing

rasa Islam, kemudian topik kedua disusulkan sebagai bagian dari ide besar

yang akan dikembangkan. Kurang intelektual mbak, ngisin-ngisini. .. Kalu saya

warga Jawa Tengah, saya tidak akan memilih anda...



Salam kenal,

Anam



 
         
        
        








        


        
        


      Start your day with Yahoo!7 and win a Sony Bravia TV. Enter now 
http://au.docs.yahoo.com/homepageset/?p1=other&p2=au&p3=tagline

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke