Sekali-kali "nyinyir" (kata Mas Nadirsyah dan Syaikhul) ya tidak apa. Di dunia nyata kita sering berbasa-basi, masa di dunia yang maya ini juga harus begitu. Dan ini kan risikonya berkampanye di lapangan terbuka. Lagian, kata Mas Tukul, pujian itu racun.
Begini Mbak, Saya tidak ada masalah dengan persaudaraan muslim sebagai hikmah haji dan gagasan toleransi umat beragama. Saya juga tidak sedang bertanya apakah kain ihram yang putih, wukuf, thawaf, sa'i, talbiyah atau bahasa arab malah memicu permusuhan kepada non muslim atau sebaliknya. Saya hanya menyoal tulisan di atas karena tidak berhasil menyambungkan gagasan toleransi beragama dengan cerita sebelumnya, yakni seputar persaudaraan muslim dalam ibadah haji. Dua-duanya berdiri sendiri, sehingga tidak ilmiah, bahasa 'nyiyir'nya ya ga nyambung. Kelihatan bahwa bagian awal tulisan hanya untuk memberikan "rasa Islam" dan inti dari tulisan adalah untuk memasukkan gagasan tentang pluralisme. Tambahan: Saya menduga gagasan mengenai toleransi yang sedang digulirkan memang sangat dibutuhkan oleh kelompok minoritas muslim di negara bule sana yang sedang terkesan dengan haji. Namun dalam kontek Indonesia, gagasan ini tidak berarti (meski menyibukkan sebagian kalangan agamawan sekolahan). Toleransi mestinya digulirkan oleh kelompok minoritas bukan oleh kelompok muslim sendiri. Muslim Indonesia tidak ada problem dengan toleransi, namun dengan akses sosial-ekonomi yang didominasi oleh kalangan minoritas itu. Salam, Anam 2008/12/17 Rosa Prabowo <[email protected]> > Anam yang baik, > > Terimakasih atas komentar sampeyan mengenai tulisan suami saya. > Alhamdulillah, sekalipun sedikit nyentil, saya cukup toleran kok menerima > masukan, Nggak apa-apa kalau dianggap nggak bermutu. Nggak apa-apa juga > kalau "hanya" dengan tulisan suami saya yang sederhana, sampeyan menyarankan > orang untuk tidak memilih saya. Prinsip saya cuman satu kun fayakun. Kalau > Allah menghendaki saya jadi..ya jadilah. Allah lah yang akan mengatur > perjalanan saya kesana. Sebaliknya kalau Allah menghendaki lain...saya hanya > bisa berpasrah diri kepada Nya. > > Megenai kritikan sampeyan, sudah saya sampaikan ke suami saya, dan di bawah > ini adalah jawabannya. > > Kalau Anam tidak bisa menemukan logika yang nyambung antara "persaudaraan > umat Islam sedunia dalam satu warna pakaian ihram" dengan "toleransi antar > agama" itu barangkali karena Anam biasa mengikuti logika binar yang > mengasumsikan bahwa kalau satu kelompok mengkonsolidasikan diri maka akan > muncul sikap menyepelekan atau bahkan memusuhi kelompok lain. Dalam kasus > ini, asumsi yang dipikirkan (kalau di penelitian itu sih disebutkan > "negaranya orang bule") bahwa: jemaah haji yang kumpul bareng, ngobrol, > ibadah bareng, pakai ihram itu kemudian terdorong untuk semakin merasa > bersaudara (atau "persaudaraan umat Islam sedunia dalam satu warna pakaian > ihram") akan juga terdorong untuk "memusuhi" umat lainnya atau "tidak > toleran". Memang sebagian sosiolog seperti Tajfel berpendapat seperti itu > dan itu juga dirujuk oleh penelitian haji itu "the idea that strengthening > the attachment to an in-group may lead to more negative feelings towards an > out-group." > > Nah, justru analisis dikotomis seperti inilah yang ditolak oleh penelitian > tentang haji tersebut. Dan itu dapat dibuktikan. Justru jemaah haji yang > semakin kuat rasa persaudaraannya di satu sisi, semakin "open minded" dan > memiliki sikap toleran terhadap bangsa dan agama lain di sisi lain. Kalau > dianalogikan lewat bahasa Indonesia, itu kira-kira bergerak dari "kami" > (atau we exclusive) menuju "kita" (atau we inclusive) dan bukan dari "kami" > untuk berbeda dengan "mereka". Kalau kata penelitian itu "Our evidence > suggests that while Hajjis positively update their views towards groups they > were exposed to on the Hajj, this positive updating also extends to their > views on groups they were not exposed to." > > Dalam tulisan Ibadah Haji dan Toleransi sebenarnya hubungan antara hal-hal > di atas itu disinggung, meski singkat (maklum untuk bahan diskusi > pengajian). Misalnya di tulisan itu disebutkan: > > Lebih > dari munculnya perasaan bersatu, ibadah haji juga mendorong agar umat > Islam bisa hidup harmonis dengan perbedaan-perbedaan yang ada (p.19). > ... Bahwa kehidupan yang harmonis bisa dibangun > dengan menerima dan menghargai perbedaan-perbedaan di antara umat Islam > tanpa mengecilkan pihak lain. ... Apakah > sikap positif itu (maksudnya, keinginan untuk hidup harmonis dengan semakin > "toleran" atau menghargai pihak lain sesama muslim itu) juga melebar ke > orang atau bangsa lain non-muslim? > Penelitian tentang haji ini menjawab dengan affirmatif. Ya (maksudnya > jemaah haji ternyata juga toleran dengan agama lain atau orang dengan agama > lain). > Kalau kemudian tulisan itu ditutup dengan pembicaraan tentang "toleransi > beragama" atau sebetulnya cukup kata toleransi saja, itu karena ada > kejumbuhan di sebagian benak warga Indonesia tentang arti toleransi. > Toleransi diartikan sebagai "kerjasama" sehingga kalau dilakukan persamaan > "toleransi beragama" = "kerjasama beragama". Tentu persamaan seperti ini > misleading dan oleh karenanya muncul kata-kata sebagian ustadz "tidak ada > toleransi dalam aqidah". Lho, kok jadi gitu? Wong toleransi itu menurut > bahasa adalah "sepakat untuk berbeda dan tidak saling mengganggu" sehingga > harusnya "toleransi beragama" diartikan "sepakat untuk saling beda aqidah > tanpa saling utak-atik aqidah orang lain sebagai bentuk rasa respek" dan > bukan "mari kerjasama hari ini aqidahmu kita pakai besok aqidahku". Karena > yang terakhir ini bukalah toleransi namanya. > > Jadi Ibadah Haji memang mendorong Toleransi (tanpa atau dengan embel-embel > apa pun). > > Nah, moga- moga terjadi polemik disini, lumayan kan, saya bisa jadi > moderator antara Anam dengan pak Taufiq :)) > Terakhir, salam kenal juga. Sesungguhnya ucapan ini sungguh aneh, karena > saya merasa menjadi member di milis ini sudah cukup laaamaaa. Dan terkadang > saya juga membaca nama Anam di situ, pertanyaannya, kenapa kita tidak > kemudian merasa saling mengenal meskipun itu hanya terjadi di dunia maya? > Kalau memang ini kenyataannya, saya justru sangat bersyukur, bahwa dengan > tulisan suami saya yang sederhana ini bisa menjadikan kita secara real > saling bersilaturahmi. > > Di atas gunung masih ada langit, di atas langit masih ada Tuhan Azza wa > Jalla. Semoga dengan pertemanan ini tidak menjadikan kita manusia yang > sombong. > > Salam, > > > Rosa > http://safiramachrusah.blogspot.com > > --- On Tue, 16/12/08, Kh Anam <[email protected] <gus.anam%40gmail.com>> > wrote: > From: Kh Anam <[email protected] <gus.anam%40gmail.com>> > Subject: Re: [kmnu2000] Ibadah haji dan toleransi > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com> > Received: Tuesday, 16 December, 2008, 9:01 PM > > Mbak Rosa, > > Gagasannya dipaksakan sekali, sepertinya tulisan ini muncul gara-gara > > beasiswa, hehe.. Tidak ada kaitan antara persaudaraan umat Islam sedunia > > dalam satu warna pakaian ihram dengan toleransi antar agama. Logikanya > tidak > > nyambung. Suami anda juga tidak berusaha menghubungkan dua topik yang > > berbeda itu. Topik pertama dipaparkan begitu saja sekedar untuk memancing > > rasa Islam, kemudian topik kedua disusulkan sebagai bagian dari ide besar > > yang akan dikembangkan. Kurang intelektual mbak, ngisin-ngisini. .. Kalu > saya > > warga Jawa Tengah, saya tidak akan memilih anda... > > Salam kenal, > > Anam > > > > > > > > > > > > Start your day with Yahoo!7 and win a Sony Bravia TV. Enter now > http://au.docs.yahoo.com/homepageset/?p1=other&p2=au&p3=tagline > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]
