Salam,

Tentang anekdot membantah wahaby. Melanjutkan janji saya kemaren tentang kritik 
NU thdp Wahabi. Sekarang saya akan bercerita anekdot2, yang bisa menjadi dalil 
khitoby (retoris). Dalil yang mudah dipahami orang awam.

Saya mau cerita sanadnya dulu. Saat itu saya bersama mas ahmad Baso, sowan ke 
KH Muhith Muzadi. Saya mendengarkan (sami'tu) beliau berkata (qola/aw kama qol):

1.Ada seorang wahaby menentang taklid. Lalu dijawab oleh beliau. Dalam 
kehidupan sehari2 kita tidak bisa lepas dari taklid. Contohnya ketika kita 
pergi ke dokter. Kita itu taklid. Ayo jangan taklid, nanti sampean pasti sulit. 
Bohong kalau sampean gak taklid. Buktinya ketika sampean dikasih resep obat, 
sampean mengikuti tulisan dokter. Entah apa tulisannya, apa kandungan obatnya, 
sampean ikut saja, taklid saja. Sampean itu menentang taklid tapi menjadi 
pelaku taklid.  

2.KH Muhid bercerita ada seorang wahaby dan kiai. Kiai menjelaskan hukum 
bolehnya bermadzhab. Di ruang tamu, kiai menyuguhi teh. Dari ceret besar ke 
cangkir. Lalu kiai bertanya apakah isi teh di ceret dan  di cangkir sama? 
Wahaby menjawab: sama. Itulah bermadzhab. Apa yang ada di madzhab fiqh itu sama 
dengan al-Qur'an Hadits. Mau diambil dari kitab kuning atau langsung di 
al-Qur'an al-Hadits sama saja. Kalau orang awam lebih enak minum di cangkir. 
Entah kalau sampean mau langsung minum di ceret, ya silahkan. Tapi awas tumpah 
ya. he he.

Cerita di sini tidak mengharuskan kita bertaklid. Hanya sekedar menjelaskan 
bahwa taklid bagi orang awam tidak apa2. Dan menjelaskan isi dari kitab2 kuning 
sama dengan al-Qur'an al-Hadits. Buktinya dalam kitab Tadzhib banyak 
menyertakan Dalil al-Qur'an dan al-Hadits dari kitab fiqih fathul Qorib. 
Kifayat akhyar juga. Apalagi al-Risalah dan al-Um. Kitab madzhab fiqh syafii 
pertama, yang didalamnya al-Qur'an al-Hadits tok.

Jadi jika Wahabi menganggap bahwa NU tidak menerapkan al-qur'an al-hadits itu 
sebuah ketidak tahuan saja. Dan slogan2 Wahaby kembali kepada al-Qur'an 
al-Hadits itu hanya berarti silahkan minum teh dari ceret dan gentong-gentong 
besar. Ya tidak salah, silahkan saja. 

3.Ada lagi anekdot dari KH Muhammad Abd Muthollib. Kalau ada orang wahaby gak 
mau tawasul dan mengatakan langsung meminta tolong pada Allah, tidak apa2. Tapi 
kalau dia tenggelam di sungai tidak usah ditolong, bilang saja langsung pada 
Allah. Langsung, cak. Langsung, cak. Biar kelelep. Kita tidak mungkin tidak 
bertawasul. Syekh Mukhtar juga berkata hidup ini tidak mungkin tidak 
bertawasul. Kita jalan2 tawaasul pakai mobil, pakai perantara. Kita mau nulis, 
tawasul. Pakai perantara polpen. Dll. 

Sekali lagi, ini bukan dalil retoris wajib tawasul. Tapi hanya menjelaskan 
bahwa tawasul hukumnya boleh2 saja.


Nanti kita sambung lagi.
Salam,





--- In [email protected], "robet_gasede" <robet_gas...@...> wrote:
>
> Salam,
> 
> Ini jawaban untuk pengikut Wahaby, bin Baz, Usaimin, dan Ibn Taimiyah, dll.
> 
> Jika Wahaby mengatakan bahwa ini haram untuk dilakukan karena tidak dilakukan 
> Nabi Muhammad Saw dan sahabat Ra. Maka Jawabannya akan saya tulis di bawah 
> ini. Jawaban ini berasal dari kitab Husnu al-tafahhum wad-dark fi masalati 
> at-tark karya Abi fadl Muhammad al-Ghummary:
> 
> Pertama: 
> Sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah tidak selalu berarti haram karena 
> beberapa hal:
>   1.Adakalanya karena Rosulullah tidak terbiasa. Seperti ketika ditawari 
> biawak Arab dalam hadits shohih. Nabi tidak makan (tidak melakukan kegiatan 
> makan biawak). Tapi Nabi tidak mengatakan itu haram, karena nabi tidak 
> terbiasa saja. Jadi nabi tidak melakukan sesuatu, tidak berarti haram. Justru 
> Nabi mengatakan bahwa itu halal, meski nabi tidak melakukan.
> 
>   2.Kadang karena takut Allah mewajibkan pada hambanya. Seperti Nabi yang 
> tidak melakukan sholat tarawih di mesjid saat para sahabat berkumpul ingin 
> sholat. 
> 
>   3.Kadang2 lupa. Seperti dalam sholat. Beliau pernah meninggalkan salah satu 
> gerakan sholat, bukan karena haram. Tapi beliau bersabda: Sesungguhnya aku 
> manusia bisa lupa, kalau lupa tolong ingatkan.
> 
>   4.Kadang karena beliau belum memikirkan. Contohnya awalnya ketika khutbah 
> jumat beliau tidak pakai mimbar. Kemudian ditawarkan oleh para sahabat. 
> Kemudian beliau memakai mimbar.
> 
>   5.Kadang tidak melakukan karena sudah masuk pada ayat2 yang menerangkan 
> secara umum. If'alul khoiro la'allakum tuflihun. Kerjakanlah hal2 yang baik.
> 
> Kesimpulan. Sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah tidak selalu haram. Tapi 
> karena ada alasan2 lain. Jadi, kalau tidak ada hadits yang menerangkan bahwa 
> rosulullah tidak berdzikir di hari2 tertentu, bukan berarti tidak boleh 
> dzikir di hari2 tertentu. Sebab ibadah berdzikir kapan saja sudah masuk pada 
> perintah Allah: Wa adzdzkurullaha katsira. Dan banyak ayat2 lain yang 
> menyuruh kita untuk dzikir siang malam, pagi sore.
> 
> Mudah2an saya punya waktu (istri saya hamil tua), saya akan menulis beberapa 
> poin jawaban untuk wahaby: 
> 
> 1.Berkenaan bahwa yang ditinggalkan tidak selamanya bermakna haram. Karena 
> yang halal sudah jelas yang haram sudah jelas. Yang tidak diterangkan adalah 
> afwun (mubah). Dalam al-Qur'an menjelaskan yang datang dari rosul kamu ambil, 
> yang dilarang jangan dilakukan. Perhatikan "yang dilarang" Nabi bukan "yang 
> ditinggalkan" Nabi. Ini masih pendapat muhaddits kabir al-Ghummary.
> 
> 2.Berkenaan dengan contoh2 yang tidak dilakukan nabi tapi boleh dilakukan. 
> Satu, pengumpulan al-Qur'an, harakat al-Qur'an, titik al-Qur'an. Dua, 
> Sayyidina Umar melakukan sholat tarawih berjamaah. Ketiga: Sayyidina Usman 
> Adzan jum'at dua kali, dll. 
> 
> Jika wahaby mengatakan bahwa Sayyidina Umar, Usman, dan para sahabat pelaku 
> bid'ah. Saya yang paling pertama ikut melakukan bid'ah. Tapi jika Wahaby 
> salah dalam mendefinisikan bid'ah, ya sadarlah. Masa Sayyidina Umar, Usman, 
> yang dijamin masuk surga oleh Nabi dianggap sesat. Wal iyadlu billah. 
> 
> Dalil ini bisa dipelajari di buku karya LBM Jember. Membongkar kebohongan "yg 
> ngaku2" mantan kiai NU, Mahrus Ali. Terbitan Khalista Jawa timur. Dan bisa 
> dipelajari dalam istihsan al-khoudl fi ilmi al-kalam karya imam al-Asy'ary. 
> 
> 3.Juga berkenaan dengan beberapa anekdot dan retorika yang mudah dipahami 
> orang awam untuk membantah wahaby. Jadi dalil NU itu kuat, secara dalil 
> jadaly, khitoby, dan al-Qur'an as-Sunah nya. 
> 
> 
> Salam. Kita harus membentengi NU di tengah gempuran faham2 yang menggerogoti 
> NU. Tanpa harus melupakan aktifitas pendidikan, ekonomi, sosial, dll.
> Robith Qoshidi
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], priyo susilo <priyos74@> wrote:
> >
> > Mas muji
> > 
> > sebanyak adab dibawah berapa yang sudah bisa dilakukan oleh Mas Muji...
> > 
> > salam
> > 
> > 
> > 2009/10/28 Mujiarto Karuk <mkaruk@>
> > 
> > >
> > >
> > > Etika Bertetangga
> > > Assalamualaikum Wr Wb
> > > Bissmillahirromaanirrohiim
> > > Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
> > > Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak
> > > yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, 
> > > teman
> > > sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
> > > orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS. An-Nisa' ( 4) :
> > > 36.
> > > 1.      Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka.
> > > Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam
> > > hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : "....Barangsiapa yang beriman 
> > > kepada
> > > Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya". Dan di
> > > dalam riwayat lain disebutkan: "hendaklah ia berprilaku baik terhadap
> > > tetangganya". (Muttafaq'alaih).
> > > 2.   Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak
> > > membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak
> > > boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena 
> > > hal
> > > tersebut menyakiti perasaannya.
> > > 3.      Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di 
> > > rumah.
> > > Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan
> > > hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang
> > > membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan 
> > > merahasiakan
> > > aib mereka.
> > > 4.   Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara
> > > radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka 
> > > dengan
> > > kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa
> > > Sallam telah bersabda: "Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak
> > > beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah?
> > > Nabi menjawab: "Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena
> > > perbuatan-nya". (Muttafaq'alaih).
> > > 5.   Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan
> > > seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar
> > > dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau
> > > menjelek-jelekkan mereka.
> > > 6.      Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita.
> > > Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: "Wahai
> > > Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah
> > > airnya dan berilah tetanggamu". (HR. Muslim).
> > > 7.      Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan
> > > berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita 
> > > tanyakan
> > > apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita
> > > undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati 
> > > mereka
> > > jinak dan sayang kepada kita.
> > > 8.      Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan / kekeliruan mereka 
> > > dan
> > > jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak
> > > memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.
> > > 9.      Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap 
> > > kita.
> > > Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Ada tiga kelompok
> > > manusia yang dicintai Allah.... Disebutkan di antaranya : "Seseorang yang
> > > mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun 
> > > ia
> > > sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau
> > > keberangkatannya". (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani).
> > >
> > >
> > > Nasehat : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > > 
> > >
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>


Kirim email ke