Salam, Saya mau bercerita sedikit. Tahaddutsan bin-ni'mah. Dulu yang menguasai jaringan ekonomi sampai ke kampung2 adalah Cina. Alhamdulillah kami dari golongan pesantren mulai menggoyang kekuatan ekonomi Cina, paling tidak di tingkat kecamatan. Ya, bersyukurlah lumayan. Sekarang banyak kiai, pesantren yang memiliki toko, supermarket, tanah, dll. Lumayan.
Ada kiai Mahfudz Soubary dari Pacet. Beliau terkenal kiai poligami. Beliau punya istri empat. Usaha beliau dari nol. Beliau cerita mahar kawin dengan istri pertama 10.000. Hari besoknya dipinjam untuk beli beras. He he. Tapi beliau usaha keras. Sampai akhirnya menjadi pemasok sayur dan buah organik di supermarket2 besar di surabaya. Harga cabe organik milik beliau mencapai Rp.50.000, harga terong satu kilo 35.000. Di pesantren beliau ada green house. Pesantren yang luar biasa. Beliau juga menyediakan puluhan kamar bagi pengunjung di pesantren lengkap dengan kamar mandinya. Indah di atas bukit. Nama Pesantren Riyadlul Jannah. Luar biasa. Terlepas beliau adalah kiai yang nyentrik. Di Jember sendiri di kecamatan arjasa. Pasar arjasa sudah dikuasai oleh orang pesantren. Kami punya toko bangunan, alhamdulillah lancar. Mudah2an terus lancar. Malah punya Cina mati. Dengan solidaritas yang dibangun melalui jaringan pesantren, alhamdulillah hegemoni Cina di daerah kami mulai terkikis. Di rambipuji, kami juga punya alumni. Membuka toko emas dan toko elektronik. Alhamdulillah, dengan kepandaian dalam loby dan mencari kulakan yang murah dan harga jual bersaing, kita bisa eksis. Di rambipuji toko elektronik yang jalan justru dari kalangan pesantren. Punya Cina alhamdulillah masih ada, tapi nafasnya sudah senin kamis. Ini sedikit saja cerita. Dan jawaban, mungkin ada yang bertanya: apa peran NU di bidang ekonomi. Yang kami lakukan, ya ini sudah. Hidup NU. Salam, Robith Qoshidi --- In [email protected], "robet_gasede" <robet_gas...@...> wrote: > > Salam, > > Ini jawaban untuk pengikut Wahaby, bin Baz, Usaimin, dan Ibn Taimiyah, dll. > > Jika Wahaby mengatakan bahwa ini haram untuk dilakukan karena tidak dilakukan > Nabi Muhammad Saw dan sahabat Ra. Maka Jawabannya akan saya tulis di bawah > ini. Jawaban ini berasal dari kitab Husnu al-tafahhum wad-dark fi masalati > at-tark karya Abi fadl Muhammad al-Ghummary: > > Pertama: > Sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah tidak selalu berarti haram karena > beberapa hal: > 1.Adakalanya karena Rosulullah tidak terbiasa. Seperti ketika ditawari > biawak Arab dalam hadits shohih. Nabi tidak makan (tidak melakukan kegiatan > makan biawak). Tapi Nabi tidak mengatakan itu haram, karena nabi tidak > terbiasa saja. Jadi nabi tidak melakukan sesuatu, tidak berarti haram. Justru > Nabi mengatakan bahwa itu halal, meski nabi tidak melakukan. > > 2.Kadang karena takut Allah mewajibkan pada hambanya. Seperti Nabi yang > tidak melakukan sholat tarawih di mesjid saat para sahabat berkumpul ingin > sholat. > > 3.Kadang2 lupa. Seperti dalam sholat. Beliau pernah meninggalkan salah satu > gerakan sholat, bukan karena haram. Tapi beliau bersabda: Sesungguhnya aku > manusia bisa lupa, kalau lupa tolong ingatkan. > > 4.Kadang karena beliau belum memikirkan. Contohnya awalnya ketika khutbah > jumat beliau tidak pakai mimbar. Kemudian ditawarkan oleh para sahabat. > Kemudian beliau memakai mimbar. > > 5.Kadang tidak melakukan karena sudah masuk pada ayat2 yang menerangkan > secara umum. If'alul khoiro la'allakum tuflihun. Kerjakanlah hal2 yang baik. > > Kesimpulan. Sesuatu yang tidak dilakukan Rosulullah tidak selalu haram. Tapi > karena ada alasan2 lain. Jadi, kalau tidak ada hadits yang menerangkan bahwa > rosulullah tidak berdzikir di hari2 tertentu, bukan berarti tidak boleh > dzikir di hari2 tertentu. Sebab ibadah berdzikir kapan saja sudah masuk pada > perintah Allah: Wa adzdzkurullaha katsira. Dan banyak ayat2 lain yang > menyuruh kita untuk dzikir siang malam, pagi sore. > > Mudah2an saya punya waktu (istri saya hamil tua), saya akan menulis beberapa > poin jawaban untuk wahaby: > > 1.Berkenaan bahwa yang ditinggalkan tidak selamanya bermakna haram. Karena > yang halal sudah jelas yang haram sudah jelas. Yang tidak diterangkan adalah > afwun (mubah). Dalam al-Qur'an menjelaskan yang datang dari rosul kamu ambil, > yang dilarang jangan dilakukan. Perhatikan "yang dilarang" Nabi bukan "yang > ditinggalkan" Nabi. Ini masih pendapat muhaddits kabir al-Ghummary. > > 2.Berkenaan dengan contoh2 yang tidak dilakukan nabi tapi boleh dilakukan. > Satu, pengumpulan al-Qur'an, harakat al-Qur'an, titik al-Qur'an. Dua, > Sayyidina Umar melakukan sholat tarawih berjamaah. Ketiga: Sayyidina Usman > Adzan jum'at dua kali, dll. > > Jika wahaby mengatakan bahwa Sayyidina Umar, Usman, dan para sahabat pelaku > bid'ah. Saya yang paling pertama ikut melakukan bid'ah. Tapi jika Wahaby > salah dalam mendefinisikan bid'ah, ya sadarlah. Masa Sayyidina Umar, Usman, > yang dijamin masuk surga oleh Nabi dianggap sesat. Wal iyadlu billah. > > Dalil ini bisa dipelajari di buku karya LBM Jember. Membongkar kebohongan "yg > ngaku2" mantan kiai NU, Mahrus Ali. Terbitan Khalista Jawa timur. Dan bisa > dipelajari dalam istihsan al-khoudl fi ilmi al-kalam karya imam al-Asy'ary. > > 3.Juga berkenaan dengan beberapa anekdot dan retorika yang mudah dipahami > orang awam untuk membantah wahaby. Jadi dalil NU itu kuat, secara dalil > jadaly, khitoby, dan al-Qur'an as-Sunah nya. > > > Salam. Kita harus membentengi NU di tengah gempuran faham2 yang menggerogoti > NU. Tanpa harus melupakan aktifitas pendidikan, ekonomi, sosial, dll. > Robith Qoshidi > > > > > > --- In [email protected], priyo susilo <priyos74@> wrote: > > > > Mas muji > > > > sebanyak adab dibawah berapa yang sudah bisa dilakukan oleh Mas Muji... > > > > salam > > > > > > 2009/10/28 Mujiarto Karuk <mkaruk@> > > > > > > > > > > > Etika Bertetangga > > > Assalamualaikum Wr Wb > > > Bissmillahirromaanirrohiim > > > Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. > > > Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak > > > yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, > > > teman > > > sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai > > > orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, QS. An-Nisa' ( 4) : > > > 36. > > > 1. Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka. > > > Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana di dalam > > > hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu : "....Barangsiapa yang beriman > > > kepada > > > Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya". Dan di > > > dalam riwayat lain disebutkan: "hendaklah ia berprilaku baik terhadap > > > tetangganya". (Muttafaq'alaih). > > > 2. Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita, tidak > > > membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan kita tidak > > > boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau mengubah miliknya, karena > > > hal > > > tersebut menyakiti perasaannya. > > > 3. Hendaknya Kita memelihara hak-haknya di saat mereka tidak di > > > rumah. > > > Kita jaga harta dan kehormatan mereka dari tangan-tangan orang jahil; dan > > > hendaknya kita ulurkan tangan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang > > > membutuhkan, serta memalingkan mata kita dari wanita mereka dan > > > merahasiakan > > > aib mereka. > > > 4. Tidak melakukan suatu kegaduhan yang mengganggu mereka, seperti suara > > > radio atau TV, atau mengganggu mereka dengan melempari halaman mereka > > > dengan > > > kotoran, atau menutup jalan bagi mereka. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa > > > Sallam telah bersabda: "Demi Allah, tidak beriman; demi Allah, tidak > > > beriman; demi Allah, tidak beriman! Nabi ditanya: Siapa, wahai Rasulullah? > > > Nabi menjawab: "Adalah orang yang tetangganya tidak merasa tentram karena > > > perbuatan-nya". (Muttafaq'alaih). > > > 5. Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka, dan > > > seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah yang munkar > > > dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik tanpa maksud menjatuhkan atau > > > menjelek-jelekkan mereka. > > > 6. Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita. > > > Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Dzarr: "Wahai > > > Abu Dzarr, apabila kamu memasak sayur (daging kuah), maka perbanyaklah > > > airnya dan berilah tetanggamu". (HR. Muslim). > > > 7. Hendaknya kita turut bersuka cita di dalam kebahagiaan mereka dan > > > berduka cita di dalam duka mereka; kita jenguk bila ia sakit, kita > > > tanyakan > > > apabila ia tidak ada, bersikap baik bila menjumpainya; dan hendaknya kita > > > undang untuk datang ke rumah. Hal-hal seperti itu mudah membuat hati > > > mereka > > > jinak dan sayang kepada kita. > > > 8. Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan / kekeliruan mereka > > > dan > > > jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita tidak > > > memandang kekeliruan dan kealpaan mereka. > > > 9. Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap > > > kita. > > > Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: "Ada tiga kelompok > > > manusia yang dicintai Allah.... Disebutkan di antaranya : "Seseorang yang > > > mempunyai tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, namun > > > ia > > > sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah oleh kematian atau > > > keberangkatannya". (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albani). > > > > > > > > > Nasehat : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > >
