Bung Gilbert,
terima kasih atas tanggapannya. Untuk tanggapan saya, silakan anda baca
di bawah ini.

Best regards,

Eva

> -----Original Message-----
> From: GILBERT [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Wednesday, May 12, 1999 10:04 AM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      RE: RE: [Kuli Tinta] Smart move, Mbak Mega
> 
> Dear Mba Eva,
> [Gilbert] 
> Kalau menurut saya, Mba Eva egois.
> Mengapa, karena anda hanya melihat permasalahannya hanya dari satu
> sisi saja.
> contohnya soal pendukung PDI (tanda kutip) melakukan pelucutan pakaian
> para
> wanita,
> anda menganggap bahwa perempuanlah yang dilucuti padahal maksudnya
> adalah
> melucuti atribut 
> golkar dengan cara  gelap mata.
> [Eva]
> Saya memang sedang membicarakan perempuan, jadi apa salahnya saya
> memandang persoalan pelucutan atribut Golkar itu dari segi masalah
> perempuan juga. Coba, seandainya dalam pelucutan atribut itu "massa
> PDI-P" tidak melakukan pelucutan pakaian wanita, apakah saya masih
> akan menganggapnya sebagai pelecehan terhadap harkat dan martabat
> perempuan ? Tentu tidak.
> 
> [Gilbert]
> Memang hal tersebut sangat melanggar norma2
> kesusilaan tapi
> [Eva]
> Anda sendiri sudah mengatakan hal itu melanggar norma-norma
> kesusilaan, dan untuk point ini saya kira tidak ada satupun yang bisa
> membenarkan. Bayangkan seandainya ibu atau istri atau saudara
> perempuan anda ikut menjadi korban.
> [Gilbert]
> kita juga harus melihat secara keseluruhan (the big picture) bahwa hal
> tersebut
> tidak lepas dari
> ulah Golkar sendiri selama 32 tahun masa pemerintahanya etc.
> [Eva]
> Ini justru yang membuat saya ngeri. Menanggapi semua aksi kekerasan
> yang dilakukan massa PDI-P hampir seluruh petinggi PDI-P mengatakan
> hal yang anda katakan itu. Kalau aksi balas dendam sudah dibenarkan,
> mau jadi apa negri ini. Kalau PDI-P menang, saya dan keluarga saya
> yang PNS barangkali nanti juga akan kena gusur, dan mungkin aja harus
> jadi pengemis di negri ini.
> [Gilbert]
> Kemudian soal calon presiden wanita, kalo memang Mba MEGA (sepertinya)
> tidak
> memperjuangkan 
> harkat wanita, apakah anda bisa yakin bahwa pria akan lebih baik?, 
> [Eva]
> Daripada anda melontarkan pertanyaan itu, lebih baik anda jawab
> pertanyaan saya tadi. Pernahkan Mega mengusung bahkan memperjuangkan
> aspirasi perempuan ? Seorang pria bisa lebih baik dalam mengakomodasi
> kepentingan perempuan kalau dia mengerti. Dan saya pikir Mega tidak
> mengerti harkat perempuan itu. Lha wong kaumnya dilecehkan saja dia
> cuma plingak-plinguk, kok.
> [Gilbert]
> bukankah
> jika anda memperjuangkan
> harkat wanita berarti anda menentang kaum pria? 
> [Eva]
> Siapa bilang memperjuangkan harkat wanita itu harus menentang kaum
> pria ? Kalau anda berpandangan seperti itu, berarti menurut anda
> eksistensi pria itu harus dibangun di atas penderitaan wanita, dong ?
> Padahal yang kita perlu perjuangkan adalah agar eksistensi pria tetap
> tegak tanpa harus membuat wanita menderita. Jadi dua-duanya sama-sama
> punya eksistensi.
> [Gilbert]
> yang anda anggap mungkin lebih
> baik dari pada Mba MEGA?
> [Eva]
> Dan apakah Mega lebih baik dari yang lain ?
> 
>  
>  

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke