Nimbrung boleh dong mbak Eva,
 
--

On Wed, 12 May 1999 11:44:10   Eva Kurnia D wrote:
>> mau jadi apa negri ini. Kalau PDI-P menang, saya dan keluarga saya
>> yang PNS barangkali nanti juga akan kena gusur, dan mungkin aja harus
>> jadi pengemis di negri ini.

Insya Allah nggak bakalan terjadi mbak Eva. Di Indonesia ini hanya ada 2-3 juta PNS, 
taruhlah termasuk keluarganya menjadi 15 juta. Selebihnya, sekitar 190 juta bukan PNS 
dan ketika Golkar berkuasa, mereka juga tidak jadi pengemis.

Mau contoh lain yang fatal?

Jutaan masyarakat yang keluarganya dikategorikan terlibat G 30 S/PKI, dan dilibas 
secara sistematis dan konsisten secara rame-rame juga pada umumnya nggak jadi 
pengemis. Bahkan cukup banyak yang mampu mencapai prestasi kehidupan yang baik 
(termasuk menyelinap di elit Pemerintahan).

Itu seandainya Golkar kalah total, dan Pemerintah Reformasi mengambil sikap balas 
dendam secara brutal. Selain kemungkinan itu sangat kecil, kalaupun terjadi juga nggak 
akan menjadikan keluarga mbak Eva atau PNS lainnya jadi pengemis.

Beberapa pointers dapat Anda telaah :

1. Kalau Golkar kalah dalam Pemilu, dia nggak akan jadi Partai terlarang, sehingga 
tetap punya hak hidup. Berdampingan dengar para reformis dalam keseimbangan yang 
berbeda.

2. Kecenderungan tidak memilih Golkar itu karena :
a. Merusak akhlak Bangsa, dengan membudayakan korupsi disegala lapisan.
b. Menggunakan kekejaman dengan memperalat ABRI dan preman.
c. Merampok harta Negara untuk pribadi, dengan menggunakan kroni dan fasilitas negara.
d. Membudayakan gaya katak, keatas menjilat kebawah menendang.
e. Berjiwa monyet, rakus, tamak, tidak kenal puas, tidak pernah kenyang.

Korupsi dibiarkan menjalar keseluruh jajaran birokrasi (PNS) karena PNS sengaja diberi 
 take home pay resmi yang sangat rendah. Dengan membiarkan korupsi, diharapkan 
kebutuhannya tercukupi secara akrobatik, tetapi yang lebih penting lagi, timbul guilty 
feeling bersama, sehingga terdorong untuk saling menutupi kesalahan dan mati-matian 
berusaha mempertahankan keunggulan Golkar. Akibatnya yang senang kalangan elit Golkar, 
karena dengan sedikit akrobat politik milyaran bahkan triliunan dana masuk kekantong 
pribadinya. Makanya hidupnya lebih mirip anak-anak raja.

3. Semua yang sudah established, cenderung menolak perobahan. Apalagi kalau merasa 
nggak punya potensi pribadi.

4. Diseluruh dunia, tidak ada ceritanya begitu terjadi pergantian penguasa, pegawai 
negeri diganti semua. Makanya PNS dikeluarkan dari Golkar, supaya kembali mendapat 
tempat lebih terhormat sebagai unsur birokrasi Pemerintahan, dan bukan mesin politik 
Partai.

5. Sekalipun kaum reformis nantinya memegang kekuasaan, tetap saja ada kelompok kritis 
yang tidak akan membiarkan kesewenangan terjadi dinegeri ini. Kebetulan saja saat ini 
yang dikritisi Golkar, karena sudah kelewatan banget.

Regards,

Amin Riza.
>> 
>>  
>>  
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
>
>
>
>


Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke