Megawati memang bukan khusus "pejuangnya perempuan".... saya mau tanya..
apakah Dr. Sri Mulyani Indrawati, Ekonom tersohor itu juga bukan "pejuangnya
perempuan"..? TIDAK!!! Ibu Sri Mulyani memang bukan pejuangnya perempuan...
Tapi apakah keberadaan Sri Mulyani punya arti khusus bagi kaum perempuan?
YA!! Hanya mereka yang membohongi hati nuraninya lah yang mengatakan Sri
Mulyani tidak punya arti khusus bagi kaum perempuan... Sri Mulyani dan
Megawati Soekarnoputri telah memberikan arti khusus bagi eksistensi kaum
perempuan, kendati mereka tidak "pejuangnya perempuan".. Sri Mulyani pejuang
di ekonomi, Megawati pejuang di politik dan demokrasi.... Sri Mulyani
menjadi papan atas di bidang yang didominasi laki-laki dan Megawati
menduduki top score (sampai saat ini) menjadi Presiden RI yang biasanya juga
didominasi laki-laki. Bagi saya, kehadiran perempuan-perempuan luar biasa
seperti mereka semakin menambah kekaguman saya pada perempuan.
Bagi saya, mereka adalah perempuan pejuang....
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: GILBERT <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 12 Mei 1999 16:56
Subject: RE: RE: RE: [Kuli Tinta] Smart move, Mbak Mega
Mba Eva,
Terima kasih juga.
Sebaiknya sebelum saya menanggapi lebih lanjut, saya ingin menegaskan
posisi
saya bahwa saya pendukung MEGAWATI.
Dan saya rasanya kurang sreg membaca tanggapan Mba Eva pada milis ini.
> Saya memang sedang membicarakan perempuan, jadi apa salahnya saya
> memandang persoalan pelucutan atribut Golkar itu dari segi masalah
> perempuan juga. Coba, seandainya dalam pelucutan atribut itu "massa
> PDI-P" tidak melakukan pelucutan pakaian wanita, apakah saya masih
> akan menganggapnya sebagai pelecehan terhadap harkat dan martabat
> perempuan ? Tentu tidak.
Seperti tanggapan sebelumnya, bahwa Mba Eva melihatnya dari satu sisi saja.
Apakah jika wanita2 tsb tidak memakai Atribut Golkar akan dilucuti juga
pakaiannya? Tentu Tidak.
> Ini justru yang membuat saya ngeri. Menanggapi semua aksi kekerasan
> yang dilakukan massa PDI-P hampir seluruh petinggi PDI-P mengatakan
> hal yang anda katakan itu. Kalau aksi balas dendam sudah dibenarkan,
> mau jadi apa negri ini. Kalau PDI-P menang, saya dan keluarga saya
> yang PNS barangkali nanti juga akan kena gusur, dan mungkin aja harus
> jadi pengemis di negri ini.
Hal ini juga menandakan bahwa anda egois, hanya berpikir dari satu sudut
pandang (walaupun belum tentu
jika PDI menang tiba2 seluruh PNS diganti).
> Daripada anda melontarkan pertanyaan itu, lebih baik anda jawab
> pertanyaan saya tadi. Pernahkan Mega mengusung bahkan memperjuangkan
> aspirasi perempuan ? Seorang pria bisa lebih baik dalam mengakomodasi
> kepentingan perempuan kalau dia mengerti. Dan saya pikir Mega tidak
> mengerti harkat perempuan itu. Lha wong kaumnya dilecehkan saja dia
> cuma plingak-plinguk, kok.
Bukankah sudah jelas bahwa Mba Mega ingin memperjuangkan nasib rakyat
(Wanita
dan Pria) apakah
wanita tidak termasuk jika seseorang membicarakan tentang masyarakat
Indonesia?
-----Original Message-----
From: Eva Kurnia D [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, May 12, 1999 11:44 AM
To: '[EMAIL PROTECTED]'
Subject: RE: RE: [Kuli Tinta] Smart move, Mbak Mega
Bung Gilbert,
terima kasih atas tanggapannya. Untuk tanggapan saya, silakan anda baca
di bawah ini.
Best regards,
Eva
> -----Original Message-----
> From: GILBERT [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Wednesday, May 12, 1999 10:04 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: RE: [Kuli Tinta] Smart move, Mbak Mega
>
> Dear Mba Eva,
> [Gilbert]
> Kalau menurut saya, Mba Eva egois.
> Mengapa, karena anda hanya melihat permasalahannya hanya dari satu
> sisi saja.
> contohnya soal pendukung PDI (tanda kutip) melakukan pelucutan pakaian
> para
> wanita,
> anda menganggap bahwa perempuanlah yang dilucuti padahal maksudnya
> adalah
> melucuti atribut
> golkar dengan cara gelap mata.
> [Eva]
> Saya memang sedang membicarakan perempuan, jadi apa salahnya saya
> memandang persoalan pelucutan atribut Golkar itu dari segi masalah
> perempuan juga. Coba, seandainya dalam pelucutan atribut itu "massa
> PDI-P" tidak melakukan pelucutan pakaian wanita, apakah saya masih
> akan menganggapnya sebagai pelecehan terhadap harkat dan martabat
> perempuan ? Tentu tidak.
>
> [Gilbert]
> Memang hal tersebut sangat melanggar norma2
> kesusilaan tapi
> [Eva]
> Anda sendiri sudah mengatakan hal itu melanggar norma-norma
> kesusilaan, dan untuk point ini saya kira tidak ada satupun yang bisa
> membenarkan. Bayangkan seandainya ibu atau istri atau saudara
> perempuan anda ikut menjadi korban.
> [Gilbert]
> kita juga harus melihat secara keseluruhan (the big picture) bahwa hal
> tersebut
> tidak lepas dari
> ulah Golkar sendiri selama 32 tahun masa pemerintahanya etc.
> [Eva]
> Ini justru yang membuat saya ngeri. Menanggapi semua aksi kekerasan
> yang dilakukan massa PDI-P hampir seluruh petinggi PDI-P mengatakan
> hal yang anda katakan itu. Kalau aksi balas dendam sudah dibenarkan,
> mau jadi apa negri ini. Kalau PDI-P menang, saya dan keluarga saya
> yang PNS barangkali nanti juga akan kena gusur, dan mungkin aja harus
> jadi pengemis di negri ini.
> [Gilbert]
> Kemudian soal calon presiden wanita, kalo memang Mba MEGA (sepertinya)
> tidak
> memperjuangkan
> harkat wanita, apakah anda bisa yakin bahwa pria akan lebih baik?,
> [Eva]
> Daripada anda melontarkan pertanyaan itu, lebih baik anda jawab
> pertanyaan saya tadi. Pernahkan Mega mengusung bahkan memperjuangkan
> aspirasi perempuan ? Seorang pria bisa lebih baik dalam mengakomodasi
> kepentingan perempuan kalau dia mengerti. Dan saya pikir Mega tidak
> mengerti harkat perempuan itu. Lha wong kaumnya dilecehkan saja dia
> cuma plingak-plinguk, kok.
> [Gilbert]
> bukankah
> jika anda memperjuangkan
> harkat wanita berarti anda menentang kaum pria?
> [Eva]
> Siapa bilang memperjuangkan harkat wanita itu harus menentang kaum
> pria ? Kalau anda berpandangan seperti itu, berarti menurut anda
> eksistensi pria itu harus dibangun di atas penderitaan wanita, dong ?
> Padahal yang kita perlu perjuangkan adalah agar eksistensi pria tetap
> tegak tanpa harus membuat wanita menderita. Jadi dua-duanya sama-sama
> punya eksistensi.
> [Gilbert]
> yang anda anggap mungkin lebih
> baik dari pada Mba MEGA?
> [Eva]
> Dan apakah Mega lebih baik dari yang lain ?
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!