Salah satu kelemahan bangsa ini adalah keengganan untuk bertandang pada
kelompok lain. Misalnya kelompok Islam ke kelompok Kristen. Sebaliknya
Kelompok Kristen ke kelompok Islam. Dari masing2 sudut rumah, masing2
memandang khayalan kegelapan pada rumah orang lain. Hasilnya adalah
underestimate yang berlebihan atau kekuatiran2 berlebihan yang amat mudah
diprovokasi orang jahat.

Sebagai contoh, sekali lagi soal koran Republika. Koran itu adalah salah
satu rumah bagi kami  orang2 Islam yang berpendidikan. Saya menganjurkan
bagi saudara2 yang masih sangat asing dengan koran tersebut untuk sesekali
datang bersilaturrahmi membaca koran tersebut. Jangan kaget. Didalamnya ada
pula secara rutin menulis orang2 seperti Kwik Kian Gie , Frans Magnis Suseno
menyebut dua orang yang bukan Islam itu. Tentunya disana tidak ada berita
nuansa "luarbiasanya hebat kwalitas Megawati" , tapi tidak ada pula
penghujatan rendah kepadanya. Didalamnya kelihatan jelas bagaimana opini
kalangan baru Islam. Kalangan yang mau tidak mau karena jumlahnya yang
banyak  akan sangat mewarnai negeri ini dimasa depan ( kalau tidak ditindas
lagi oleh semacam ORBA Baru ).  Saya jamin tidak ada bau kayu "cendana"nya.

Ini bukan Iklan Koran. Yang saya maksudkan adalah iklan empati. Mengerti
perasaan orang lain. Jangan gampang2 melakukan perendahan berlebihan atas
sesuatu yang belum kita kenal. Terus terang ini dipicu oleh ketawaran
perasaan yang saya rasakan yang dipunyai oleh seorang mahasiswa Kristen
semacam Sdr. Manurung. Orang yang kelihatannya saleh dengan agamanya tapi
masih sangat gamang terhadap rumah orang lain. Nggak tahu dunia sudah sampai
kemana. Saya kuatir SEKALI itu merupakan sample sahih  atas saudara2 yang
lain dari kelompok agama Kristen. Mudah2an ini tidak benar. Tapi sungguh.
Saya menginginkan kita ini dapat  bersatu. Bukan saling melebur. Tapi saling
menghargai dalam berbagai perbedaan. Perbedaan keyakinan agama, keyakinan
politik, perbedaan pendapat, perbedaan ras, perbedaan sudut pandang, dan
sebagainya.

Dari situ, dari perbedaan2 tersebut, barulah dapat  kita pilin suatu
kekuatan kebangsaan kita.  Kekuatan sesungguhnya dari Bangsa Indonesia.
Insyaallah!

Wassalam.


----- Original Message -----
From: Dadang Darmawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 05, 1999 2:46 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: SiaR---SPANDUK HUJAT PDI PERJUANGAN BERTEBARAN
DI JAKARTA


> Rekan Martin,
> Lahirnya Republika merupakan counter attack dari banyaknya pemberitaan -
> pemberitaan yang tidak seimbang dari Kompas selama ini. Kita semua tahu
> bagaimana pemberitaan Kompas selama ini, selalu berpihak pada kepentingan
umat
> kristen. Kalau ada suara dari rekan - rekan kita yang muslim, selalu
mendapat
> pemberitaan yang kecil, kecuali berita tersebut menguntungkan policy umat
> kristen. Tulisan - tulisan Kompas begitu menasional sehingga "mencuci
otak"
> banyak masyarakat kita.
> Disitulah Republika lahir. Memberi harapan baru dalam dunia pers muslim
untuk
> meluruskan berita - berita yang salah selama ini.
>
> Soal cendana punya saham atau tidak, memang perlu dicek sejauh mana andil
saham
> tersebut pada Republika. Tapi bukankah selama ini LB. Moerdani (musuh
besar orde
> baru) juga di belakang Kompas ?????
> So, apakah kita tetap terfokus pada sang pemilik saham atau isi
pemberitaannya
> ???
>
> Martin Manurung wrote:
>
> > Sangat logis bila pelakunya adalah link Cendana... dan kebetulan pula
> > nama-nama
> > yang disebut, selama ini track recordnya sangat dekat dengan Cendana
> > (termasuk Republika).
> >
>
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!





Kirim email ke