Ini sekedar pertanyaan utk memenuhi rasa ingin tahu.
Apakah tabloid Siar yg disebut di bawah sbg salah satu media pro status
quo berbeda dg SiaR yg menyiarkan berita ini ?
Nah kalau sekarang memberi fakta. Yg saya tahu Abdul Qadir Jaelani adl
tokoh yg 'berseberangan' dg Soeharto di masa Soeharto jaya shg sempat
mengenyam penjara. Dmk pula Sabili adalah majalah yg saya ketahui di masa
Soeharto jaya (akhir 80-an & awal 90-an) hanya dapat bergerak 'di bawah
tanah' karena kritis (?), kemudian hilang (mungkin dilarang ?) & kini
terbit kembali.
Kalau sekarang komentar. Rasanya kita terlalu mudah mencap sesuatu sbg
pro status quo. Apa sih pro status quo ? Apakah kalau kita mendukung
GOLKAR maka kita pro status quo, terus apakah kalau kita mendukung PDIP
berarti kita anti status quo ? [Saya BUKAN pendukung GOLKAR dan PDIP].
Nurcholis Madjid mengatakan pro/anti status quo dilihat dari idenya, bukan
dari partai mana yg ia dukung. Tentu saja kita juga perlu melihat apakah
omongan personelnya dpt dipegang atau tidak. Bisa saja dia berkoar2 dg
ide2 reformis, namun relita langkahnya selama ini justru anti reformis.
Apalagi kalau dia berkoar2 dg ide2 anti reformis (ada enggak ya yg kayak
gini?). Utk kasus ini saya masih melihat GOLKAR dan PKP memiliki
kemiripan.
Jadi komentar saya mungkin banyak media & organisasi di bawah ini yg
mengalami 'trial by issue'. [Saya juga bukan pendukung salah satu
partai di bawah]. Untungnya saya yakin pengikut milis ini cukup cerdas,
utk tdk menghakimi tanpa melihat bukti nyata.
beDoer
> > Menurut sumber SiaR di kalangan ulama, menyebutkan bahwa pihak-pihak yang
> > diduga mempolitisir agama Islam untuk mendiskreditkan PDI Perjuangan
> berasal
> > dari parpol-parpol pendukung status quo, seperti Partai Persatuan
> > Pembangunan (PPP), Partai Daulat Rakyat (PDR), Partai Bulan Bintang (PBB),
> > serta ormas-ormas pendukung status quo antara lain Front Pembela Islam
> > (FPI), Furkon, Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI). Mereka ini
> > ditengarai memperoleh bantuan dana dari keluarga Cendana, dengan
> kepentingan
> > untuk menciptakan konflik horisontal bernada SARA di masyarakat.
> >
> > Para tokohnya antara lain Abdul Qadir Djaelani, Hartono Mardjono, Eggy
> > Sudjana, Fadli Zon, dan lain-lain. Selain, menggunakan parpol dan ormas
> > sebagai alat politiknya, keluarga Cendana dan pro status quo umumnya, juga
> > menggunakan media massa sebagai corongnya. Media-media massa itu antara
> lain
> > Tabloid "Tekad", Harian "Republika", Tabloid "Siar", Majalah "Garda",
> > Majalah "Media Dakwah" dan Majalah "Sabili".***
> >
> > ----------
> > SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!