Bang Djoe, Para Netters,
Barangkali saya bisa kasi sudut pandang untuk bisa lebih memahami kenyataan
perasaan yang ada.

Memang anda benar bahwa islam atau kristen atau yahudi atau konhucu tidak
ada hubungannya dengan ilmu mengurus negara.  Yang dipermasalahkan adalah
jaminan bahwa orang yang memimpin negara apa mampu menyerap aspirasi suatu
kelompok masyarakat. Anda kan tidak bisa membantah, bahwa suatu negeri mau
tidak mau terdiri dari berbagai macam kelompok aspirasi. Aspirasi perempuan
, aspirasi lingkungan, aspirasi islam, kristen , kepercayaan , kebangsaan,
kepentingan  ekonomi , dll.  Kelompok2 tersebut dalam kenyatannya tidak
sendiri2 tapi bisa saling tumpang-tindih ( overlaping ).

Mampukah suatu kelompok politik atau seorang calon presiden meyakinkan suatu
konstituen bahwa mereka atau dia sanggup menyerap sesuatu aspirasi ?
Disitulah sebenarnya  fungsi kampanye politik yang riil. Beri janji dan
keyakinan !.

Kalau kampanye berhasil , artinya kemungkinan dia akan mendapatkan suara
yang diinginkan. Bila gagal, coba lagi pada kesempatan akan datang. Nah ,
dalam dunia demokrasi , kampanye tidaklah selalu mulus dan gampang seperti
jalan tol. Amat wajar kalau lawan politik untuk memakai berbagai cara buat
membuat ragu2 konstituen yang dituju. Dalam demokrasi yang sudah dewasa kita
tidak akan cengeng menghadapi fight yang sudah tentu amat sengit. Boleh
gondok, tapi jangan ngamuk.

Buat kasus PDIP yang tentunya mengharapkan pula suara dari konstituen Islam,
seharusnya PDIP berbuat segala sesuatu buat meyakinkan orang2 Islam. Jangan
nangis saja melihat manuever lawan politiknya menggunakan agama buat
menjatuhkan imagenya.   Diperlukan kecanggihan pula buat melawan manuever2
yang tidak disenangi itu. Kalau misalnya PDIP bisa lebih menarik bila
memakai kemasan yang memakai label "Halal" , mestinya PDIP jangan ragu pakai
label "Halal" .  Masa kalah sama McDonald atau Pizza Hut ? Yang penting
konsumen akan membeli barang kita . Tapi tentunya harus hati2 dengan Lembaga
Konsumen yang kritis !  Adalah suatu kebodohan bila memandang label Halal
sebagai mencampur-campur agama dengan ekonomi perdagangan . Jaman ini adalah
jaman Modern Marketing.

Pada saatnya nanti , kita harus bisa melihat pemilu sebagai pertandingan
sports /  bola yang amat menarik. Boleh emosi , tapi jangan turun lapangan
buat baku-hantam.  Kalah musim kompetisi kali ini bukan akhir segalanya.

Musim semi kompetisi baru akan bersemi kembali.

Wassalam.

----- Original Message -----
From: Djoe <[EMAIL PROTECTED]>
To: kuli tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, June 07, 1999 12:26 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [Kuli Tinta] Fw: Caleg PDI-P lagi


> Bung KOMKOM anda sudah terbawa arus agama sehingga merasa bahwa penilaian
> seseorang/partai atas pantas tidaknya utk memimpin suatu negara hanya
dengan
> azas agama ??  apakah seorang muslim atau kristen berarti menjamin bahwa
> negara akan makmur dan sukses.  cobalah berpikir secara netral , jangan
> pakai emosi dan pembawaan... apalagi dengan dasar Pancasila, kayaknya
tidak
> tepat utk apa yang saya maksudkan disini ??? apa saya yang katak ???!!
> dalam hal ini saya berpendapat walaupun misalkan PDIP bukan  majoristas
> muslim,
> apakah bila mereka itu beragama Hindu, budha,  Kristen..... apa itu bukan
> agama, apa
> itu tidak ber azas Ketuhanan yang maha esa, apakah Pancasila yang anda
> sebutkan  hanya utk Agama Islam barangkali ???   adakah tertera dalam
> pancasila bahwa KETUHANAN YANG MAHA ESA  artinya agama tertentu ???
> silakan mikir  dulu....selamat berpikir... !!!!
>
>
> salam
>
> ----- Original Message -----
> From: Raja Komkom S. <[EMAIL PROTECTED]>
> To: kuli tinta <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, June 05, 1999 7:41 PM
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: [Kuli Tinta] Fw: Caleg PDI-P lagi
>
>
> > On Thu, 3 Jun 1999, Djoe wrote:
> >
> > > Inga..Inga.... Agama bukan politik...(makanan rohani)... jangan
> menyempitkan
> > > pikiran dengan agama sehingga akan memecah, menyempitkan dan mengkotak
> > > kotakan konsep berbangsa dan bernegara. !!!
> > >
> > >
> >
> > Bung Djoe,
> > Saya rasa anda kurang punya otak dalam menulis paragraf anda ini. Anda
> > harus mengerti dulu bagaimana dasar negara kita PANCASILA. Silahkan
lihat
> > PANCASILA sila ke-satu. Di situ jelas ditulis : KETUHANAN YANG MAHA ESA.
> > Tahu artinya nggak ????
> >
> > Justru dalam menjalankan roda negara Indonesia ini kita harus
berlandaskan
> > pada ketuhanan, artinya hukum-hukum agama pun dapat diakkomodir ke dalam
> > perundang-undangan negara kita.
> > Nah, bagaimana mungkin anda mengtakan kalau pikiran agama itu akan
> > memecah-mecah persatuan.
> > Dan satu hal yang penting wajar juga jika seandainya orang Islam menyeru
> > orang Islam jangan memilih caleg -nya yang Non muslim. Dan akan tidak
> > wajar kalau orang Islam menyeru orang Non-muslim supaya tidak pilih
> > Non-muslim. DEMOKRATIS kan ???
> > Nilainya sama dengan orang kristen menyeru orang kristen, atau Hindu
> > dengan Hindu, atau Budha dengan Budha. Itu wajar .... yang tidak wajar
> > adalah kalau sampai terjadi pemaksaan dan pelanggaran hukum.
> >
> > Iya Nggak ??
> >
> >
> >
> > ______________________________________________________________________
> > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!





Kirim email ke