Saya punya contoh nyata nich...apakah nanti akan dikatakan sebagai
diskriminasi atau tidak terserah teman-teman.
Teman saya wartawan sebuah harian ibukota. Istrinya kerja di bank.
Sebagai wartawan dan karena tuntunan tugas, dia lebih sering berada
di luar rumah. Agak mending sekarang dia bukan lagi wartawan jalanan.
Artinya tidak harus mengejar-ngejar berita, kecuali kalau sumber
berita itu sangat berharga, dia baru turun tangan.
Hampir setiap hari, teman saya ini berangkat pukul 10 pagi, pulang
setelah rapat dewan redaksi. Sampai di rumah kalau tak macet, paling
cepet jam 11 malam. Minimal 2x sebulan, teman saya ini punya tugas liputan
ke LN (tentu saja uang sakunya banyak).
Sebagai karwayati bank, istri teman saya juga punya penghasilan
sekitar Rp.800 ribu.
Setelah anak pertama lahir, MEREKA bingung. Mereka berdua bingung
bagaimana dengan perawatan anaknya. Ibu berangkat jam 6 pagi, jam
6 sore baru sampai di rumah. Bapak berangkat jam 10, jam 11 malam
baru pulang. Anak hanya bersama pembantu.
Ketika saya nelpon (saat anaknya lahir), saya sempat dimintai
pendapat bagaimana baiknya. Apakah ibunya tetap bekerja atau
berhenti saja. Saya jawab: "Terserah eloe berdualah. Apa yang
eloe cari dalam hidup ini. Duit? Karir ibu? masa depan anak?"
Ketika saya berkunjung ke Jakarta lebaran kemarin, saya tahu,
istri teman saya memilih berhenti bekerja di bank. Dia memilih
masa depan anaknya (yg kebetulan juga perempuan).
Soal penghasilan suami memang tak masalah, sebagai wartawan
yang sudah senior gajinya lebih dari cukup. Sisa uang saku
kalau lagi ada liputan ke LN saja sudah > dari gaji istri.
Waktu saya jokingly bertanya kepada istri teman saya
"Enggak nyesel nich nanti. Udah kerja di bank kok malah
berhenti. Lagian, apa enggak mubazir tuh ilmunya, kuliah
capek-capek kok sekarang ijazahnya malah enggak dipakai."
"Ya... nanti ijazahnya dipakai untuk mendidik anak, kan
enggak mubazir to mas."
Menurut saya, keputusan apa pun yang diambil, sepanjang itu
tidak mengandung unsur paksaan, dan tujuannya demi kesejahteraan
keluarga dan masa depan anak, itu adalah keputusan yang baik.
Bila dengan berhenti bekerja, si Istri justru lebih merasa tenang
krn bisa menyiapkan masa depan anak dengan baik...ini juga sebuah
prestasi yang harus dihargai.
Yang tidak boleh terjadi adalah ... bila suami memaksa istrinya
berhenti bekerja padahal istri pengin bekerja.
HP_
>From: "Wawan P. Siswoyo" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: Ita & Felix <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re[2]: [Kuli Tinta] Laki-laki tak berguna
>Date: Thu, 10 Jun 1999 00:03:45 +0700
>
>Pada Tanggal 6/9/1999, Ita & Felix menulis :
>
> > Bung Wawan yang baik..
> > apakah menurut Anda tidak ada di antara wanita yang berpikiran sama atas
> > suami mereka?
> > Wanita pun ingin suaminya tidak sering rapat (rapet?) di luar rumah..
> > Sering di rumah saling bahu membahu mengasuh dan mendidik anak..
> > Karena bagi anak, kehadiran kedua orang tua memberikan arti yang sangat
> > besarnya dalam hal yang berbeda..
> > maskulinitas dan femininitas yang diterima dari pola pengasuhan kedua
>orang
> > tua sangat berpengaruh bagi perkembangan anak..
> > Jadi mengasuh anak bukan kewajiban ibu seorang diri..
>
>Benar apa yang anda katakan, bahwa mengurus anak bukan kewajiban ibu
>saja, harus kedua orang tuanya. Tapi begini... Tidak mungkin kedua
>orang tuanya mencurahkan 100 % bila keduanya bekerja, harus ada salah
>satu yang mengalah... misalnya sang ibu atau sang bapak...
>Disini porsinya yang berbeda dalam mengurus anak sehari-hari, misalnya
>sang bapak harus mampu membiayai... atau sebaliknya..sekali lagi
>porsinya, punya kewajiban masing-masing... Juga perlu ada yang
>bekerja..
>
> > Alasan yang selama ini saya dengar adalah sang ayah sibuk mencari nafkah
> > sehingga urusan mengasuh anak diserahkan kepada istri saja..
> > Ini salah satu yang saya anggap sebagai tidak bertanggung jawab..
>
>Loh... mengurus anak dan bekerja itu sesuatu yang bertanggung jawab...
>Memang gampang mengurus anak ?, tugas mengurus anak itu TUGAS MULIA,
>sebab anak itu masa depan keturunan saya dan istri saya... harus dipelihara
>baik-baik....dan hubungan pertama yang dekat itu adalah ibu, dialah
>yang melahirkan, menyusui ASI (bukan susu sapi, emang anak sapi ?)
>Saya juga tidak setuju kalau sang bapak benar-benar mengabaikan tidak
>mengurus anak... saya bukan mengarah kesana, tapi porsi yang
>berbeda... Jangan membuat sesuatu kalimat bahwa sesuatu yang
>bertanggung jawab itu hanya mengarah kepada uang...!!! Bekerja juga
>mengurus anak merupakan sala satu 2 jenis Tugas Mulia...
>
> > Saya mengusulkan suatu kerja sama.
> > Sejak awal buat pembagian tugas antara suami dan istri..
>
> > 1. Tanyakan dulu apa keinginan masing-masing.. Apabila si istri juga
>ingin
> > berkarir di luar rumah, ini adalah hak individunya. Bukankah merupakan
>hak
> > setiap orang untuk terus mengembangkan dirinya?
>
>Lah wong saya juga udah nanya kok, jadi saya tidak ada pemaksaan, tapi
>karena saya ingin istri yang tidak bekerja full time, maksimal part
>time.. dan dia setuju.. so what so ever, apa saya salah... perasaan
>saya tidak maksa kok.. lagian dianya juga mau...
>
> > 2. Lalu apabila kedua belah pihak ingin berkarir, pertimbangkan
>anak..(ingat
> > urusan anak bukan hanya tanggung jawab sang ibu)
> > pertimbangkan kemungkinan di antara kedua karir tersebut, adakah
>kemungkinan
> > untuk berkantor di rumah misalnya? Atau bisa pula membuat kesepakatan
> > mengenai pembagian waktu..
>
>Nah ini saya cukup setuju, yah itu, berkantor di rumah, seperti bikin
>home industri... Tapi saya tidak setuju kalau keduanya berkarir full
>time di rumah, siapa yang ngurus anak, baby sister ? No way buat saya.
>Banyak temen yang broken home karena kasus seperti itu... Tidak
>selamanya uang menyelesaikan masalah...
>
> > 3. Apa pun hasil akhirnya bisa jadi si istri memilih untuk menjadi ibu
>rumah
> > tangga atau justru sebaliknya sang suami lebih suka menjadi orang
>rumahan..
> > yang paling utama adalah kedua belah pihak menerima dengan senang hati,
> > hindari sebisa mungkin salah satu pihak terpaksa memendam keinginannya.
>
> > PS
> > Anda mengatakan bahwa ini negara demokrasi dan setiap orang bebas
>memilih,
> > tapi anda tidak merelakan istri anda berkarir?
> > Istri anda (saya asumsikan) adalah orang juga..masa tidak boleh memilih?
> > Sebuah paradoks?
>
>Siapa yang tidak merelakan ?, bukan ini intinya, tapi saya maksa atau
>tidak. Justru disini demokrasinya saya tidak
>memaksa wanita yang tidak mau kawin dengan saya.. dan saya juga tidak
>akan protes.. dia-dia.. saya-saya... Sebab ternyata calon istri saya
>mau kok sama saya, dan dia tidak mau kerja di luar rumah secara full
>time, bisa kayak part time, misalnya guru, atau justru buka home
>indutri... Sekali lagi masalahnya saya tidak memaksa wanita yang tidak
>mau sama saya, dan anda juga jangan memaksa supaya wanita harus kerja
>di luar 100 %, masih banyak juga kok yang mau di rumah...
>Anyway, saya tidak akan protes juga bila ada keluarga yang
>berkebalikan dengan saya, itu hak mereka, bukan paradoks, tapi itu hal
>yang lumrah, asalkan setiap pihak mau menerima, itu intinya..
>Seperti saya tidak mempermasalahkan anda seperti saya atau tidak,
>misalnya istri anda bekerja sementara anda di rumah... semuanya
>terserah anda, yang penting mau nerima...sekali lagi mau nerima..
>DAN CALON ISTRI SAYA MAU MENERIMA, DAN YANG PENTING MAU SAMA SAYA..
>Itu saja.. terima kasih banyak...dengan rasa legowo :)
>
>Wassalam,
>8^)
>Wawan P. Siswoyo, Newbie Sekali mailto:[EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!