Pada Tanggal 6/10/1999, Hercule Poirot menulis :
> Teman saya wartawan sebuah harian ibukota. Istrinya kerja di bank.
> Sebagai wartawan dan karena tuntunan tugas, dia lebih sering berada
> di luar rumah. Agak mending sekarang dia bukan lagi wartawan jalanan.
> Artinya tidak harus mengejar-ngejar berita, kecuali kalau sumber
> berita itu sangat berharga, dia baru turun tangan.
> Hampir setiap hari, teman saya ini berangkat pukul 10 pagi, pulang
> setelah rapat dewan redaksi. Sampai di rumah kalau tak macet, paling
> cepet jam 11 malam. Minimal 2x sebulan, teman saya ini punya tugas liputan
> ke LN (tentu saja uang sakunya banyak).
> Sebagai karwayati bank, istri teman saya juga punya penghasilan
> sekitar Rp.800 ribu.
> Setelah anak pertama lahir, MEREKA bingung. Mereka berdua bingung
> bagaimana dengan perawatan anaknya. Ibu berangkat jam 6 pagi, jam
> 6 sore baru sampai di rumah. Bapak berangkat jam 10, jam 11 malam
> baru pulang. Anak hanya bersama pembantu.
> Ketika saya nelpon (saat anaknya lahir), saya sempat dimintai
> pendapat bagaimana baiknya. Apakah ibunya tetap bekerja atau
> berhenti saja. Saya jawab: "Terserah eloe berdualah. Apa yang
> eloe cari dalam hidup ini. Duit? Karir ibu? masa depan anak?"
> Ketika saya berkunjung ke Jakarta lebaran kemarin, saya tahu,
> istri teman saya memilih berhenti bekerja di bank. Dia memilih
> masa depan anaknya (yg kebetulan juga perempuan).
> Soal penghasilan suami memang tak masalah, sebagai wartawan
> yang sudah senior gajinya lebih dari cukup. Sisa uang saku
> kalau lagi ada liputan ke LN saja sudah > dari gaji istri.
> Waktu saya jokingly bertanya kepada istri teman saya
> "Enggak nyesel nich nanti. Udah kerja di bank kok malah
> berhenti. Lagian, apa enggak mubazir tuh ilmunya, kuliah
> capek-capek kok sekarang ijazahnya malah enggak dipakai."
> "Ya... nanti ijazahnya dipakai untuk mendidik anak, kan
> enggak mubazir to mas."
> Menurut saya, keputusan apa pun yang diambil, sepanjang itu
> tidak mengandung unsur paksaan, dan tujuannya demi kesejahteraan
> keluarga dan masa depan anak, itu adalah keputusan yang baik.
> Bila dengan berhenti bekerja, si Istri justru lebih merasa tenang
> krn bisa menyiapkan masa depan anak dengan baik...ini juga sebuah
> prestasi yang harus dihargai.
> Yang tidak boleh terjadi adalah ... bila suami memaksa istrinya
> berhenti bekerja padahal istri pengin bekerja.
Dan juga sebaliknya tentunya.. :)
Dan bagi saya harus ada salah satu yang mau mendidik anak, sebab
prinsip saya, anak saya adalah masa depan saya, mereka yang akan
gantian merawat kita kalo kita sudah tua...
BTW, semuaya berpulang tidak adanya pemaksaan ...Apapun jalan yang
dipilih...
Wassalam,
8^)
Wawan P. Siswoyo, Newbie Sekali mailto:[EMAIL PROTECTED]
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!