"Megawati would have no one to blame but herself. When her party , The
PDI-struggle, won 34 % on vote in last June's parliamentary election, many
Indonesians celebrated. they hope her victory marked the birth of real
democracy .....All she had to do was build a coalition, like any modern
politician, and she could be president. Instead, Megawati has played it the
Javanese way, making oblique moves, as if power might mystically descend
from heavens. She has failed to nail down support of the military and has
alienated reform-minded Muslim allies......"
( Ron Moreau , Newsweek 25 October, 1999, hal.19 )
Terjemahan bebasnya : " Megawati dalam pemilu sudah mendapat 34 % . Buat
seorang modern, cuma tinggal membangun koalisi sedikit lagi...Presiden.
Sayangnya, kepercayaan mistiknya menganggap bahwa kekuasaan itu
adalah jatuhan dari langit..... " . Ya gagal.
Hari ini dari Detik.com Eros Jarot dikabarkan dijagokan menggantikan
posisi Mega di PDIP. Berita itu menggembirakan saya. Sudah saatnya
PDIP melepaskan diri dari lilitan simbol. Sudah saatnya kita punya PDIP
yang modern, seperti organisasi politik lain seperti PAN, PBB atau Partai
Keadilan. Dimana aspirasi bagian bangsa ini bisa keluar dan diperjuangkan
secara transparan, urut, modern, dan indah. Dimana potensi kaum muda
terdidik bisa mengemuka dan memberikan harapan baru.
PDIP selama ini cuma mengandalkan Mega. Posisi tersebut amat
menguntungkan dikala mengeruk suara massa yang cuma tahu simbol. Pada
babak selanjutnya, sikap tersebut membuat PDIP ambles ditelan jaman.
Management PDIP yang tidak mampu luwes, kalah pada kemodernan
yang ditunjukkan organisasi lain. Seperti warung kampung menghadapi IBM.
Kalah terus dalam voting, serta boleh dibilang gagal mengangkat orangnya
ke eksekutif. Ditambah lagi kerugian citra akibat gagal total mengendalikan
masa pendukungnya. Organisasi Ngamuk.
Mungkin PDIP terperosok oleh feodalisme dinasti. Sosok Megawati
melilit dan nyaris menenggelamkan potensi PDIP. " Mana suara
Meilono, kok begitu ya ? bingung ! ?" Sesama alumni ITB satu angkatan
amat heran dengan keadaan tersebut. Beda betul dengan keadaan
Hatta Rajasa yang tampil atau Al-Hilal yang malahan bisa diangkat ke
eksekutif. Atau Yusril yang memukau. Kami tahu betul bahwa Meilono
potensi nya nggak cuma segitu. Kiprah kaum muda di PDIP kelihatan
beku, terbatas, dan amat canggung. Kitapun tahu orang macam
Kwik-pun tidak punya cukup gerak dalam organisasi ( ingat peristiwa
"keseleo lidah" ).
Kita semua semua sebagai anggota mosaik bangsa tentunya sadar bahwa
semua aspirasi mesti bisa keluar dengan sehat. Segala potensi mosaik
haruslah bisa menyumbang secara maksimal. Keadaan seperti itu , hanya
bisa terwujud bila masing-masing aspirasi punya organisasi yang sepadan
modern dan sehat pula.
Wassalam.
Abdullah Hasan
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!