Saya banyak setuju seperti tulisan MB ini.
Menurut saya apa yang diulakukan PDIP selama SU itu adalah benar dan
bertanggung-jawab.
Benar disini adalah menjunjung kebenaran yang berdasarkan atas aspirasi para
pemilihnya dalam pemilu lalu. Jelas aspirasi tidak boleh dipermainkan,
seperti yang dilakukan oleh AR dengan PT-nya, walau secara pribadi saya
menilai langkah itu jeli & lihai (bermain cantil\k, 'gitu katanya). Namun
saya yakin cara-cara seperti itu sudah pasti terpikir oleh politisi PDIP
juga. Hanya persoalannya pasti mereka tak bisa melanggar kesucian aspirasi
itu, seperti beraliansi strategis dengan PG yang merupakan simbol SQ itu.

Disisi lain ketidakmauan PDIP melakukan manufer dagang-sapi itu jelas
menimbulkan konsekwensi  yang positif. Salah satu akibat yang harus
ditanggung oleh kabinet dwi-tunggal ini, yang dimotori oleh PT, adalah harus
membagi jatah kursi pada PG, seperti dalam tuntutan A. Tanjung.
Dan ini menyebabkan ketidak jelasan terbentuknya suatu iklim demokrasi yang
baik, benar & efektif.
Disini sudah tidak adalagi partai yang benar-benar berfungsi sebagai
oposisi. Omong kosong suatu partai akan dapat melakukan koreksi &
memperjuangkannya kepada pemerintah, kalau kader-kadernya duduk didalamnya,
apalagi pengangkatannya dengan cara garansi. Jelas ini bukan iklim yang
kondusif & benar, ini namanya dagelan. Ini akibat konsekwensi manufer PT itu
yang mau melirik PG, dan ini juga melemahkan tekanan pada TNI/Polri dalam
kancah perpolitikan nasional.

Nasib re negaraku.........Fw.


> -----Original Message-----
> From: Marto Blantik [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Aku juga pingin rame-rame nimbrung..
> ----- Original Message -----
> From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
> 
> > >From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >
> > >Terjemahan bebasnya :  " Megawati dalam pemilu sudah mendapat 34 % .
> Buat
> > >seorang modern,  cuma tinggal membangun koalisi sedikit
> lagi...Presiden.
> > >Sayangnya, kepercayaan mistiknya menganggap bahwa kekuasaan itu
> > >adalah jatuhan dari langit.....  "  .  Ya gagal.
> > >
> Yap :
> > Benar, pola pikir yang dogmatis dan terpaku pada pakem standard ternyata
> > tidak mampu mengantisipasi langkah gerak politisi lain yang menghalalkan
> > setiap kemungkinan yang terbuka. Akibatnya PDIP gagal total meraih kursi
> > Presiden, dan menjadi bulan bulanan di SUMPR.
> 
> marto :
> Bung Yap, apakah salah PDIP menggunakan pola pikir yang dogmatis dan
> terpaku
> pada pakem standard ? Apakah PDIP harus main akrobat, dengan bersembunyi
> dibalik kata-kata konstitusional. Ingat Suharto pun bisa memerintah
> seperti
> itu juga karena sudah sesuai dengan konstitusi, serdadu bisa dapat gratis
> 38
> juga karena konsensus nasional yang konstitusional. Aku pikir PDIP tidak
> salah karena kekonsistenannya dan sedikit banyak menuruti nuraninya.
> Disaat
> Indonesia penuh dengan permainan kotor, penuh kecurangan, dan nyata-nyata
> menerapkan tulisan Machiavelli PDIP ternyata tampil lugu dan penuh nurani
> di
> pesta para lulusan elite orba. PDIP memang kalah dan sering ditipu
> mentah-mentah, tapi secara moral dia menang. Bandingkan dengan lawan PDIP
> yang selalu mengagung-agungkan moral dan membawa-bawa agama, tapi cuma
> sebatas di bibir saja.
> 
> Yap:
> > Saya perlu bertanya arti kata modern, urut dan indah bagi PAN, PBB atau
> PK
> > yang seingat saya dalam meraup massa diantaranya jelas jelas menjanjikan
> > memperjuangkan Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra dan Kiai Haji Dindin
> > Hafifuddin sebagai Calon Presiden yang bahkan menjadi peserta aktif
> beberapa
> > Debat Capres. Tidak satupun dari Partai-partai itu mencalonkan Gus Dur
> yang
> > saat itu sangat dekat dengan Megawati. Tetapi ketika di MPR hanya PBB
> yang
> > masih konsisten maju dengan Prof Yusril, tetapi itupun menarik diri
> sesaat
> > sebelum dinyatakan resmi sebagai Capres, yaitu setelah Hartono Mardjono
> > menerima sumpah Gus Dur untuk tidak akan mundur dari pencapresan. Jadi
> > pencapresan Yusril lebih didasari ketidak percayaan atas keseriusan Gus
> Dur
> > untuk maju terus dalam pemilihan Presiden daripada memenuhi janji
> kampanye.
> > Apakah ini yang dimaksud modern, urut dan indah?
> > Sekali lagi ini pertanyaan yang tanpa pretensi, untuk menambah wawasan
> > sebagai seorang konstituent, supaya dalam Pemilu mendatang dapat memilih
> > Parpol yang modern, urut dan indah.
> >
> Marto :
> Bung Yap, untuk menjawab pertanyaan anda itu gampang. Lihat saja bahasa
> yang
> mereka gunakan. Bahasa pada tingkat rakyat selalu tegas langsung dan
> bermakna tunggal. Misalnya saja : seret Suharto, Habibie harus turun,
> Megawati atau Revolusi, hanya ada satu kata 'lawan' (PRD). Sedangkan
> bahasa
> pada tingkat penguasa atau elite sering bermakna ganda dan sering
> bersayap,
> atau lawan dari makna sebenarnya, contoh : diamankan (ditahan),
> disesuaikan(harga BBM), untuk kepentingan Nasional (bukan kepentingan
> rakyat), semua bisa diatur, Habibie rapornya merah dll cari sendiri. Nah
> setelah reformasi tahun lalu, banyak sekali ungkapan-ungkapan tingkat
> rakyat
> tersebut. Namun ternyata ungkapan bermakna ganda muncul lagi saat SU MPR :
> seperti modern, permainan indah, permainan cantik dimana pengungkapnya
> ingin
> menunjukkan kecerdasannya. Kata-kata ini sebenarnya cocok untuk orang main
> bola, bila pemainnya gesit dan pandai mempermainkan bola. Tapi kalau di SU
> MPR, sebenarnya lebih cocok bila disebut permainan licik daripada
> permainan
> cantik, primitif daripada modern, karena melawan asas fair play, serta
> merendahkan martabat manusia.
> 
> Jadi kita musti tanggap bila tiba-tiba muncul ungkapan-ungkapan ganda yang
> aneh-aneh, dan arti sebenarnya sulit ditebak, dan berputar-putar seperti
> mbah Soeloyo (sory mbah, tak sebut disini biar tambah beken).
> 
> Moga-moga saja PDIP dipimpin oleh Eros Jarot yang seniman, yang selalu
> menjunjung tinggi martabat manusia, dan betul-betul menjalankan hal-hal
> yang
> modern, indah dalam arti yang sebenar-benarnya.
> 
> > Wassalam
> > Yap
> 
> Salam
> Marto Blantik
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke