>From: "Marto Blantik" <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Thu, 28 Oct 1999 10:49:27 +0900
>
>Aku juga pingin rame-rame nimbrung..
>Yap :
> > Benar, pola pikir yang dogmatis dan terpaku pada pakem standard ternyata
> > tidak mampu mengantisipasi langkah gerak politisi lain yang menghalalkan
> > setiap kemungkinan yang terbuka. Akibatnya PDIP gagal total meraih kursi
> > Presiden, dan menjadi bulan bulanan di SUMPR.
>
>marto :
>Bung Yap, apakah salah PDIP menggunakan pola pikir yang dogmatis dan 
>terpaku
>pada pakem standard ?

Nggak salah bung Marto, itu sebuah pilihan yang sah dan terhormat, tetapi 
juga harus berani menanggung konsekuensinya, misalnya kalau pemain lain 
menggunakan taktik yang lain mungkin saja dia kalah. Manchester United saja 
pernah kalah 5-0. Mika Hakkinen juga hanya diurutan 3 dalam GP Formula 1 di 
Sepang. Lagian kalau kembali kedunia politik Indonesia, bukankah ini hasil 
terbaik yang mampu dicapai, sehingga nggak ada yang kehilangan muka? Santai 
saja.

Apakah PDIP harus main akrobat, dengan bersembunyi
>dibalik kata-kata konstitusional. Ingat Suharto pun bisa memerintah seperti
>itu juga karena sudah sesuai dengan konstitusi, serdadu bisa dapat gratis 
>38
>juga karena konsensus nasional yang konstitusional. Aku pikir PDIP tidak
>salah karena kekonsistenannya dan sedikit banyak menuruti nuraninya. Disaat
>Indonesia penuh dengan permainan kotor, penuh kecurangan, dan nyata-nyata
>menerapkan tulisan Machiavelli PDIP ternyata tampil lugu dan penuh nurani 
>di
>pesta para lulusan elite orba. PDIP memang kalah dan sering ditipu
>mentah-mentah, tapi secara moral dia menang. Bandingkan dengan lawan PDIP
>yang selalu mengagung-agungkan moral dan membawa-bawa agama, tapi cuma
>sebatas di bibir saja.
>
Yang tentang PDIP Anda benar, tetapi tentang yang lain saya kurang setuju, 
karena setahu saya mereka bukan sekedar membawa agama dibibir saja. Mereka 
pemeluk agama yang taat, tetapi mungkin saja kepentingan yang bersifat 
taktis sesaat menjadikan pilihan itu yang mereka ambil. Beberapa dari mereka 
saya kenal secara pribadi dan banyak memberi inspirasi keluhuran jiwa kepada 
saya.

> >
>Marto :
>Bung Yap, untuk menjawab pertanyaan anda itu gampang. Lihat saja bahasa 
>yang
>mereka gunakan. Bahasa pada tingkat rakyat selalu tegas langsung dan
>bermakna tunggal. Misalnya saja : seret Suharto, Habibie harus turun,
>Megawati atau Revolusi, hanya ada satu kata 'lawan' (PRD). Sedangkan bahasa
>pada tingkat penguasa atau elite sering bermakna ganda dan sering bersayap,
>atau lawan dari makna sebenarnya, contoh : diamankan (ditahan),
>disesuaikan(harga BBM), untuk kepentingan Nasional (bukan kepentingan
>rakyat), semua bisa diatur, Habibie rapornya merah dll cari sendiri. Nah
>setelah reformasi tahun lalu, banyak sekali ungkapan-ungkapan tingkat 
>rakyat
>tersebut. Namun ternyata ungkapan bermakna ganda muncul lagi saat SU MPR :
>seperti modern, permainan indah, permainan cantik dimana pengungkapnya 
>ingin
>menunjukkan kecerdasannya. Kata-kata ini sebenarnya cocok untuk orang main
>bola, bila pemainnya gesit dan pandai mempermainkan bola. Tapi kalau di SU
>MPR, sebenarnya lebih cocok bila disebut permainan licik daripada permainan
>cantik, primitif daripada modern, karena melawan asas fair play, serta
>merendahkan martabat manusia.
>
>Jadi kita musti tanggap bila tiba-tiba muncul ungkapan-ungkapan ganda yang
>aneh-aneh, dan arti sebenarnya sulit ditebak, dan berputar-putar seperti
>mbah Soeloyo (sory mbah, tak sebut disini biar tambah beken).

Ya, terima kasih atas penjelasan Anda, saya menghargai. Inilah gunanya 
teman, saling mengingatkan dijalan kebaikan dan kesabaran.

>
>Moga-moga saja PDIP dipimpin oleh Eros Jarot yang seniman, yang selalu
>menjunjung tinggi martabat manusia, dan betul-betul menjalankan hal-hal 
>yang
>modern, indah dalam arti yang sebenar-benarnya.
>
Menurut pendapat saya, masalah pokok PDIP bukan pada pimpinan puncaknya, 
tetapi pada team manajemennya. Kalau pergantian pimpinan puncak itu mampu 
mendorong berjalannya sistem pemberdayaan team manajemennya, sangat mungkin 
PDIP menjadi besar. Tetapi kalau hanya main figur, rasanya Eros kalah jauh 
dibanding Megawati. Untuk main figur, rasanya saat ini hanya Gus Dur dan Cak 
Nur yang akseptabilitasnya berada diatas Megawati. Entah kalau ada yang 
terlewat dari pengamatan saya.
Lagian Pemilu mendatang kan semua main pilih langsung, jadi masalahnya bisa 
lebih sederhana. Saya berharap euphoria politik ini segera berakhir, dan 
mulai kerja keras mengatasi keterpurukan. Bagi yang bilang PDIP bagus, 
buktikanlah dalam lima tahun mendatang PDIP mampu memberikan kebaikan bagi 
rakyat. Begitu pula bagi yang bilang PAN, PKB, PBB, PK, PPP atau lainnya 
bagus, silahkan membuktikannya dalam tindakan nyata kepada rakyat, supaya 
rakyat mengakuinya.  Marilah kita ikut menumbuhkan iklim saling berlomba 
dalam kebaikan, kebenaran dan keadilan bagi bangsa Indonesia.


> > Wassalam
> > Yap
(Mari menjaga kerukunan bangsa dalam Semangat Sumpah Pemuda)
>
>Salam
>Marto Blantik
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke