Sebetulnya agak malas mengomentari tentang PDIP, PAN, PKB, SUMPR dsb. tetapi
karena posting ini sangat bagus, boleh dong ikut meramaikan memberi
komentar.
>From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [Kuli Tinta] PDIP ( LAGI )
>Date: Thu, 28 Oct 1999 02:28:25 +0700
>
>"Megawati would have no one to blame but herself. When her party , The
>PDI-struggle, won 34 % on vote in last June's parliamentary election, many
>Indonesians celebrated. they hope her victory marked the birth of real
>democracy .....All she had to do was build a coalition, like any modern
>politician, and she could be president. Instead, Megawati has played it the
>Javanese way, making oblique moves, as if power might mystically descend
>from heavens. She has failed to nail down support of the military and has
>alienated reform-minded Muslim allies......"
>( Ron Moreau , Newsweek 25 October, 1999, hal.19 )
>
>Terjemahan bebasnya : " Megawati dalam pemilu sudah mendapat 34 % . Buat
>seorang modern, cuma tinggal membangun koalisi sedikit lagi...Presiden.
>Sayangnya, kepercayaan mistiknya menganggap bahwa kekuasaan itu
>adalah jatuhan dari langit..... " . Ya gagal.
>
Benar, pola pikir yang dogmatis dan terpaku pada pakem standard ternyata
tidak mampu mengantisipasi langkah gerak politisi lain yang menghalalkan
setiap kemungkinan yang terbuka. Akibatnya PDIP gagal total meraih kursi
Presiden, dan menjadi bulan bulanan di SUMPR.
>Hari ini dari Detik.com Eros Jarot dikabarkan dijagokan menggantikan
>posisi Mega di PDIP. Berita itu menggembirakan saya. Sudah saatnya
>PDIP melepaskan diri dari lilitan simbol. Sudah saatnya kita punya PDIP
>yang modern, seperti organisasi politik lain seperti PAN, PBB atau Partai
>Keadilan. Dimana aspirasi bagian bangsa ini bisa keluar dan diperjuangkan
>secara transparan, urut, modern, dan indah. Dimana potensi kaum muda
>terdidik bisa mengemuka dan memberikan harapan baru.
Saya perlu bertanya arti kata modern, urut dan indah bagi PAN, PBB atau PK
yang seingat saya dalam meraup massa diantaranya jelas jelas menjanjikan
memperjuangkan Amien Rais, Yusril Ihza Mahendra dan Kiai Haji Dindin
Hafifuddin sebagai Calon Presiden yang bahkan menjadi peserta aktif beberapa
Debat Capres. Tidak satupun dari Partai-partai itu mencalonkan Gus Dur yang
saat itu sangat dekat dengan Megawati. Tetapi ketika di MPR hanya PBB yang
masih konsisten maju dengan Prof Yusril, tetapi itupun menarik diri sesaat
sebelum dinyatakan resmi sebagai Capres, yaitu setelah Hartono Mardjono
menerima sumpah Gus Dur untuk tidak akan mundur dari pencapresan. Jadi
pencapresan Yusril lebih didasari ketidak percayaan atas keseriusan Gus Dur
untuk maju terus dalam pemilihan Presiden daripada memenuhi janji kampanye.
Apakah ini yang dimaksud modern, urut dan indah?
Sekali lagi ini pertanyaan yang tanpa pretensi, untuk menambah wawasan
sebagai seorang konstituent, supaya dalam Pemilu mendatang dapat memilih
Parpol yang modern, urut dan indah.
>
>PDIP selama ini cuma mengandalkan Mega. Posisi tersebut amat
>menguntungkan dikala mengeruk suara massa yang cuma tahu simbol. Pada
>babak selanjutnya, sikap tersebut membuat PDIP ambles ditelan jaman.
>Management PDIP yang tidak mampu luwes, kalah pada kemodernan
>yang ditunjukkan organisasi lain. Seperti warung kampung menghadapi IBM.
>Kalah terus dalam voting, serta boleh dibilang gagal mengangkat orangnya
>ke eksekutif. Ditambah lagi kerugian citra akibat gagal total mengendalikan
>masa pendukungnya. Organisasi Ngamuk.
Seingat saya sejak PDIP konggres di Bali sampai berakhirnya Sidang Umum MPR
omongan PDIP ya cuma itu, berusaha memenangi Pemilu dan memperjuangkan Mega
menjadi Presiden. Dan ketika Capresnya ternyata kalah, PDIP tidak
mencalonkannya sebagai Cawapres. Jadi bukan cuma simbol dong, tetapi memang
sudah main transparan, sekalipun gagal.
Tentang ngamuknya pendukung Mega, saya dengar mereka merasa ada akrobat
politik yang tidak wajar dalam proses persidangan SUMPR.
Seperti yang saya baca di Forum Keadilan, pada lewat tengah malam pukul
02.10 setelah PPJ Presiden Habibie resmi ditolak MPR, ketika Akbar Tanjung
berkunjung kerumah Habibie di Patra Kuningan, disana telah ada lima orang
tokoh politik, yaitu Amien Rais, Hatta Rajasa, Yusril Ihza Mahendra, Hartono
Mardjono dan Achmad Sumargono. Bahkan Amien dan Yusril sempat menenangkan
Habibie ketika dia sempat menarik kerah baju Akbar.
Apakah gerangan kompetensi kelima tokoh yang bukan Golkar ini sowan ke Patra
Kuningan bukan pada layaknya jam bertamu? Apakah dalam rangka modern, urut
dan indah itu?
Dari posting seorang netter disini ada info bahwa Amien Rais menerima
limpahan dana Bank Bali konon dari Habibie. Apa berita itu hanya sekedar
fitnah atau masih ada hubungannya dengan modern, urut dan indah itu?
Tentang perngamukan itu, dalam skala yang berbeda kita juga melihat
represifnya pendukung Gus Dur, sehingga seorang Mi'ing harus mengulang
permintaan maafnya, itupun belum cukup, lalu datang minta maaf ke Kantor
PBNU. Padahal apa kata Gus Dur? "Mi'ing itu teman kita".
Perngamukan juga terjadi dikelompok Iramasuka dan di Makassar sebagai bukti
dukungan kepada Habibie.
Boleh dong dibilang kekecewaan, apalagi ketersinggungan dapat menghasilkan
perngamukan grass root pada kelompok manapun, bukan hanya PDIP.
>
>Mungkin PDIP terperosok oleh feodalisme dinasti. Sosok Megawati
>melilit dan nyaris menenggelamkan potensi PDIP. " Mana suara
>Meilono, kok begitu ya ? bingung ! ?" Sesama alumni ITB satu angkatan
>amat heran dengan keadaan tersebut. Beda betul dengan keadaan
>Hatta Rajasa yang tampil atau Al-Hilal yang malahan bisa diangkat ke
>eksekutif. Atau Yusril yang memukau. Kami tahu betul bahwa Meilono
>potensi nya nggak cuma segitu. Kiprah kaum muda di PDIP kelihatan
>beku, terbatas, dan amat canggung. Kitapun tahu orang macam
>Kwik-pun tidak punya cukup gerak dalam organisasi ( ingat peristiwa
>"keseleo lidah" ).
Meliono, Fadli Zon dan Faisal Basri memang masih harus berproses diintern
organisasinya untuk tumbuh menjadi politisi yang handal untuk mencapai
tingkatan politisi modern,urut dan indah.
Dalam pembentukan Kabinet, salah satu sistim Gus Dur adalah sistim jaminan,
artinya orang yang diusulkan masuk Kabinet harus ada penjaminnya, yaitu
salah satu dari 5 orang yang disebut Gus Dur. Para penjamin itu adalah Gus
Dur sendiri, Amien Rais, Akbar Tanjung, Megawati dan Jenderal Wiranto.
Melihat hasil susunan Kabinet, Amien Rais setidaknya menggaransi 8 orang
Poros Tengah yang masuk Kabinet. Tetapi saya baca di detik.com, menurut
Faisal Basri dalam diskusi pembentukan Kabinet itu Amien Rais sampai
menggebrak meja, sehingga beberapa kali susunan Kabinet diubah. Dan bahkan
kabarnya Gus Dur dengan piawai menempatkan SB Yudhoyono dan Agum Gumelar
agar kedua Departemen ini nggak direcoki lagi, dengan trade off
profesionalitas.
Apakah sikap Amien Rais ini sifat konsekuen memperjuangkan bawahan atau
karena merasa telah memperjuangkan terpilihnya Gus Dur menjadi Presiden
sehingga berhak menagih jatah kursi? Apakah menggebrak meja itu wujud
pengakuan hak prerogatif Presiden dalam membentuk Kabinet?
Seandainya yang digaransi Megawati sebesar itu pula, yaitu apabila banyak
orang PDIP yang masuk Kabinet, saya kira akan menjadi sumber hujatan baru.
Apakah sikap Megawati ini termasuk sikap mengalah demi kepentingan yang
lebih besar atau sikap lemah?
Tentang Gus Dur sendiri, saya bisa membayangkan, beliau menghadapi
'kekerasan' begitu dengan santai saja, toch kalau Kabinet berhasil beliau
yang sukses, kalau gagal tinggal tunjuk hidung yang menggaransi. Kan mata
rakyat selalu terbuka dan seratus persen mendukung Gus Dur tanpa melihat
siapa yang menCapreskannya.
Survey membuktikan bahwa karena kebesaran Gus Dur-lah maka beliau
diCapreskan, bukan karena diCapreskan maka beliau menjadi besar. Jadi
siapapun yang menCapreskan menjadi tidak penting, selain sebagai catatan
sejarah.
>
>Kita semua semua sebagai anggota mosaik bangsa tentunya sadar bahwa
>semua aspirasi mesti bisa keluar dengan sehat. Segala potensi mosaik
>haruslah bisa menyumbang secara maksimal. Keadaan seperti itu , hanya
>bisa terwujud bila masing-masing aspirasi punya organisasi yang sepadan
>modern dan sehat pula.
Setuju banget. Hanya definisi modern dan sehat perlu lebih spesifik,
sehingga bisa mengenali substansinya dengan benar. Adakah yang bisa membantu
mendefinisikannya?
>
>Wassalam.
>Abdullah Hasan
>
Wassalam
Yap
>
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!