On Thu, 28 Oct 1999, Franca A.S. Wenas wrote:
> Saya banyak setuju seperti tulisan MB ini.
> Menurut saya apa yang diulakukan PDIP selama SU itu adalah benar dan
> bertanggung-jawab.
WAM:
Saya tidak tahu benar, bagian mana dari tulisan MB (marto blantik) yang
anda setuju. Satu hal yang jelas, dari nama anda dapat diketahui bahwa
anda adalah simpatisan PDI-P. Jadi, anda akan setuju dengan semua tulisan
yang mendukung PDI-P. Dan sebaliknya, akan menolak semua tulisan yang
tidak mendukung PDI-P.
> Benar disini adalah menjunjung kebenaran yang berdasarkan atas aspirasi
> para pemilihnya dalam pemilu lalu. Jelas aspirasi tidak boleh
> dipermainkan, seperti yang dilakukan oleh AR dengan PT-nya, walau secara
> pribadi saya menilai langkah itu jeli & lihai (bermain cantil\k, 'gitu
> katanya).
WAM:
Aspirasi para pemilihnya?
Apakah anda pikir pemilih partai2 lain juga tidak boleh dihargai
aspirasinya? Menghargai aspirasi pemilih sih boleh2 saja. Tapi, jangan
terus mengorbankan aspirasi pemilih lain. Kalau PDI-P memaksa Mega harus
jadi presiden cuma karena pemilih PDI-P menghandaki hal itu, apa terus
semua juga harus mengikuti kemauan itu? Ini yang jadi masalah. Elit PDI-P
selalu _menjual_ alasan bahwa pemilih PDI-P menghendaki Mega jadi
presiden, tanpa tahu bahwa proses pemilihan presiden tidak hanya
mensyaratkan kemenangan suatu partai. Jumlah kemenangan pun ikut
menentukan.
> Namun saya yakin cara-cara seperti itu sudah pasti terpikir oleh
> politisi PDIP juga. Hanya persoalannya pasti mereka tak bisa melanggar
> kesucian aspirasi itu, seperti beraliansi strategis dengan PG yang
> merupakan simbol SQ itu.
WAM:
Taik kucing lah.
Jika kemarin Golkar mendukung PDI-P, memangnya PDI-P mau nolak? Nggak usah
berlaga sok suci lah. Kecuali itu, apa sih definisi Status quo itu? (Lagi2
saya tanyakan hal ini, tapi nggak pernah ada yang bisa njawab). Gimana
anda mau bilang PDI-P itu bukan status quo, dengan melihat figur2 Orba
yang ada di situ? (Jacob Tobing, Theo Sjafei, Solichin GP, untuk menyebut
beberapa di antaranya). Apakah karena mereka bukan lagi Golkar terus
disebut reformis? Tanpa bisa menjelaskan definisi yang jelas, omongan anda
tentang status quo dan sebagainya cuma kayak igauan.
Berkali2 sudah saya jelaskan, berdasarkan definisi obyektif, tidak ada
ORANG WARAS yang berani bilang PDI-P itu partainya reformis. Tak kurang
Khofifah sendiri pernah mengatakan hal itu. Dan bukan cuma Khofifah. Cak
Nur juga. (Tentu saja, koran2 yang berafiliasi ke agama Katolik tidak
pernah mengekspos hal ini).
> Disisi lain ketidakmauan PDIP melakukan manufer dagang-sapi itu jelas
> menimbulkan konsekwensi yang positif. Salah satu akibat yang harus
> ditanggung oleh kabinet dwi-tunggal ini, yang dimotori oleh PT, adalah
> harus membagi jatah kursi pada PG, seperti dalam tuntutan A. Tanjung.
WAM:
Masih untung diberi kursi. Dan siapa pula yang membagi kursi dengan PG?
Memangnya PDI-P yang berhak membagi kursi kabinet? Yang bener saja.
> Dan ini menyebabkan ketidak jelasan terbentuknya suatu iklim demokrasi
> yang baik, benar & efektif.
WAM:
Jelaskan dulu apa itu iklim demokrasi yang baik, benar dan efektif.
> Disini sudah tidak adalagi partai yang benar-benar berfungsi sebagai
> oposisi. Omong kosong suatu partai akan dapat melakukan koreksi &
> memperjuangkannya kepada pemerintah, kalau kader-kadernya duduk didalamnya,
> apalagi pengangkatannya dengan cara garansi. Jelas ini bukan iklim yang
> kondusif & benar, ini namanya dagelan. Ini akibat konsekwensi manufer PT itu
> yang mau melirik PG, dan ini juga melemahkan tekanan pada TNI/Polri dalam
> kancah perpolitikan nasional.
WAM:
Kalau memang mau beroposisi, kenapa mesti memaksa _orang lain_?
Kenapa PDI-P sendiri tidak memulainya? (Andaikata mereka tidak puas dengan
pembagian kursi kabinet). Anda mimpi bung, kalau bilang jabatan menteri
itu tidak diburu partai. PDI-P sekalipun.
Kalau mau disalahkan, salahkan semua partai yang wakilnya duduk sebagai
menteri kabinet. PDI-P juga.
> Nasib re negaraku.........Fw.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!