--From: Marto Blantik <[EMAIL PROTECTED]>
"Apa tulisan ini masih ada gunanya sekarang ? Saya sering heran, setelah
kejadian demi kejadian, dan semuanya selesai orang baru teriak-teriak
tentang etika dan moral. Cak Nur teriak, sekarang dosen mantan bosku teriak.
Bangsa ini (terutama elitenya) memang harus diakui payah etikanya."
Sdr. Marto,
Salah satu cara menenangkan diri kita dari keruwetan situsional yang kadang2
terasa amat sumpeg adalah mendengar ujar-ujar para guru bangsa.
Dari mereka kita seakan disadarkan sedang berada dimana kita sekarang.
Orang seperti Cak Nur sering melihat dalam skala 25 tahun atau lebih.
"Ndeso"-nya kita semua bereuphoria menggunakan kebebasan ngomong
kita. Ruwet dan kenesnya KPU. Lonjak2nya menang pemilu. Nangisnya
yang kalah. Ngamuknya para pendukung seseorang. Gagalnya kita melihat
orang lain, dsb.dsb. Yang seperti itu dalam skala kecil membuat kita
berputus
asa. Dalam skala yang lebih besar, hal2 tersebut merupakan keniscayaan
yang harus kita lewati meskipun agak menyakitkan.
Demikian pula dari tulisan MT Zen yang amat mengagumkan dan amat
inspiratif itu. Mudah2an dalam situasi normal, dimana tidak ada kecurigaan
yang amat besar diantara kita, etika sehat bisa keluar dengan sehat pula.
Dalam situasi yang lalu, bila Golkar mundur teratur tanpa perjuangan apa-
apa, apakah tidak dibunuh oleh para pendukungnya yang di Sul-Sel umpa-
manya ?. Itulah yang disebut dengan istilah "resistensi" yang sering kita
dengar itu. Habibie terlalu dihujat, penuh dengan etika tinggi, bukan ?
Mega 'terlalu" menguatirkan golongan Islam . Tidak cukup canggih bisa
berkomunikasi mencoba menghapuskan kekuatiran tersebut ( mudah2an
tidak ada yang tanya : golongan Islam yang mana ? ). Bagaimana Etika
bisa diharapkan pada keadaan seperti itu ? Keadaan yang penuh keti-
dak percayaan itu ?
Jadi tulisan seperti karya MT Zen tersebut jangan disesalkan karena
sudah terlambat, karena situasi Mega yang sudah gagal itu umpamanya.
Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Untuk kita semua warga bangsa ini.
Wassalam.
Abdullah Hasan.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!