Milis ini masih milisnya nyamuk pers khan, kok sekarang sepi. Ini nih ada
tantangan GD buat para kuli tinta. Sayang disini wartawan sekarang jarang
nulis. Stanley, Kj, atau yang lain sekarang masih disini enggak ? Pada sibuk
kali yah.
Salam
MB
Kamis, 11 November 1999
Catatan dari Perjalanan Gus Dur
Paling Banyak Bikin Jumpa Pers
PALING banyak dilakukan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selama
berkeliling ke delapan negara-negara ASEAN adalah bertemu dengan para
wartawan. Selama empat hari, Gus Dur mengadakan jumpa pers sembilan kali.
Ini sebuah rekor yang belum pernah dilakukan oleh para presiden Indonesia
sebelumnya. Dari Gus Dur terasa informasi mengalir dengan deras. Sosok Gus
Dur terasa sebagai simbol era keterbukaan informasi di Indonesia.
Jumpa pers dengan Gus Dur tidak bertele-tele. Rata-rata waktu yang
dibutuhkan dalam pertemuan antara Gus Dur dengan para wartawan hanya sekitar
25 menit. Dalam waktu relatif singkat itu, 10 pertanyaan wartawan bisa
diajukan. Jawaban Gus Dur atas pertanyaan selalu singkat dan langsung pada
sasarannya. Jawaban yang diharapkan oleh wartawan selalu dipenuhinya, yakni
tidak berbelit-belit dan melingkar-lingkar. Pada jumpa pers di Manila,
Selasa (9/11) malam, sekitar 15 pertanyaan diajukan wartawan asing. Tanya
jawab hanya berlangsung sekitar 20 menit.
Wartawan tidak bisa mendapatkan hal seperti itu dari Soeharto atau BJ
Habibie, ketika mereka menjadi presiden. Kedua orang ini bisa menggunakan
waktu berjam-jam hanya untuk memberi jawaban atas satu atau dua pertanyaan.
Tetapi sayang, Gus Dur tidak ditopang oleh suatu perangkat Istana dalam
membuka arus informasi di Indonesia yang tersumbat mati selama 32 tahun ini.
Yang menangani pers di Istana saat ini masih berasal dari masa Orde Baru.
Spontanitas mereka adalah menjauhkan wartawan dari sumber berita, terutama
bila sumber itu Presiden, atau meneliti pakaian apa yang dikenakan wartawan
(sesuai atau tidak dengan selera penguasa).
Di setiap tempat di ASEAN, para wartawan yang meliput Istana hanya
mengenakan pakaian sederhana. Tanda pengenal sementara pun cukup diambil di
depan Istana setelah meninggalkan tanda pengenal kantornya. Sedangkan di
Indonesia, wartawan Istana selalu mengenakan setelan jas dan berdasi di
mana-mana, termasuk pada waktu tidur di dalam pesawat terbang. Tatkala, ada
wartawan yang tidak mengenakan dasi, langsung ditegur. "Kok tidak kompak,"
kata petugas pers.
Kontras antara gaya Gus Dur dan petugas pers Istana memang lucu. Gus Dur
ingin selalu memberi penjelasan langsung tentang apa yang telah dilakukan
kepada para wartawan dalam dan luar negeri. Tetapi para petugas pers-yang
berjumlah sekitar 10 orang-tidak bisa berbuat apa-apa untuk mendukung
gerakan Gus Dur ini. Mereka bingung, tidak tahu apa yang akan dilakukan.
Mereka hanya bisa melakukan pola lama, yakni memperhatikan pakaian wartawan
atau menyuruh wartawan menjauhi Gus Dur.
***
JUMPA pers pertama dilakukan Gus Dur ketika berada di Istana Kepresidenan
Singapura. Ketika itu seorang protokol Istana Singapura menawarkan, apakah
Gus Dur mau berjumpa dengan para wartawan secara langsung. Gus Dur langsung
menjawab, "Tentu saya mau, karena ini kesempatan menyampaikan iklan gratis."
Di Kuala Lumpur, Gus Dur juga memanggil para wartawan datang ke ruangnya di
hotel. Hanya beberapa wartawan Indonesia yang hadir dalam jumpa pers ini.
Para petugas pers Istana Kepresidenan Indonesia tidak punya inisiatif
mengundang wartawan Malaysia atau para koresponden media massa negara-negara
besar, seperti Amerika Serikat, Jepang, atau Eropa.
Para wartawan asing hanya mengambil nara sumber dari para pemimpin Malaysia.
Mereka tidak diundang ikut jumpa pers langsung dengan Gus Dur. Tak heran
jika berita-berita yang muncul di surat kabar Malaysia secara kasar
mengatakan, Gus Dur mohon bantuan beras dari Malaysia. Padahal Gus Dur
mengatakan, ia hanya mengucapkan terima kasih atas bantuan beras sebelum
ini. Jadi bantuan tambahan-seperti yang diberitakan secara luas di
dunia-adalah tawaran dari Pemerintah Malaysia.
Perjalanan Gus Dur diikuti sekitar 78 anggota delegasi, termasuk para
wartawan. Di dalam buku panduan disebutkan rombongan wartawan 28 wartawan.
Tetapi sebenarnya yang ada hanya sekitar 14 wartawan dari media massa
independen. Selebihnya adalah karyawan Istana Kepresidenan yang mengenakan
kartu pengenal wartawan. Mereka ini sebenarnya adalah koordinator wartawan,
dua juru foto, pembawa kamera, pembawa lampu kamera, dan perekam
pembicaraan. Susunan rombongan ini memang masih menggunakan pola masa
Soeharto, yakni banyak tetapi kurang efisien dan tidak mengakomodir
publikasi yang efektif.
***
KURANG efektifnya kehadiran para petugas pers Istana juga membuat para
wartawan asing membuat berita kurang tepat mengenai penyataan Gus Dur
tentang sekularisme. Berita itu muncul dari pertemuan Gus Dur dengan sekitar
500 pengusaha di Singapura hari Sabtu. Gus Dur antara lain mengatakan,
perlunya pemisahan urusan politik dengan agama. Tetapi kemudian muncul
pemberitaan asing yang mengatakan, pemikiran Gus Dur bersifat sekularistis.
Dalam jumpa pers di Kuala Lumpur yang dihadiri segelintir wartawan Indonesia
Gus Dur mengatakan, "Saya tidak begitu setuju dengan sekularisme, tetapi
belum tentu sekularisme itu jelek."
Di negara-negara yang pemerintahannya sangat "alergi" terhadap
wartawan-seperti di Laos, Kamboja, dan Vietnam-Gus Dur dengan "enteng"
mengadakan jumpa pers. Jumpa pers itu ia lakukan di tempat menginapnya di
istana, wisma negara, atau ruang VIP bandar udara. Di Laos, ia menyampaikan
kepada wartawan tentang cita-cita keterbukaan dan pasar bebas bagi
negara-negara ASEAN. Dengan keterbukaan, katanya, kualitas kehidupan akan
menjadi tinggi.
Dalam jumpa pers, Gus Dur selalu menyelipkan kalimat jenaka. Tetapi tak
jarang pula ia mengecam wartawan yang pertanyaannya terlalu bodoh. Seorang
wartawati Manila berujar, "Luar biasa orang ini, tetapi bagaimana dengan
kesehatannya."
Menurut putri kedua Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh Rahman (Yenny),
"Perjalanan ke luar negeri ini tidak seberat perjalanan Gus Dur di masa
kampanye pemilihan umum yang lalu, padahal saat itu fasilitasnya masih
bersifat umum."
Bukan hanya Gus Dur yang berelasi hangat dengan wartawan dalam perjalanan
ini. Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid pun secara mendadak bersedia
diwawancarai wartawan di pesawat terbang. Dengan keadaan begini, Menlu Alwi
Shihab yang dekat dengan Gus Dur berseloroh, "Karena Gus Dur sering memberi
jumpa pers, saya jadi tidak laku." (osd)
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!